Melindungi Anak dari Kejahatan dan Kekerasan adalah Tugas Kita Semua!

child protection

child protection

Sering sekali kita mendengar berita di Koran, internet maupun televisi tentang kasus kekerasan, perlakuan salah, eksploitasi dan penelantaran pada anak. Kasus yang paling mencuat di tahun ini adalah kasus di JIS (Jakarta International School (kejahatan seksual anak TK), Emon (sodomi anak) dan Samuel (panti asuhan). Pada pertengahan bulan Juni 2014, Direktur Komnas Perlindungan Anak,  Arist Merdeka Sirait, dalam suatu workshop bertema Pelayanan Terpadu untuk Penanganan Kekerasan terhadap Anak di Kupang-NTT, memaparkan data kasus kekerasan yang dihimpun oleh Komnas Perlindungan Anak sampai bulan April 2014 di Indonesia sebagai berikut:

Tahun 2010     :  2.046  Kasus

42 %  :  Kejahatan Seksual

T ahun 2011    :  2.426  Kasus

58 %  :  Kejahatan Seksual

Tahun 2012     :  2.637  Kasus

62 %  :  Kejahatan Seksual

Tahun 2013     :  3.339  Kasus

52 % :  Kejahatan Seksual

Tahun 2014 (Jan-April)             : 600 kasus (876 korban)

137 Kasus :  Pelaku Anak

82 % korban  dari keluarga menengah bawah

10 dari Kejahatan Seksual, 6 diantaranya INCEST!

Dan dari lingkungan mana saja para predator terutama untuk kejahatan seksual yang memangsa anak itu berasal? Lingkungan rumah (Ayah/Bapa kandung/tiri, Abang/kakak, paman, Tukang kebun, Sopir Jemputan dan Kerabat Dekat Keluarga), lingkungan sekolah  (Guru Reguler, Guru Spiritual, Penjaga Sekolah, Keamanan Sekolah, penjaga sekolah, Tukang Kebun dan pengelola sekolah), lingkungan sosial (Tetangga, Pedagang Keliling, Teman sebaya) dan lingkungan panti (Pengelola panti, pengasuh, sesama anak asuhan Panti)

Yang paling banyak terjadi saat ini adalah kasus kejahatan seksual terhadap anak, yang sebarannya meluas dapat terjadi di desa dan di kota. Sebaran Kasus Kejahatan Seksual terhadap anak masif (terjadi di desa dan kota), Lingkungan terdekat anak, Rumah, Sekolah, dan Lingkungan Sosial Anak Seperti Panti Asuhan maupun Sekolah Berasrama, contohnya seperti yang disebutkan diatas, JIS, Emon dan Samuel. Kasus-kasus ini merupakan fenomena gunung es!

Saat ini, tidak ada lagi tempat aman bagi anak-anak kita. Dulu dianggap tempat paling aman untuk anak, yaitu keluarga, saat ini tidak lagi. Semua orang dan orang yang paling dekat dengan anak, dapat menjadi predator anak.

Tidak ada tempat yang aman bagi anak? Bukankah kebanyakan kasus-kasus terutama kekerasan/kejahatan seksual, orang-orang terdekatlah yang menjadi pelakunya. Bisa jadi dia ayah tiri, ayah kandung, paman, bibi, tetangga, guru, kepala sekolah, guru ngaji, pendeta, dan banyak lainnya. Siapa kemudian yang dapat melindungi anak-anak kita ini?

Mengapa hal ini bisa sampai terjadi di negara kita dan berlarut-larut pula? Ada beberapa sebab antara lain:

  • Penegakan hukum kejahatan seksual terhadap anak belum menunjukkan keberpihakan terhadap anak sebagai korban. Aparat penegak hukum masih mengunakan kaca mata kuda dalam menangani perkara kejahatan dan kekerasan seksual terhadap anak. Putusan Hakim dalam perkara kejahatan seksual masih belum mencerminkan rasa keadilan bagi korban.
  • Fakta menunjukkan bahwa masih banyak hakim memutuskan BEBAS bagi para pelaku kejahatan seksual terhadap yang dilakukan orang dewasa, contohnya seperti yang terjadi di Pengadilan Labuhan Batu, Pengadilan Negeri Medan dan Pengadilan Negeri Tapanuli Utara,dengan alasan tidak cukup bukti,  sementara UU RI. No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak mensyaratkan hukuman bagi pelaku kejahatan seksual minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun. Namun justru masih banyak hakim memutuskan perkara tidak maksimal dan tidak berkeadilan bagi korban.
  • Merajalelanya pengaruh tontonan pornogarfi dan porno-aksi yang mudah diakses masyarakat. Pornografi dan porno aksi telah menjadi adiksi  dan penyakit yang harus disembuhkan bagi pelanggannya.
  • Runtuhnya ketahanan keluarga atas nilai-nilai agama, sosial, etika moral serta degradasi nilai solidaritas antar sesama,
  • Pengaruh gaya hidup yang tidak diimbangi dengan kemampuan
  • Budaya Permisif
  • Sikap Feodal (di ujung Rotan ada Emas)

Kemudian, bagaimana kita dapat mengatasi permasalahan yang kompleks ini?

Sampai saat ini yang semestinya kita lakukan bersama adalah memperkuat lingkungan yang melindungi anak dengan cara membangun sistem perlindungan anak berbasis masyarakat dengan 4 komponen:

  1. Membangun kesadaran di lingkungan masyarakat, jika masyarakat (di desa maupun di kota) mengerti pentingnya perlindungan anak di lingkungan mereka, dan mampu memahami persoalan perlindungan anak dan berdapaya untuk melakukan tindakan untuk mencegah dan menangani.
  2. Membangun mekanisme pelaporan, rujukan dan penanganan di tingkat masyarakat terbawah (tingkat RT/RW, dusun) sehingga anak dan keluarga mengetahui bagaimana mendapatkan pertolongan pada saat anak mengalami kekerasan/kejahatan.
  3. Mendukung keluarga-keluarga rentan, melihat data yang dipaparkan diatas, banyak kasus kekerasan terhadap anak (82%) dari kalangan menengah kebawah. Yang artinya kita perlu memberikan intervensi dini khususnya bagi keluarga dan anak-anak rentan ini sehingga mereka berdaya dan mampu melindungi anak-anak mereka.
  4. Membangun keterampilan hidup anak, dalam hal ini memberdayakan anak –anak dan remaja dalam hal meningkatkan pengetahuan dan kemampuan untuk dapat melindungi diri mereka dan kemudian mereka dapat juga melindungi teman-temannya.

Jika kita mampu membangun dan memperkuat lingkungan kita untuk melindungi anak-anak kita, kita dapat meminimalisir kekerasan, perlakuan salah, eksploitasi serta penelantaran terhadap anak di sekitar kita. Strategi dan proses membangun sistem perlindungan anak berbasis masyarakat seperti yang dipaparkan diatas tidak dapat dilakukan sendiri atau satu pihak saja, melainkan harus melibatkan seluruh elemen masyarakat, menjadi satu komitmen bersama, komitmen bangsa untuk menyelematkan anak-anak kita.

Lingkungan layak anak, dimulai dari rumah kita sendiri. Mari kita menentang kejahatan terhadap anak Indonesia. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Dari Bumi Nusa Cendana, Kupang

menjelang petang

diposting pertama kali disini

love our children

love our children

Mencari Titik Temu antara Hukum Negara dan Hukum Adat (Kasus Kekerasan Anak) di NTT

anak-anak NTT sedang menari tarian manekat. sources: http://www.mongabay.co.id/tag/masyarakat-adat-barambang-katute/

anak-anak NTT sedang menari tarian manekat. sources: http://www.mongabay.co.id/tag/masyarakat-adat-barambang-katute/

Adat merupakan suatu peraturan, kebiasaan-kebiasaan yang tumbuh dan terbentuk dari suatu masyarakat atau daerah yang dianggap memiliki nilai dan dijunjung tinggi serta dipatuhi masyarakat dimana adat tersebut tumbuh dan berkembang. Di Indonesia aturan-aturan tentang segi kehidupan manusia tersebut menjadi aturan-aturan hukum yang mengikat yang disebut hukum adat. Adat telah melembaga dalam kehidupan masyarakat, baik berupa tradisi, seremoni dan lain-lain yang mampu mengendalikan perilaku warga masyarakat dengan perasaan senang dan bangga, dimana tokoh adat yang menjadi tokoh masyarakat menjadi penting.

Istilah lembaga adat merupakan dua rangkaian kata yang terdiri dari kata “lembaga” dan “adat”. Kata lembaga dalam bahasa inggris disebut Institution yang bermakna pendirian, lembaga, adat dan kebiasaan. Dari pengertian literal ini, lembaga dapat diartikan sebagai sebuah istilah yang menunjukkan kepada pola perilaku manusia yang mapan berupa interaksi sosial yang memiliki struktur tertentu dalam suatu tatanan nilai yang diterima secara sukarela oleh semua warga masyarakat.

Lembaga adat hadir di suatu komunitas adat dalam masyarakat yang masih menjunjung tinggi norma atau hukum adat setempat yang merupakan warisan dan tradisi nenek moyang mereka. Indonesia merupakan Negara yang menganut pluralitas di bidang hukum, dimana diakui keberadaan hukum barat, hukum agama dan hukum adat. Dalam prakteknya (deskritif) sebagian masyarakat masih tunduk pada hukum adat untuk mengatur ketertiban dalam masyarakat. Hukum adat merupakan salah satu sistem hukum diakui di Indonesia kebanyakan bersumber dari peraturan-peraturan tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang dan dipertahankan. Hal ini sejalan dengan ketentuan Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia pasal 6 ayat (1) dan (2) yang menyatakan bahwa:

(1)  Dalam rangka penegakan hak asasi manusia, perbedaan dan kebutuhan dalam masyarakat hukum adat harus diperhatikan dan dilindungi oleh hukum, masyarakat, dan Pemerintah.

(2)  Identitas budaya masyarakat hukum adat, termasuk hak atas tanah ulayat dilindungi, selaras dengan perkembangan zaman.

Dengan demikian, hukum adat serta kedudukan lembaga-lembaga adat di provinsi NTT diakui hukum positif kita. Lembaga adat yang masih hidup dan berkembang di sebagian masyarakat Indonesia termasuk di provinsi NTT bertujuan untuk menegakkan hukum adat yang secara garis besar terbagi dalam tiga kelompok, yaitu:

  • Hukum adat mengenai Tata Negara
  • Hukum adat mengenai warga (hukum pertalian sanak, hukum tanah, hukum perhutangan)
  • Hukum adat mengenai delik (hukum pidana) atau biasa disebut hukum pidana adat

Prinsip dasar dalam penyelesaian kasus secara hukum adat adalah untuk menciptakan suatu kondisi yang aman, tentram dan damai bagi masyarakat adat. Dalam pandangan hukum adat bahwa suatu kasus pidana adat merupakan suatu peristiwa yang merusak tatanan nilai yang mengganggu keamanan, ketentraman dan kedamaian suatu masyarakat karena itu harus diselesaikan secara hukum adat maka kasus tersebut dianggap tidak pernah terjadi dan setiap anggota masyarakat hukum adat dilarang untuk membicarakan kasus tersebut.

Perlu disadari pula bahwa masyarakat hukum adat tidak bersifat statis tetapi harus berkembang dan terbuka bagi dunia luar serta semakin meningkatnya kesadaran hukum masyarakat yang memahami bahwa akibat dari suatu perbuatan pidana adat dapat menimbulkan dampak negatif bagi korban yang dapat mempengaruhi kehidupan sosial korban sehingga dalam kasus-kasus tertentu yang mempunyai dampak negatif yang kuat bagi korban mestinya tidak hanya diselesaikan secara adat tetapi harus diproses sesuai hukum positif yang berlaku.

Nusa Tenggara Timur, sebagai salah satu provinsi yang wilayahnya terdiri dari berbagai kepulauan dan keberagaman suku yang mendiami provinsi ini, yang masih mengakui dan menerapkan hukum adat sebagai norma yang berlaku dan dijunjung tinggi keberadaanya di segala aspek kehidupan masyarakat.  Hal tersebut dapat tergambarkan dengan masih hidupnya berbagai upacara adat baik menyangkut pernikahan hingga kematian di beberapa wilayah kabupaten Nusa Tenggara Timur terutama di wilayah Timor NTT.

Pada tataran penyelesaian sengketa (hak) dan delik (pidana) peran lembaga adat masih terlihat dengan dilibatkannya tokoh adat agar mendamaikan kedua belah pihak beserta sanksi (denda) yang diterapkan pada pihak yang dianggap merugikan atau mencelakakan pihak lainnya.

Berbagai macam kasus yang diselesaikan melalui lembaga adat diantaranya ialah penyelesaian kasus kekerasan terhadap anak baik secara psikis maupun fisik dengan menerapkan hukum adat yang berlaku terhadap pelaku. Kekerasan anak yang terjadi di provinsi Nusa Tenggara Timur dapat dilihat dari data Kasus kekerasan anak. Kekerasan anak tahun 2013 marak terjadi pada bulan Mei, Agustus, September dan Nopember. Kota Kupang dengan jumlah kasus baru berupa kekerasan fisik yaitu 338 kasus dan psikis sebanyak 65 kasus dan menurut jenis kekerasan seksual sebanyak 118 kasus.  Sumber Biro Pemberdayaan Perempuan Setda Provinsi NTT menyebutkan bahwa jumlah kasus baru menurut tempat kejadian tahun 2011 sebanyak 347 kasus terjadi dalam rumah tangga di Kota Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Utara sebanyak 100 kasus. Sedangkan sebanyak 245 kasus terjadi ditempat lain.

Umumnya, kekerasan pada anak terjadi baik dalam keluarga maupun diluar lingkungan keluarga dan sangat tergantung terhadap perilaku dan kesempatan bagi pelaku untuk melakukan. Dengan lain kata, semakin lemahnya pengawasan orang tua maka akan semakin membuka peluang bagi anak terjerumus kedalam pergaulan bebas dan mengakibatkan anak bisa menjadi korban maupun menjadi pelaku. Sebaliknya, jika dalam keluarga terjadi konflik rumah tangga maka anak akan mudah terjerumus kedalam kelompok karena merasa tidak aman di rumah.

Berbagai data yang terkait pada permasalahan kekerasan anak di atas merupakan permasalahan yang nyata dan terjadi di provinsi Nusa Tenggara Timur. Data pada sebagian kasus di atas beberapa diselesaikan dengan menggunakan lembaga adat yang berlaku di masyarakat. Banyak kasus kekerasan terhadap anak saat ini diselesaikan oleh masyarakat secara ‘adat’ dan denda menjadi point penting dalam penyelesaian masalah kekerasan anak ini. Kebanyakan denda akan mengacu pada ‘menutup malu keluarga’. Jumlahnya bervariasi sesuai kesepakatan, namun sampai saat ini sejauh pengamatan, besarnya denda masih kalah jauh dengan besarnya ‘Belis’ jika seseorang menikah. Dan, posisi si anak sebagai korbanpun sering tidak diperhitungkan, seperti bagaimana kondisi fisik dan psikisnya, Apa yang akan terjadi di masa depannya nanti (terutama jika korban adalah anak perempuan). Rata-rata hukum adat akan menerapkan hukum jika sudah diputuskan maka tidak boleh lagi warga membicarakan apalagi mengungkit masalah tersebut. Bisa dibayangkan bagaimana kehidupan si anak.

Dengan melihat peran lembaga adat khususnya pada penanganan permasalahan anak maka dibutuhkan lembaga adat yang berkedudukan sebagai mitra pemerintah dan lembaga yang berfokus pada anak seperti  LSM atau institusi yang mengabdikan diri untuk kesejahteraan anak lainnya, baik pada skala nasional hingga daerah diluar susunan organisasi pemerintah yang memiliki fungsi menjadi fasilitator dan mediator dalam penyelesaikan perselisihan yang menyangkut adat istiadat dan kebiasaan masyarakat terkait kasus kekerasan yang terjadi pada anak.

Selain itu penting juga dalam memberdayakan, mengembangkan dan melestarikan adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat dalam rangka memperkaya budaya daerah sebagai bagian yang tak terpisahkan dari budaya nasional dan hukum nasional yang berlaku.

Diperlukan juga wawasan dan cara pandang para tokoh adat dalam melindungi hak anak sebagai korban kekerasan dengan memahami perkembangan hukum negara dimana landasan sosiologis melihat anak sebagai masa depan bangsa sehingga penanganan permasalahan anak lebih kompleks dan melibatkan banyak aspek yang akan mempengaruhi masa depan anak tersebut.

Berikan kesempatan bertumbuh dan berkembang yang sebaik-baiknya bagi anak-anak kita khususnya di daerah NTT ini, semoga yang kita lakukan ini merupakan kepentingan terbaik bagi anak NTT. Masa depan NTT ada di tangan mereka.

Kupang, awal November 2014.

Remy Sylado: INDONESIA: MAKIN JAUH API DARI PANGGANG

Hari Sumpah Pemuda 2014

Hari Sumpah Pemuda 2014

Pengantar:

Sudah lama sekali saya tidak menulis tentang sastra disini (atau di blog-blog lainnya) tentang sastra ataupun kebudayaan, Tapi tadi malam, saya membaca tulisannya om Remy Sylado, sang budayawan Indonesia ini, isinya sangat kritis tapi juga menarik. Sayang kalau cuma diposting di facebook, sehingga saya copas untuk dibaca teman-teman lain juga disini. 

Semoga tulisan ini dapat membuka wawasan kita tentang budaya Indonesia kekinian yang semakin jauh melenceng dari cita-cita para pendeklarasi Hari Soempah Pemoeda 1928 dulu….

Merdeka!

INDONESIA: MAKIN JAUH API DARI PANGGANG

Oleh: Remy Sylado

sebuah pengantar kritis pada Hari Sumpah Pemuda, bersamaan dengan deklarasi dibentuknya Dewantara Cultural Center, Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 28 Oktober 2014.

Puan-Puan dan Tuan-Tuan.

Terlebih dulu, saya mohon maaf, dan berharap mau dimengerti, bahwa catatan tentang pemikiran kebudayaan nasional yang akan saya bacakan sekarang ini, mungkin berbeda dengan pandangan umum yang kepalang berlaku. Dalam pikiran saya, pemikiran kebudayaan nasional yang ideal mencitrai zaman yang berjalan, seyogyanya berlandas pada kemauan merombak dan menata tradisi, yaitu ‘membuang’ leluri dari lingkung sendiri yang buruk-buruk, sambil ‘mengambil’ leluri dari luar yang bagus-bagus lalu menjadikannya sebagai wujud kemempelaian tamadun yang damai sejahtera.
Menurut saya, hal itu sebenarnya sederhana, tapi tidak berarti sepele sebab, manakala sebuah tradisi telah menjadi sebuah moralitas statistik yang berbelit-belit, maka ikhtiar ‘membuang’ dan ‘mengambil’ dalam membangun kebudayaan nasional yang mencitrai zaman, memang merupakan masalah tersendiri yang ternyata pelik tapi toh mesti ditangani dengan nalar yang cendekia, bertolak dari nurani yang mukhlis.

Dalam konteks mengacu inklanasi ‘membuang’ dan ‘mengambil’ tradisi untuk mencapai suatu kebudayaan kebangsaan yang katakanlah baru dan damai sejahtera, maka izinkan saya memulai tegur-sapa saya kepada Anda, Puan-Puan dan Tuan-Tuan, dengan salam damai sejahtera yang menurut saya paling pas, dan akan saya ucapkan nanti
Sebagai orang Indonesia yang Nasrani, saya tidak memberi salam dengan kata ‘shalom’ sebagaimana sudah dipakai dengan salahkaprah dan jemawa oleh Kristen-Kristen Indonesia umumnya sepanjang 10 tahun terakhir ini.

Terusterang, saya tidak tahu, ilusi apa yang ada dalam pikiran Kristen-Kristen Indonesia menggunakan kata ‘shalom’ sebagai sapaan ekumene. Sebab, ‘shalom’, dalam bahasa Ibrani yang dipakai kalangan Yahudi di Israel saat ini, sangat umum, dan tidak ada hubungannya dengan sejarah kekristenan. Jika kedudukan kata ini adalah partikel, maka kata ini pun lazim diucapkan di telefon sebagai ganti ‘hallo’. Artinya, ‘shalom’ sebagai partikel, dan partikel adalah kata gramatikal yang tidak mengandung makna leksikal, di konteks ini semestinya dianggap pula tidak injili. Lagipula, Injil sendiri memang tidak ditulis dengan bahasa Ibrani, melainkan Yunani.

Tapi, memang kitab-kitab para nabi Yahudi, mulai dari Nabi Musa, Nabi Yesha’yahu, Nabi Yirmeyahu, Nabi Yehezq’el, sampai Daud yang menulis “Mitsmor” dan putranya Sulaiman yang menulis “Qoheleth” – yang oleh pihak Kristen dijadikan sebagai pusaka gerejawi – aslinya adalah bahasa Ibrani, digabung dengan surat-surat Injil yang berbahasa Yunani, lantas diterjemahkan ke bahasa Melayu oleh Leijdecker di Batavia, dan diterbitkan di Amsterdam 1733. Kitab terjemahan bahasa Melayu dari sumber Ibrani dan Yunani itu, dapat dikatakan sebagai wujud akulturasi dari tamadun baca-tulis berhuruf Arab gundul ke huruf Latin.

Maaf, saya merasa harus mengurai sedikit, tapi barangkali bakal terulur panjang keterangannya, soal acuan kebahasaan pada kata ‘shalom’ – meliputi historisnya dari sumber filologi atas telaah literal, vernakular, dan linguistik – senyampang sekarang kita pas berada di tanggal 28 Oktober, hari pentingnya bangsa Indonesia mencetuskan bahasa kebangsaannya.

Sebagai orang yang belajar bahasa Ibrani di satu pihak dan bahasa Yunani di lain pihak, saya tahu, bahwa kata ‘shalom’ dalam bahasa Ibrani, sebagaimana yang tersua di beberapa kitab nabi-nabi Israel, memiliki sekurangnya tiga distinksi maknawi yang khas. Jadi, dengan itu, ‘shalom’ bukan hanya merupakan satu saja klasifikasi diksi sebagai pertikel, tapi juga sebagai nomina, sebagai adjektiva, dan sebagai adverbia. Misalnya, contoh ‘shalom’ sebagai nomina tersua dalam kitab Nabi Musa yang pertama, “Bereshith” (terjemahan Inggrisnya: “Genesis”, dan terjemahan Indonesianya “Kejadian”) pada pasal 15 ayat 15. Kemudian, ‘shalom’, sebagai adjektiva tersua dalam kitab Nabi Yesha ‘yahu pasal 25 ayat 37. Dan ‘shalom’ sebagai adverbia tersua dalam kitab Nabi Samuel yang pertama pasal 16 ayat 4.
Kesimpulannya, jelas, bahwa ‘shalom’ bukan cuma partikel dalam kasad interjeksi atau seruan damai seperti dipakai secara salahkaprah oleh Kristen-Kristen di Indonesia akhir-akhir ini. Tampaknya Kristen-Kristen Indonesia ‘cemburu’ (dalam tandapetik) pada Islam yang memiliki salam damai dengan bahasa Arab berupa kalimat populer “Assalamualaikum wa ramatullahi wa barakatuh”. Padahal, kalau Kristen-Kristen Indonesia mau sedikit berpelik-pe1ik membaca Injil dalam teks asli Yunani, maka sinonimnya dengan kalimat populer bahasa Arab itu, tersua juga di dalan Injil, yaitu pewartaan Lukas, di pasal 2 ayat 28, dalam bahasa Yunaninya adalah “Khaire, kekharitomene ho Kyrios meta sou”. Kalimat ini diucapkan oleh Jibrail kepada perawan Maria nan zakiah ketika malaikat itu mengabarkan tentang kelahiran Almaseh Isa dari rahimnya.

Puan-Puan dan Tuan-tuan.

Supaya saya tidak ikut-ikutan ketularan rancunya cara pikir Kristen-Kristen Indonesia menyalami dengan bahasa Ibrani, shalom, maka sebagai orang Indonesia sekaligus orang Kristen, saya memilih kata salam yang memiliki arti perjuangan bangsa menjunjung harkat-martabat, yaitu kata: merdeka.

Merdeka!

Baik.

Tapi, apa arti merdeka?

Ketika kita masih dijajah Belanda dan berlanjut ditindas pula oleh Jepang pada masa Perang Dunia II, pekik merdeka berarti perjuangan untuk membebaskan diri dari penindasan bangsa asing terhadap kebangsaan kita yang bhinneka tunggal ika. Tapi sekarang, setelah kita melewati proklamasi 17 Agustus 1945 dan berlanjut dengan penyerahan kedaulatan terhitung 1 Januari 1950, maka merdeka sebagai adjektiva dalam pamrih politik, rasanya harus dikaji ulang berhubung dalam realitas yang kasatmata saat ini telah terbit prasangka ditambah rasa tidak percaya pada kesungguhan pemerintah menata keutuhan bhinncaka tunggal ika tersebut.
Masalahnya, Puan-Puan dan Tuan-Tuan, kemerdekaan dalam arti sederhana, namun mustahak, termasuk merdeka berpikir, merdeka menyatakan pikiran, serta merdeka memilih keyakinan untuk suatu wilayah eskatologis tentang kehidupan kekal di seberang ajal dengan satu Tuhan yang maha esa, belakangan ini kian rusak oleh pemaksaan kehendak disertai tindakan curang yang dilakukan oleh pemerintah, dengan membiarkan gerombolan fanatik mengacak kerukunan.

Saya rasa, kesalahan itu berpangkal pula pada pembingkaian pemerintah sejak Orde Baru dan tetap berlanjut hingga kini di konon Era Reformasi, yang terlalu sederhana mengartikan praktik apa yang dianggap ideal pada isyarat menjunjung adat musyawarah-mufakat dengan aci-aci “menyamakan persepsi”. Menurut saya frasa ‘menyamakan persepsi’ sebenarnya rancu dan menggantang asap. Mana mungkin persepsi yang dihubungkan dengan potensi rohani seseorang di bawah kodrat insani yang niscaya berbeda-beda, hendak direka menjadi satu di bawah semboyan politik yang diterima dengan rasa takut karena bayang-bayang tindakan anarkis gerombolan fanatik tersebut yang notabene dibiarkan oleh pemerintah.

Menyamakan persepsi sendiri dalam kerangka politik untuk memutuskan sesuatu yang demokratis, barangkali memang laras. Tapi masalahnya, dalam praktik, selalu tidak sepi terjadi bahwa di dalam ikhtiar “menyamakan persepsi” itu berlangsung pembingkaian visi berlatar selera untuk menjadikan rakyat sebagai kambing congek yang bisa bertindak masinal dengan model kor unisono.

Dengan begitu, saya melihat dengan hati bahwa semboyan “menyatukan persepsi” karuan harus disimpulkan sebagai tindakan pemerkosaan terhadap hak asasi. Dasarnya, jika kita mau sedikit bersikap semadyanya menerima bacaan-bacaan samawi tentang pewartaan kitabiah akan manusia pertama Adam & Hawa, niscaya di situ kita bisa menyimak pegangannya bahwa generasi kedua Qabil & Habil, dilahirkan dengan kodrat berbeda, bakat berbeda, dan nasib berbeda.

Puan-Puan dan Tuan-Tuan.

Saya ingin ajak kita menyimpulkan dengan sederhana, dan itu tidak berarti sepele, bahwa ekses dari “menyamakan persepsi” lebih jauh telah ikut mendorong pikiran-pikiran sempit seputar SARA untuk menjadikan Indonesia bukan lagi bhinneka tunggal ika tapi terbalik menjadi ika tunggal bhinneka, mengganti kalimat “tan hana dharma mangrwa” menjadi “awasya hana dharma adwaya”.

Simpai ke arah itu terbaca dalam gelagat pemerintah mengeluarkan ‘SKB 2 Menteri’: Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri nomer 6 tahun 2006, yang menyebabkan gerombolan-gerombolan fanatik bertindak anarkis – dan ironisnya pemerintah membiarkan – menghancurkan rumah-rumah ibadah milik Kristen di satu pihak dan milik persekutuan Ahmadiyah di lain pihak. Maka, tak pelak, melihat mudarat yang timbul akibat ‘SKB 2 Menteri’ itu, saya rasa dalam pemerintah Jokowi sekarang harus segera dicabut SKB 2 Menteri itu. Sebab nyatanya ‘SKB 2 Menteri’ itu diskriminatif dan 100% merusak kerukunan bhineka tunggal ika.

Di masa pemerintahan SBY, terang kita melihat dalam rekaman televisi, dan disiarkan ke seluruh dunia, bagaimana gerombolan-gerombolan fanatik mengamuk dan merusak di beberapa lokasi. Dan ironisnya pula, malahan SBY menerima anugrah World Statesman Award dari Appeal of Concience Foundation yang diserahkan oleh bekas Menlu AS Henry Kissinger, karena alasan sanggupnya Pak Presiden mempromosikan kebebasan beragama dan menjaga toleransi antarumat di Indonesia. Aibnya, di saat yang berhampiran terjadi teror terhadap golongan Syiah di Madura, setelah sebelumnya perusakan rumah-rumah penduduk Ahmadiyah di Lombok, serta pembunuhan pendeta yang sedang berkhutbah di mimbar gereja sebelum gerejanya sendiri dihancurkan di Sulawesi.

Puan-Puan dan Tuan-Tuan.

Sekadar seloroh untuk rengendorkan kerut-kerat di dahi, izinkan saya mengutip bagian epilog novel saya “Malaikat Lereng Tidar” terbitan KOMPAS berikut ini:

Konon burung gereja melarikan diri ke hutan, tidur di sarang burung garuda. Burung garuda marah pada burung gereja.

Kata burung garuda, “Kenapa kamu ke hutan sini menumpang di sarangku?”

Jawab burung gereja, “Sarangku di kota sudah tidak ada lagi.”

“Lo, ada apa?” tanya burung garuda.

“Gereja yang selama ini menjadi sarangku sudah dibom, dibakar, dihancurkan, dan negara absen. Akibatnya aku tidak pantas lagi disebut ‘burung gereja’,” kata burung gereja.

“Tapi, dengan berada di sarang burung garuda, kamu tidak mungkin mengubah kodratmu untuk menjadi seperti aku. Kodratmu hanya memakan biji-bijian, sedang aku memakan daging.” kata burung garuda.

“Jadi apakah kamu akan memakan aku?” tanya burung gereja.

“Memakan kamu? Ha-ha-ha. Rugi. Dagingmu terlalu kecil, tanggung, hanya membikin slilit, tai gigi,” kata burung garuda.

Yang ingin saya gambarkan di atas, memang adalah negara selalu absen di saat rakyat – terutama dari golongan apa yang disebut nonpri atau minoritas – membutuhkan pegangan kepastian hukum terhadap semua warganegara. Yang namanya warganegara, adalah semua orang dengan surat-surat resmi kenegaraan, tanpa mempersoalkan pri dan nonpri. Sebab, yang namanya pri pun asalnya juga adalah imigran yang datang dari 1uar, dan menempati Nusantara ini.

Saya bertanya: kenapa pula kita awet berprasangka rasial melulu hanya terhadap etnis Cina, dan bukan terhadap juga etnis Arab. Jika ini timbul karena alasan agama, maka sayang sekali kita lupa pada sejarah, bahwa sebelum syiar agama Islam yang dilakukan oleh para walisanga, telah datang terlebih dulu di sini seorang bahariwan besar Cina, Ceng Ho yang diutus oleh Kaisar Ming, Yung Lo, untuk memperkenalkan Islam kepada bangsa Jawa.

Di samping itu, pertanyaan kita sekarang, kalau hendak melihat etnis Cina sebagai nonpri, mestinya harus juga memasukkan etnis Arab sebagai nonpri. Sebab, dulu, ketika Belanda mempraktikkan politik ‘divide et impera’ demi menjaga ‘status quo’ apa yang dicangangkannya sebagai Pax Neerlandica, maka melalui Regeringsreglement 1854, status golongan etnis Cina dan etnis Arab sama-sama dimasukkan dalam kelas vreemde oosterilingen.
Saya anggap sikap rasis dari sebagian golongan masyarakat yang menamakan diri secara ngawur sebagai pri, dengannya menunjukkan sekaligus bukti betapa ketidaksungguhan pemerintah merawat bhinneka tunggal ika. Kita menyimak sikap-sikap rasis belakangan ini mulai dari masa kampanye wagub untuk Ahok sampai Ahok menjadi gubernur, dipertontonkan oleh gerombolan fanatik di kaca televisi, bukan hanya dengan kata-kata kasar yang tidak sopan, tapi juga dengan tindakan yang liar, yang dalam bahasa ibu saya Minahasa adalah ‘kelewawi’. Karuan, layak bagi orang-orang yang ingin melihat kedamaian di Indonesia, termasuk saya, merasa sulit bersimpati terhadap gerombolan perusuh yang memakai alasan pembelaan agama untuk mencederai keutuhan bhinneka tunggal ika.

Puan-Puan dan Tuan-Tuan

Tentu saja budaya kekerasan yang lahir dari latar rasis seperti itu, bukanlah tamadun ideal yang kita harapkan maujud di Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan nasional. Sementara kenyataan akan adanya luka dan borok itu dalam realitas Indonesia kiwari, tentulah mesti diperbaiki dan disembuhkan oleh pendidikan dan pengajaran kebudayaan yang terbuka. Dan itu memang adalah tanggungjawab pemerintah yang punya wewenang serta uang.

Dalam hubungan ini, baguslah diingat warisan pikiran Ki Hajar Dewantara yang cucu Raja Jawa Paku Alam III, tentang konsep pendidikan kebudayaan. Dalam orasinya di hadapan gurubesar-gurubesar UGM pada hari Dies Natalis ke-7, 19 Desenber 1956, Ki Hajar Dewantara berkata setelah mengutip karya adiluhung Sultan Agung, “Serat Sastragending”, bahwa “…pendidikan adalah tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan…bahwa kemerdekaan Nusa dan Bangsa untuk mengejar keselamatan dan kebahagiaan rakyat tidak mungkin tercapai hanya dengan jalan politik…bahwa untuk dapat bekerja di sawah dan ladang dengan tenteram dan seksama, yakni tugas para pendidik dan para pejuang kebudayaan…”

Sekarang, apa yang bisa kita harapkan dari pemerintah yang baru di bawah Jokowi. Dalam pidato kepresidenannya di sidang majelis yang disaksikan seluruh rakyat melalui siaran-1angsung televisi, Jokowi menyerukan program kerja keras untuk pembangunan Indonesia, menyebut beberapa ladang, termasuk hebatnya tukang bakso, tapi aneh bin ajaib tidak menyinggung pembangunan kebudayaan. Rupanya di mata Jokowi bakso lebih mulia ketimbang kebudayaan.
Tapi memang perhatian presiden pertama, presiden keenam, dan presiden ketujuh ini beda-beda. Yang pertama menyerukan pembangunan kebudayaan nasional dengan menggilas kebudayaan Amerika, antaralain musik pop yang disebutnya ngak-ngik-ngok cengeng. Lalu presiden keenam malah menjadi pelaku musik pop yang cengeng itu. Dan entah bagaimana dengan Presiden ketujuh ini. Ia penggemar ‘heavy metal’. Dan barangkali juga bakso.

Puan-Puan dan Tuan-Tuan.

Saya rasa, keadaan kebudayaan Indonesia ke depan, dengan menyebut salahsatu sumbu yang paling ampuh, yaitu kesusastraan: karena dalam kesusastraan selain kita mengapresiasi bahasa Indonesia sebagai bahasa kebangsaan, kita juga mengapresiasi pikiran-pikiran kritis di bingkai estetis dalam ungkapan-ungkapan kreatif atas imaginasi yang lahir dari realitas negeri, realitas alami, dan realitas insani di atas pelbagai realitas lain. Langkah perdana untuk membangkitkan apresiasi itu adalah menata pendidikan dan pengajaran yang betul sekaligus modern atas pengertian tulen kebudayaan: mengubah kebiasaan cangkeman ke kebiasaan baca-tulis.

Gambaran memalukan yang sehari-hari bisa kita lihat di mana-mana saat ini, adalah masyarakat makin teranja-anja dengan budaya cangkeman dan asyik dengan itu, ketimbangan membaca. Di ruang-ruang publik pun tersedia pesawat-pesawat televisi, ketimbang rak-rak buku yang buku-bukunya bisa di baca sebebasnya. Tak heran di mana-mana kita melihat masyarakat terutama ibu-ibu, asyik menggunjingi tontonan sinetron sampah yang mereka nikmati dengan sukacita di televisi-televisinya.

Masyarakat yang menonton sinetron-sinetron sampah itu, tidak lagi punya cadangan nalar, bahwa dengan itu kadar intelektualitasnya dilecehkan. Sebab, coba saja bayangkan – ini saya ungkapkan pekan silam dalam kuliah umum di Fakultas Filsafat Unpar Bandung – betapa di dalam sinetron itu ditampilkan seorang peran ibu berumur 32 tahun yang sedang terbaring sakit di rumahsakit. Dalam keadaan sakit seperti itu tidak ketinggalan makeupnya stel kenceng: eyeshadow berwarna biru menyala buatan Paris, dilengkapi bulumata palsu tiga susun buatan Purwokerto. Lalu, datang putrinya menjenguknya. Putrinya berumur 23 tahun memakai ‘celana gemes’ dan bertutur dengan dialog bahasa Jakarté-an yang semua ejaan /a/ dilafalkan menjadi /é/.

Saya ingat diskusi kami di Pusat Bahasa (sekarang Badan Bahasa) antara saya yang bukan sarjana bahasa, dengan Prof. Anton M. Moeliono dan Prof. Amran Halim. Yang disebut terakhir ini mengatakan, bahwa rusaknya bahasa Indonesia, antaralain karena bahasa Jakarté-an, lewat sinetron-sinetron, telah menjadi semacam pengacu prayojana (‘trend setter’) yang menyesatkan bagi remaja-remaja.

Lalu saya ceritakan gurauan soal remaja dari Siborongborong yang kegilaan ber-Jakarté-ria. Baru sebulan tinggal di sekitar Matrama-Salemba, langsung tutur bahasanya berubah, melafal semua kata berhuruf /a/ menjadi /é/. Maka, ketika dia bermaksud berkata “Saya mau ke Majalaya menjemput Mama-Papa” dilafalkannya menjadi “Séyé méu ké Méjéléyé ngénjémput Mémék-Pépék”. Dia tidak tahu bahwa ‘mémék’ dalam bahasa Sunda sama dengan ‘pépék’ dalam bahasa Indonesia yang dicatat oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia, artinya ‘vagina’.

Puan-Puan den Tuan-Tuan.

Kembali ke topik budaya cangkeman yang menohok budaya tulis-baca yang justru merupakan roh kesusastraan sebagai bagian istimewa dan strategis dari kebudayaan nasional kita, maka saya kira ini saatnya presiden pilihan rakyat, Jokowi, bekerja keras untuk menata kembali pendidikan dan pengajaran kebudayaan nasional yang kadung menjadi anak tiri. Hal elok ini dulu digagas oleh Ki Hajar Dewantara, dan sempat diejawantahkan secara sederhana tapi riil oleh Daoed Joesoef melalui upaya merangsang semagat para pesastra untuk kreatif menulis sastra dengan imbalan yang lumayan bagus, bisa membeli lebih dari semangkok bakso.

Di luar itu, jika sastra dibaca awam – melalui bimbingan apresiasi yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan dan pengajaran kebudayaan pemerintah – otomatis yang lebih dulu merasa untung adalah penerbit yang mencetak karya sastra itu, serta tentu saja pesastranya sendiri yang memperoleh nafkah dari bukunya yang terjual dengan pengelolaan yang baik. Sampai hari ini kita memang belum melihat pesastra Indonesia yang bisa hidup dengan hasil karya sastranya.

Gambaran tragis yang bisa kita lihat dalam kegiatan pameran mobil dan pameran buku di sekitar Senayan yang kebetulan bersamaan waktunya adalah misalnya mobil yang berharga 200 juta rupiah bisa terjual 10 ribu unit dalam satu pekan, sementara buku yang berharga 200 ribu rupiah saja paling-paling terjual 10 eksemplar dalam dua pekan. Jadi, memang masyarakat kita sakit, mengukur harkat dari harta, dan martabat dari manfaat. Akibatnya, jangan heran korupsi tidak mungkin dibasmi. Yang sudah tervonis pun masih berani bilang: gantung gua di Monas.

Budaya apa itu namanya?

Maaf, barangkali itu yang disebut: berpenampilan seperti nabi tapi berkelakuan seperti babi.

Puan-Puan dan Tuan-Tuan.

Sebelum saya akhiri catatan saya ini, sekali lagi saya mau berkata bahwa sastra dapat mengobati masyarakat yang sakit. Hal itu dibuktikan oleh Lu Xin di Cina. Lu Xin belajar kedokteran di Jepang. Tapi, ketika dia kembali ke Cina, dan melihat masyarakatnya sakit, maka kata Lu Xin, untuk menyembuhkan masyarakat yang sakit, obatnya adalah sastra, yaitu harus membaca sastra. Demikianlah akhirnya dia menulis sastra dan disukai baik di negeri Cina Komunis, maupun Cina Kuomintang.

Mudah-mudahan angin membawa kata-kata ini ke istana presiden, supaya presiden segera bekerja keras membangun kebudayaan nasional lewat sastra dan boleh saja sembari makan bakso.

Sekarang ini, mestinya pemerintah malu, karena penghargaan sastra dengan sejumlah uang rupiah, malah setiap tahunnya diselenggarakan oleh swasta, baik penghargaan yang bernama Khatulistiwa Literary Award maupun Penghargaan Sastra Achmad Bakrie. (Kebetulan saya menerima penghargaan sastra dari kedua lembaga tersebut, dan saya anggap tidak ada alasan untuk menolak pemberian itu. Saya berpikir dengan sopansantun khas Melayu, bahwa jika seseorang memberi, maka saya mesti mengucapkan ‘terimakasih’, artinya menerima kasihnya. Dan kalau juga saya harus menanggapi ‘terimakasih’ itu, maka kata santun yang biasa diucapkan adalah ‘kembalikasih’. Sudah tentu, itu tidak berarti saya harus mengasih kembali pemberian penghargaan yang sudah saya terima).

Begitulah, Puan-Puan dan Tuan-Tuan.

Katakunci dari catatan saya ini adalah, dengan berbicara soal penataan pendidikan kebudayaan ke masa depan Indonesia yang damai sejahtera, gemah ripah loh jinawi, pakatuan wo pakalawiren, berarti dengannya kita mewawas suatu pemikiran baru tamadun yang laras dengan kepribadian, tapi tidak sertamerta berarti mutlak mempertahankan tradisi Timur secara babibuta, sebaliknya siap berprogres dengan perkembangan zaman yang melahirkan gagasan-gagasan modern yang melintas dari Barat. Ini buah pemikiran yang arif dan cendekia dari Ki Hajar Dewantara. Maka tepuktangan bagi Ki Hajar Dewantara.

Sebab kita tahu, banyak model tradisi lama yang tidak tahan kritik lagi di zaman yang berkembang ini. Jadi, dengan demikian berarti, kita pelihara yang baik dari tradisi lama tersebut, tapi juga membuang yang jelek-jeleknya, lalu mengambil yang praktis, pragmatis, benefisial dari luar, supaya dengan begitu kita mendapatkan satu bentuk kebudayaan berkasad kebangsaan tapi juga bersifat universal untuk disumbangkan bagi bangsa-bangsa di dunia.

Ambil contoh paling gampang soal penanganan sampah di Jakarta. Sulit mengubah kebiasaan buruk yang telah mentradisi di dalam masyarakat kita. Bolak-balik dikeluhkan soal kebiasaan masayarakat yang membuang sampah di sungai sehingga menyebabkan Jakarta selalu banjir; dan Jokowi sebagai gubernurnya waktu itu belum sempat membuktikan janjinya mengatasi banjir akibat sampah-sampah itu. Kebiasaan jelek membuang sampah di sungai terlestari dalam lagu tradisional dolanan lare yang malahan menganjurkan orang untuk membuang sampah di sungai. Kata-kata dalam ‘dolanan lare’ ini adalah sebagai berikut:

Eh dayohe teka, eh beberna klasa
Eh klasane bedhah, eh tambalen jadah
Eh jadahe mambu, eh pakakno asu
Eh asune mati, eh guangen kali
(Lha, iki, asu wae oleh diguak neng kali, opo neh sampah-sampah plastik).

Kesimpulannya, penanganan pendidikan dan pengajaran kebudayaan, akhirnya harus menyeluruh di segala bidang. Kalau pemerintah tidak menangani ini dengan serius, maka bukan hanya masyarakat saja yang sakit dan tersalahkan, tapi adalah juga pemerintahnya sendiri yang merupakan pasien berpenyakit paling menular yang harus disembuhkan.

Puan-Puan dan Tuan-Tuan.

Di akhir catatan ini, saya ingin mengingatkan kepada kita semua, nasihat cantik dari Ki Hajar Dewantara menyangkut pendidikan-pengajaran kebudayaan nasiona1 yang berharkat: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”.

Merdeka!

Hujan Ku sayang

the_girl_in_the_rain_by_best10photos

the girl in the rain

Ayo, cepetan dunk jalannya, udah mulai hujan nih… Begitu kata temanku cepat-cepat sambil membuka payungnya dan mengajakku lebih cepat berlari untuk menghindari hujan besar. Akupun dengan tenang, mengikuti langkah terbirit-birit di belakangnya, sambil aku katakan, “tapi aku suka hujan, aku suka berjalan di semilir hujan rintik-rintik yang menerpa wajahku” rajukku padanya. Dan dia hanya menggeleng-geleng kepala tertawa. Susah deh ngomong sama penyair, begitu katanya.

Tapi sebenarnya dan sejujur-jujurnya aku memang suka hujan. Aku suka hujan yang rintik-rintik. Hujan yang sedang-sedang, maupun hujan yang lebat sekali. Kalau diingat-ingat, banyak sekali pengalamanku yang indah, lucu dan menggembirakan dengan sang hujan. Dan baru kusadari saat ini, bahwa hujan sering sekali menemaniku dalam masa-masa sepi hidupku.

rain drops

rain drops

Dimasa kecil dulu, aku sering sekali terkagum-kagum melihat hujan deras yang mengalir membasahi tanah, membasahi genteng-genteng rumah tetanggaku, membasahi sawah dan membasahi orang-orang yang berlari-lari di jalan karena menghindarinya. Aku senang memperhatikan bulatan-bulatan hujan yang mencapai tanah. Dia akan membentuk formasi riak seperti bulatan-bulatan atau bunga-bunga yang indah dipandang, ah, menakjubkan untuk seorang anak berumur 5 tahun melihat pertunjukan hujan ini. Belum lagi irama hujan ini seperti orkes simfoni yang mampu membuaiku tertidur lelap dalam rengkuhan iramanya.

Seumuran anak SD, akupun semakin senang pada hujan, namun juga sedih. Aku sedih karena aku tidak bisa bermain-main hujan bersama teman-temanku sebaya karena orang tua melarang bermain hujan. Dari jendela rumah kami, aku hanya bisa melihat dengan penuh iri hati pada teman-temanku yang kadang dengan telanjang beria-ria berlari bermain hujan di lapangan sambil bermain bola ataupun bermain kejar-kejaran, dan aku? Aku terkurung dalam rumah tanpa bisa bermain karena tubuhku yang rentan sakit.

Pada saat SMA, tubuhku sudah mulai kebal dengan hujan (mamaku bilang, kamu kalau kehujanan pulang ke rumah dan cepat-cepat mandi serta kepala harus dicuci bersih-bersih, dijamin tidak sakit). Nah, berbekal petuah mama, aku jadi lebih sering hujan-hujanan dan tidak takut demam mendera. Aku sering sengaja pulang pada saat hujan lagi deras-derasnya atau berjalan pelan-pelan bersama teman-teman yang sering juga kesal padaku karena aku ‘bandel’ kalau diajak lari pada saat hujan tidak mau ikut.

Aku senang sekali berjalan dalam hujan rintik-rintik. Wajahku diterpa oleh gemericik hujan yang seperti jari-jari kecil memijit wajahku pyaaar….dan basah kulit wajahku olehnya. Oh senangnya. Menyenangkan sekali merasakan sensasi air yang dicurahkan pelan-pelan pada wajahmu, rasanya nyaman sekali.

my lovely rain

my lovely rain

Aku ingat, pada semester pertama perkuliahan, aku pernah bersama teman-teman perempuan di asrama dulu, masuk ke dalam gorong-gorong got yang baru dibangun di depan asrama kami dan kami bermain-main hujan ditempat itu dengan gembira. Mungkin orang-orang yang lewat melihat kami seperti orang gila, bisa berdiskusi dibawah derasnya hujan dan tertawa-tawa senang serta menari-nari dibawah hujan. Sayangnya, hanya sekali itu kami diijinkan bermain hujan dibawah gorong-gorong got baru, besoknya kami ditegur dan dilarang melakukan kegilaan seperti itu lagi. Tidak pantas katanya, apalagi sudah mahasiswa hahaha….

Lama berselang, mungkin dua tahun lalu. Aku punya pengalaman menarik dengan temanku di Yogya. Tahun Baru seharusnya dirayakan dengan makanan-makanan enak dan kehangatan di dalam rumah. Tapi aku dan dia terdampar di kota Yogya, pada tanggal 1 Januari di bawah hujan deras sepanjang jalan Malioboro.

Sepertinya saat itu hujan sangat senang menggoda dan bermain-main dengan kami. Aku dan temanku jalan pelan-pelan sejak hujan masih rintik-rintik untuk mencari taksi pulang ke rumah…eh tidak tahunya sulit sekali mendapatkan taksi jika sedang tahun baruan ya? Jadi dengan semakin derasnya hujan, semakin sulit juga mendapatkan taksi, aku sih senang dan bahagia saja berhujan-hujan ria disini, tapi temanku mana tahan…dia luar biasa stress dengan hujan lebat yang mendera ini. Akhirnya kita berlari-lari berteduh, dari pohon ke pohon, tetap juga tidak mempan karena pohonpun basah kuyup diguyur hujan lebat sore itu. Seperti film India ya, kalau melihat kita lari dari pohon ke pohon tapi bukan untuk menari dan menyanyi, tapi menghindari hujan deras. Tapi, si hujan rupanya ingin bermain-main, sehingga tetap saja semakin lama bukannya semakin reda, tapi semakin deras hujan dan basah kuyuplah kita berdua.

Untuk menambah penderitaan kita, ditengah-tengah hujan datanglah becak, kami kira si mas becak menjadi dewa penyelamat, namun ternyata si mas melihat kesempatan ini untuk menaikkan 300% fee-nya demi menyelamatkan kita berdua. Dan dengan kesal kami terpaksa juga naik becak termahal yang selama ini kami naiki. Setelah itu, kami kembali kesasar, apa daya terpaksa berteduh di emperan toko. Tidak berapa lama kemudian memang nasib sedang berjenaka dengan kami rupanya, datanglah orang gila (melihat pakaian dan tatapan matanya yang menusuk kalbu sih…) ikut berteduh dengan kami. Aku sebenarnya tidak takut, tapi temanku ketakutan setengah mati, akhirnya kami lari lagi…mencari tempat aman dari orang gila dan hujan…setelah sampai di emperan toko lain…eh temanku mencubit pinggangku dengan ketakutan dan bilang, Hil…itu orang gila lain, wah aku sebenarnya sudah kesal, lalu aku bilang,

“kamu gimana sih…tidak semua orang jadi gila sekarang ini, jangan terlalu paranoid dunk..”

“tapi dia memang orang gila”

“ah, itu hanya perasaanmu saja, kataku kesal

“tidak, saya kenal dia, saya kan pernah kuliah disini, orang gila itu memang terkenal disini…”

Hampir aku bilang padanya, jangan-jangan kamu ini dulu Ketua Persatuan Orang Gila kota Yogya ya? Kok kamu kenal banget dengan orang-orang gila yang ada disini? Tapi karena dia sudah menarik-narik tanganku, terpaksa kami berlari-lari lagi disepanjang jalan yang sampai sekarang aku tidak tahu namanya. Kedinginan, lapar dan kelelahan karena berlari-lari menjadikan kami pasrah terhadap nasib. Eh, tidak tahunya lewatlah taksi yang selama seharian ini kami impikan, lalu kamipun menyetopnya. Dengan senang tak terkira kami melihat taksi ini mau berhenti dengan anggunnya di depan kami dan menunggu kami menaikinya. Waaah…serasa berasa di surga di dalam taksi ini.

Namun, lama-lama kami merasa sangat kedinginan dalam taksi karena sudah basah kuyup, AC pol abis dipasang oleh supir taksinya. Lalu kami meminta pak supir untuk mengurangi suhu AC nya supaya tidak terlalu dingin. Apa nyana si supir taksi bilang…maaf mbak-mbak, ini ACnya sudah doll, jadi ngga bisa dikecilin. Kalau mau, ya dimatikan, tapi kan diluar hujan deras, entar basah taksinya, jadi tetap harus dinyalakan nih ACnya…dan kita berdua ternganga menatap si sopir taksi dengan takjubnya…Setelah itu kita berdua tertawa terbahak-bahak di dalam taksi dengan menggigil kedinginan. Menikmati hari itu, kami benar-benar tidak memahami candaan alam pada kita berdua, tapi kami menikmati tahun baru itu dengan cara berbeda. Bersama hujan, bersama angin, bersama orang gila…menggigil kedinginan di dalam taksi yang full AC, ah!

Pengalaman yang paling akhir bersama hujan, adalah beberapa bulan lalu pada saat aku berpetualang di tanah eksotis, Manggarai. Disana, pada saat aku mendaki bukit untuk melihat spiderweb-rice field, hujan mulai turun. Tukang ojekku sudah gelisah dan memintaku cepat-cepat turun supaya tidak didahului hujan. Sayangnya, keinginan itu rupanya tidak bisa dituruti alam. Dan, kitapun terjebak hujan, selain itu motor yang dibawanya pun ban nya kempes sehingga kita harus mencari bengkel tambal ban untuk mengganti ban. Kembali kami kesasar di kota kecil yang sebenarnya juga dia tidak terlalu kenal selain hanya untuk mengantar turis-turis bolak balik penginapan-rice field.

Akhirnya, saking sudah olengnya motor kita, terpaksa aku harus turun dan berjalan pelan-pelan di tengah rinai hujan yang semakin lama semakin deras. Sementara disana, di kejauhan…dia menatapku dengan ketakutan aku akan marah karena kehujanan. Padahal, diam-diam, aku sedang menikmati hujan dan angin kota ini, kota kecil di satu kabupaten yang tidak semua orang di dunia ini bisa datang kepadanya. Untuk melihat Lingko Cara itu (halah! Lebay kali ya? Hehehe). Setelah dia yakin aku tidak memarahinya, dia menawarkan aku untuk berteduh sampai hujan berhenti baru kembali ke kota Ruteng, tapi aku menolaknya dan memaksa kita harus pulang saat itu juga biarpun hujan masih lebat. Dia pun terheran-heran, namun aku menenangkannya dengan mengatakan bahwa aku pecinta hujan dan tidak keberatan sama sekali menembus derasnya hujan untuk kembali ke penginapanku.

big rain

big rain

Nah, saat-saat indah dan gembira, juga lucu sudah kurasakan bersama hujan. Ternyata, dia selalu setia menyertaiku pada saat-saat musim hujan (ya iyalah, masa di musim kemarau hehehe). Meskipun banyak orang benci padanya, terutama saat ini karena banyak banjir terjadi dimana-mana (padahal itu sebenarnya bukan salahnya hujan kan…) aku tetap menyayanginya. Tetap mencintai dan merindukannya, terutama pada saat ia mendekapku dalam rintik-rintik lembutnya, dan memainkan musik syahdu pengantar tidurku.

Dan malam ini, pada saat kularut menuliskan pengalamanku bersamanya, aku menyanjungnya dalam kata-kata:

Hujan,

kusayang dan kukenang engkau

Dalam setiap butiran butiran kecil, sedang dan deras

Dalam gumaman angin yang risau mendesau

Yang mengalir di setiap pori-pori wajahku

Yang mengelus lembut wajah dan tubuhku

Dan meninabobokanku dengan simfonimu

Dawai damai ada bersamamu,

Kusuka kamu

************************************************************************

Selamat tidur bersama hujan-mu.

 

I love falling asleep to the sound of rain

I love falling asleep to the sound of rain

 

 

Kota Flobamora Kupang, 13 January 2014

12:22 PM

 

Manggarai, Negeri Timur nan Eksotis

Saya betul-betul ingin menerapkan pepatah yang mengatakan hard work, hard fun. Sehingga setiap saya pergi dalam rangka tugas tentunya ada satu kesempatan yang bisa digunakan untuk mengeksplorasi keindahan tempat yang kita kunjungi tersebut. Dan, itulah yang saya lakukan pada saat pertama kali menginjakkan kaki di kabupaten Manggarai bulan Desember lalu. Dimanakah tepatnya Manggarai berada? Pada saat ada teman saya menelpon disana dan menanyakan posisi saya sekarang ada dimana, dan saya menjawabnya, di Manggarai…dia terkejut. Lho, kamu ada di Jakarta ya? Saya pun tertawa, saya menjawabnya, kamu sih..taunya Manggarai itu stasiun angkutan kota di Jakarta, padahal ngga tau kalau ternyata aslinya Manggarai itu adanya di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. Saya kadang-kadang kuatir juga dengan bangsa kita ini, banyak yang lebih bangga jika mampu berpergian ke luar negeri, mengenal seluk beluk Singapore atau Thailand, bahkan Eropa tapi tidak tahu Manggarai atau Palu itu ada dimana. Tidak tahu bahwa tanah air mereka memiliki tempat-tempat eksotis yang tidak kalah indahnya dengan luar negeri, bahkan orang luar Indonesia sendiri lebih banyak yang sudah mengunjungi tempat-tempat eksotis ini daripada kita sendiri. Sungguh, pada suatu waktu saya juga pernah ditanya pada saat saya mengatakan pada teman saya kalau saya tinggal di Palu. Dia bertanya, Palu? Wah, itu di Kalimantan ya? Oh….gubrakkkk! Semakin ke timur kita berdomisili di Indonesia, semakin wilayah anda tidak masuk dalam radius radar geografi 80% rakyat Indonesia. Apalagi untuk remaja dan pemuda dewasa ini. Saya sudah membuktikannya berkali-kali…dijamin deh! Oke, back to Manggarai. Pada saat pertama kali merasakan udara Manggarai, kita pasti akan terkejut (kejut senang tentunya). Kalau rata-rata wilayah NTT (Nusa Tenggara Timur, saudara-saudaraku….Nusa Tenggara Timur itu ibukotanya Kupang, kalau Nusa Tenggara Barat (NTB) ibukotanya adalah Mataram. Tolong jangan terbalik yah… hehe…(berdasarkan pengalaman juga ada yang terbolak balik, juga Sumbawa dan Sumba Barat dan Sumba Timur) cuacanya panas terik, maka di Manggarai berbeda 180 derajat, alias dingin beneerrr…untuk musim terdinginnya, suhu udara bisa mencapai 12 derajat Celcius…beeeuuuhh! Asli, saya merasakan dingin sekali disini, seperti waktu tinggal di Bandung (jaman dulu tapinya, sekarang mah Bandung udah panas, euy) atau di Tondano (wilayah belahan utara pulau Sulawesi). Karena kegiatan saya disana sampai 10 hari, maka di hari ke 7 saya menyempatkan berjalan-jalan dengan motor ojek rekomendasi penginapan tempat saya menginap (wah senangnya tempat menginapnya sangat traditional-style tapi modern juga karena ada hot water-nya dan juga siap memberikan informasi tentang tempat-tempat eksotis yang sering dikunjungi wisatawan. Banyak wisatawan mancanegara yang sering berkunjung kemari, karena biasanya Manggarai ini menjadi the next destination setelah Pulau Komodo. Sebenarnya ada beberapa tempat menarik yang harusnya saya kunjungi selama di Manggarai. Namun yang bisa dikunjungi hanya 4 (empat) tempat saja. Mudah-mudahan tempat-tempat lainnya dapat saya kunjungi di kali kedua, ketiga dan seterusnya. Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Rumah Wunut-Ruteng. Menurut pemandu saya yang nyambi jadi tukang ojek juga. Rumah Wunut ini adalah rumah kerajaan Ruteng, kerajaan pertama di Manggarai. Sekarang ini, Rumah Wunut menjadi museum (sepertinya) sebagai salah satu monumen peninggalan sejarah di tengah-tengah kota Ruteng, ibukota dari kabupaten Manggarai-NTT. Dan lagi oleh pemerintah lokal, rumah wunut ini menjadi kantor sekretariat Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) tingkat kabupaten. Berhubung saya berkunjung ke rumah wunut-nya pada hari libur, maka saya tidak dapat masuk ke ruang-ruang di dalam rumah wunut ini. Jadi hanya foto-foto dari luar rumahnya saja. Indah ya jika perawatannya seperti ini?

Rumah Wunut-Ruteng

Rumah Wunut-Ruteng

Kalau melihat betapa rapihnya perawatan masyarakat local terhadap warisan budayanya, saya kagum dengan mereka karena mampu menjaga Rumah Wunut ini.

Rumah Wunut-traditional king-house from Ruteng, NTT

Rumah Wunut-traditional king-house from Ruteng, NTT

Tujuan kedua saya adalah Perkampungan tradisional Ruteng Pu’u, tidak jauh jaraknya dari Ruteng, sekitar 10 menit sudah sampai. Perkampungan tradisional ini juga membuat saya terkagum-kagum karena komunitas adatnya masih eksis dan meskipun mereka tinggal di perkampungan adat, tapi di dalam rumah mereka sudah terlihat ada TV dan kulkas yang melengkapi perkakas keluarga-keluarga mereka. Disini, anda bisa bercakap-cakap dan berfoto dengan para tetua adat dan mengambil foto-foto perkampungan mereka, tapi jangan lupa, siapkan uang untuk diberikan pada saat mengisi buku tamu dan juga ada beberapa hal yang perlu ditanyakan pada pemandu anda untuk dos and don’ts pada saat berkunjung. Perkampungan Ruteng Pu’u ini dipercaya adalah perkampungan adat tertua di Ruteng, menjadi cikal bakal suku Manggarai. Yang menarik, jika dilihat dari atap rumah tradisional suku ini, kepala kerbau menjadi simbol yang ditempatkan di bubungan atap setiap rumah. Ini mirip dengan yang ada di Padang dan Toraja. Menurut pemandu saya, katanya 3 suku ini memang dari nenek moyang yang sama….ooh begitukah? Bisa jadi juga ya?

Ruteng Wu'u - traditional village in Manggarai-NTT

Ruteng Wu’u – traditional village in Manggarai-NTT

Tempat ketiga yang saya kunjungi adalah Persawahan dengan sistem pengairan model jaring laba-laba atau disebut juga Spiderweb Rice Field. Tempatnya di Lingko Cara. Meskipun harus berjuang keras mendaki ke lembah yang lebih tinggi untuk mencapai tempat yang paling baik untuk melihat hamparan sawah spiderweb ini, namun perjuangan tersebut terbayarkan dengan pandangan indah di depan mata yang mungkin sekali-kalinya akan saya lihat seumur hidup saya (kecuali kesana lagi tentunya). Kalau di Bali ada sistem pengairan Subak yang sangat terkenal, maka di Manggarai, kita akan mendapati tempat-tempat yang mempertahankan sistem pengairan sawah tradisional yang didapat dari hukum adat dalam pembagian sawah untuk anak-cucu mereka dengan cara mengukurnya memakai ukuran hokum adat dan viola…! Jadilah jaring laba-laba itu sebagai hasilnya. Saya dengan nafas terengah-tengahpun menjadi terkagum-kagum melihat lansekap indah ini.

Here it is...Spiderweb Rice Field in Manggarai-NTT

Here it is…Spiderweb Rice Field in Manggarai-NTT

Untungnya, untuk mendaki ke tempat spider-web rice field ini, penduduk lokal sudah menyiapkan tempat yang nyaman bagi wisatawan yang datang mendaki undakan-undakan berbentuk tangga yang sudah dibuat semudah mungkin untuk didaki. Juga disiapkan tongkat-tongkat bagi yang merasa dirinya sudah tidak kuat lagi di perjalanan untuk berpegangan.  Jangan lupa ya, kita juga harus menyiapkan sedikit uang untuk diberikan bagi penduduk yang telah menjaga lokasi pendakiannya hehehhe….fantastis deh! Terlebih petualangan saya sore itu diakhiri dengan hujan-hujanan yang cukup membasah-kuyupkan badan karena hujan yang deras mendera saya di atas motor.

exhale...and move on!

exhale…and move on!

Malam harinya, saya dijemput teman yang juga seorang blogger dari Ruteng untuk mengikuti launching Taman Baca mereka di sebelah Gereja Katedral mereka di Ruteng. Untuk Taman Baca Ruteng itu nanti saya akan tulis di artikel berikutnya, namun yang membuat saya kagum adalah gereja Katedral yang ada di salah satu kabupaten di Provinsi NTT ini, begitu besar dan megah yang saya tidak bayangkan akan dibangun di daerah ini. Menurut salah satu jemaatnya, gereja besar ini bisa menampung 12, 000 umat yang ada di seluruh Ruteng. Seakan ingin mengalahkan Gereja Katedral yang ada di Jakarta, gereja ini berdiri begitu megah dan indah sekali. Sebenarnya ada gereja Katedral lama peninggalan Portugis yang tadinya menjadi gereja induk mereka, namun karena sudah tua dan perlu renovasi akhirnya mereka membangun gereja nan megah ini. Saya sih berharap gereja yang besar, indah dan megah ini benar-benar menjadi rumah tempat ibadah dan mengucap syukur kepada Tuhan bukan malah memberatkan umat-nya dalam membangunnya. Semoga tidak.

Cathedral Church-Ruteng, Manggarai

Cathedral Church-Ruteng, Manggarai

Big church indeed-with 12,000 congregations

Big church indeed-with 12,000 congregations

Secara pribadi, saya merekomendasikan Manggarai untuk tujuan wisata anda. Namun, perlu diingat juga jika kita pergi ke wilayah yang sangat terpencil, jangan terlalu berharap fasilitas akomodasi atau transportasi yang ada seperti fasilitas di wilayah kota lainnya. Mohon dimaklum, tapi tempat-tempat wisatanya, untuk saya indah, eksotis dan masih orisinil. Masih ada skull hobit cave (mereka menyebutnya demikian, ini adalah gua yang konon dihuni oleh manusia kerdil jaman batu, membuat saya teringat dengan film Lord of the Rings) dan beberapa tempat wisata lain yang belum sempat saya datangi. Suatu saat, semoga bisa terwujud untuk mengunjunginya. Mungkin diperlukan waktu lebih dari satu hari untuk mengelilingi Manggarai melihat tempat-tempat eksotis lainnya, termasuk pantai-pantainya yang cukup indah juga katanya. Untuk saya, Manggarai, membuat saya jatuh cinta pada NTT.

Frans Lalega-Airport, Manggarai - NTT

Frans Lalega-Airport, Manggarai – NTT

Written by Hilda Rumambi, 2:18 AM, 1/8/2014

ditayangkan juga di Baltyra

Pagelaran Puisi Menolak Korupsi di Palu

Tanggal 7 September 2013, merupakan tanggal momentum roadshow Puisi Menolak Korupsi digelar di Palu-Sulawesi Tengah. Roadshow dari kota ke kota, merupakan gerakan moral dari para penyair Indonesia untuk ikut berjuang di ladangnya dalam memerangi korupsi.

Puisi Menolak Korupsi dari Penyair Indonesia – Satukan hati Menolak Korupsi!

Roadshow Puisi Menolak Korupsi 2013

Roadshow Puisi Menolak Korupsi 2013

Mencermati kian parah dan kian canggihnya tindak korupsi di masyarakat kita, ratusan Penyair Indonesia yang tergabung dalam gerakan Puisi Menolak Korupsi, mulai menyelenggarakan kegiatan berupapenerbitan Buku Antologi Puisi dan Road Show Puisi Menolak Korupsi ke berbagai kota di Indonesia termasuk di kota Palu-Sulawesi Tengah.

Gerakan ini diharapkan bakal menjadi sarana bagi kalangan penyair menyatakan penolakan yang tegas terhadap tindak korupsi. Di samping sebagai seruan moral kepada masyarakat agar secara filosofis dan kultural turut mewaspadai munculnya sikap mental korupsi sejak dini, serta mencegah perilaku korup yang lebih akut.

Kegiatan ini bersifat nirlaba dan mandiri. Maka dengan terbuka dan rendah hati disampaikan bahwa setiap penyair dan semua pihak yang terlibat dalam gerakan ini akan mendanai sendiri segala kebutuhannya selama acara di berbagai kota.

Hingga saat ini sudah 2 jilid buku antologi Puisi Menolak Korupsi yang diterbitkan, dimana di jilid I didukung oleh 85 Penyair dan di jilid 2 didukung oleh 200 penyair Indonesia.

Roadshow pertama diadakan di kota Blitar (depan makam Bung Karno), Roadshow kedua dilanjutkan di kota Tegal, di depan kantor DPRD kota Tegal dengan melakukan pembacaan puisi, musical puisi dan seni budaya lainnya termasuk teatrikal. Kota selanjutnya yang menjadi tuan rumah untuk Roadshow ketiga adalah kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan di akhir bulan Juni 2013, dan kota Palu di urutan ke empat.

Kegiatan di Palu akan digelar di Gedung Golni Taman Budaya Palu tanggal 7 September 2013 , kantor KPK di Jakarta akan menjadi Roadshow kelima pada pertengahan September 2013, dan seterusnya kota-kota lain akan menyusul.

Untuk Roadshow di kota Palu sendiri, penyair Indonesia yang akan mengambil bagian dalam kegiatan ini adalah Sosiawan Leak (Solo), Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya), Wage Tegoeh Wijono (Purwokerto), Arsyad Indradi (Banjarbaru), Sastra Riau (Riau) dan Juperta Panji Utama (Lampung).

Kegiatan roadshow akan diisi dengan diskusi buku Antologi Penyair Indonesia “Puisi Menolak Korupsi” dan malamnya akan ada Pagelaran Puisi dan performance art lainnya dengan tema yang sama yaitu anti korupsi.

Semoga roh yang sama, kekuatan yang sevisi untuk memperjuangkan keadilan memberantas korupsi di Indonesia dapat sama-sama dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat kita meskipun dengan cara yang berbeda-beda.

“SALAM HANGAT DOA KUAT, SATU HATI MENOLAK KORUPSI!”

 

Palu 4 September 2013

diinfokan juga di sini

 

Penyair Indonesia yang ikut mendukung gerakan Puisi Menolak Korupsi di jilid 1 dan 2:

Antologi PMK Jilid 1:

1. Abdurrahman El Husaini (Martapura)

2. Acep Syahril (Indramayu)

3. Agus R Sardjono (Jakarta)

4. Agus Sri Danardana (Pekanbaru)

5. Ahmad Daladi (Magelang)

6. Ahmadun Y Herfanda (Jakarta)

7. Akaha Taufan Aminudin (Batu, Malang)

8. Ali Syamsudin Arsi (Banjarbaru)

9. Aloysius Slamet Widodo (Jakarta)

10. Aming Aminudin (Surabaya)

11. Andreas Kristoko (Yogja)

12. Andrias Edison (Blitar)

13. Andrik Purwasito (Solo)

14. Anggoro Suprapto (Semarang)

15. Ardi Susanti (Tulungagung)

16. Arsyad Indradi (Banjarbaru)

17. Asyari Muhammad (Jepara)

18. Ayu Cipta (Tangerang)

19. Bagus Putu Parto (Blitar)

20. Bambang Eka Prasetya (Magelang)

21. Bambang Supranoto (Cepu)

22. Bambang Widiatmoko (Bekasi)

23. Beni Setia (Caruban)

24. Bontot Sukandar (Tegal)

25. Brigita Neny Anggraeni (Semarang)

26. Budhi Setyawan (Bekasi)

27. Dedet Setiadi (Magelang)

28. Denni Meilizon (Padang)

29. Dharmadi (Purwokerto)

30. Didid Endro S (Jepara)

31. Dimas Arika Mihardja (Jambi)

32. Dona Anovita (Surabaya)

33. Dwi Ery Santosa (Tegal)

34. Dyah Setyawati (Tegal)

35. Eka Pradhaning (Magelang)

36. Eko Widianto (Jepara)

37. Ekohm Abiyasa (Solo)

38. Endang Setiyaningsih (Bogor)

39. Endang Supriyadi (Depok)

40. Gunawan Tri Admojo (Solo)

41. Handry Tm (Semarang)

42. Hardho Sayoko Spb (Ngawi)

43. Heru Mugiarso (Semarang)

44. Hilda Rumambi (Palu)

45. Irma Yuliana (Kudusan, Jawa Tengah)

46. Isbedy Stiawan ZS (Lampung)

47. Jamal D Rahman (Jakarta)

48. Jhon F.S. Pane (Kotabaru)

49. Jumari HS (Kudus)

50. Kidung Purnama (Ciamis, Jawa Barat)

51. Kun Cahyono Ps (Wonosobo)

52. Kuspriyanto Namma (Ngawi)

53. Lailatul Kiptiyah (Blitar)

54. Lennon Machali (Gresik)

55. Lukni Maulana (Semarang)

56. M. Enthieh Mudakir (Tegal)

57. Mubaqi Abdullah (Semarang)

58. Najibul Mahbub (Pekalongan)

59. Nurngudiono (Tegal)

60. Oscar Amran (Bogor)

61. Puji Pistols (Pati)

62. Puput Amiranti (Blitar)

63. Puspita Ann (Solo)

64. Radar Panca Dahana (Jakarta)

65. Ribut Achwandi (Pekalongan)

66. Ribut Basuki (Surabaya)

67. Rohmat Djoko Prakosa (Surabaya)

68. Saiful Bahri (Aceh)

69. Sosiawan Leak (Solo)

70. Sudarmono (Bekasi)

71. Sulis Bambang (Semarang)

72. Sumasno Hadi (Banjarmasin)

73. Surya Hardi (Pekanbaru)

74. Sus S Hardjono (Sragen)

75. Suyitna Ethex (Mojokerto)

76. Syam Chandra (Yogyakarta)

77. Syarifuddin Arifin (Padang)

78. Thomas Budi Santoso (Kudus)

79. Thomas Haryanto Soekiran (Purworejo)

80. Tri Lara Prasetya Rina (Bali)

81. Udik Agus Dw (Jepara)

82. W. Haryanto (Blitar)

83. Wardjito Soeharso (Semarang)

84. Yudhie Yarco (Jepara)

85. Zainul Walid (Situbondo)

 

Antologi PMK Jilid 2: 

1. A. Ganjar Sudibyo (Semarang)

2. A’yat Khalili (Sumenep)

3. Aan Setiawan (Banjarbaru)

4. Abah Yoyok (Tangerang)

5. Abdul Aziz H. M. El Basyroh (Indramayu)

6. Abdurrahman El Husaini (Martapura)

7. Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya)

8. Ade Ubaidil (Cilegon)

9. Adi Rosadi (Cianjur)

10. Agus R. Subagyo (Nganjuk)

11. Agus Sighro Budiono (Bojonegoro)

12. Agus Sri Danardana (Pekanbaru)

13. Agus Warsono (Indramayu)

14. Agustav Triono (Purwokerto)

15. Agustinus (Purbalingga)

16. Ahlul Hukmi (Dumai)

17. Ahmad Ardian (Pangkep)

18. Ahmad Daladi (Magelang)

19. Ahmad Samuel Jogawi (Pekalongan)

20. Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta)

21. Akaha Taufan Aminudin (Batu)

22. Akhmad Nurhadi Moekri (Sumenep)

23. Alex R. Nainggolan (Tangerang)

24. Ali Syamsudin Arsi (Banjarbaru)

25. Allief Zam Billah (Rembang)

26. Aloeth Pathi (Pati)

27. Alya Salaisha-Sinta (Cikarang)

28. Aming Aminudin (Mojokerto)

29. Andreas Kristoko (Yogjakarta)

30. Andrias Edison (Blitar)

31. Anggoro Suprapto (Semarang)

32. Anna Mariyana (Banjarmasin)

33. Ansar Basuki Balasikh (Cilacap)

34. Arba’ Karomaini (Pati)

35. Ardi Susanti (Tulungagung)

36. Ardian Je (Serang)

37. Arsyad Indradi (Banjarbaru)

38. Asdar Muis R. M. S.(Makassar)

39. Asmoro Al Fahrabi (Pasuruan)

40. Asril Koto (Padang)

41. Asyari Muhammad (Jepara)

42. Autar Abdillah (Sidoarjo)

43. Ayu Cipta (Tangerang)

44. Badaruddin Amir (Barru)

45. Bambang Eka Prasetya (Magelang)

46. Bambang Karno (Wonogiri)

47. Barlean Bagus S. A. (Jember)

48. Bontot Sukandar (Tegal)

49. Budhi Setyawan (Bekasi)

50. Chafidh Nugroho (Kudus)

51. D. G. Kumarsana (Lombok Barat)

52. Darman D. Hoeri (Malang)

53. Daryat Arya (Cilacap)

54. Denni Melizon (Padang)

55. Denny Mizhar (Malang)

56. Diah Rofika (Berlin)

57. Diah Setyawati (Tegal)

58. Diana Roosetindaro (Solo)

59. Didid Endro S. (Jepara)

60. Dimas Arika Mihardja (Jambi)

61. Dimas Indiana Senja (Brebes)

62. Dini S. Setyowati (Amsterdam)

63. Dinullah Rayes (Sumbawa Besar)

64. Dulrohim (Purworejo)

65. Dwi Ery Santoso (Tegal)

66. Dwi Haryanta (Jakarta)

67. Dyah Kencono Puspito Dewi (Bekasi)

68. Dyah Narang Huth (Hamburg)

69. Eddie MNS-Soemanto (Padang)

70. Edy Saputra (Blitar)

71. Efendi Saleh (Blitar)

72. Eka Pradhaning (Magelang)

73. Emha Jayabrata (Pekalongan)

74. Endang Setiyaningsih (Bogor)

75. Endang Supriyadi (Depok)

76. Euis Herni Ismail (Subang)

77. Fahrurraji Asmuni (Amuntai)

78. Faizy Mahmoed Haly (Semarang)

79. Fakrunnas M. A. Jabbar (Pekanbaru)

80. Fatah Rastafara (Pekalongan)

81. Felix Nesi (Nusa Tenggara Timur)

82. Fendy A. Bura Raja (Sumenep)

83. Ferdi Afrar (Sidoarjo)

84. Fikar W. Eda (Aceh)

85. Fransiska Ambar Kristyani (Semarang)

86. Gia Setiawati Mokobela (Kotamobagu)

87. Gol A Gong (Serang)

88. Habibullah Hamim (Pasuruan)

89. Hadikawa (Banjarbaru)

90. Haidar Hafeez (Pasuruan)

91. Hardho Sayoko Spb. (Ngawi)

92. Haryono Soekiran (Purbalingga)

93. Hasan B. Saidi (Batam)

94. Hasan Bisri B. F. C. (Jakarta)

95. Hasta Indriyana (Bandung)

96. Heny Gunanto (Pemalang)

97. Herman Syahara (Jakarta)

98. Heru Mugiarso (Semarang)

99. Hidayat Raharja (Sumenep)

100. Husnu Abadi (Pekanbaru)

101. Iberamsayah Barbary (Banjarbaru)

102. Ibramsyah Amandit (Barito Kuala)

103. Isbedy Stiawan Z.S. (Lampung)

104. Jefri Widodo (Ngawi)

105. Jhon F. Pane (Kotabaru)

106. Johan Bhimo (Sragen)

107. Joko Wahono (Sragen)

108. Jose Rizal Manua (Jakarta)

109. Joshua Igho (Tegal)

110. Jumari H. S. (Kudus)

111. Juperta Panji Utama (Lampung)

112. Kalsum Belgis (Martapura)

113. Ken Hanggara (Pasuruan)

114. Kidung Purnama (Ciamis)

115. Kusdaryoko (Banjarnegara)

116. Lara Prasetya Rina (Denpasar)

117. Linda Ramsita Nasir (Bekasi)

118. Lukman Mahbubi (Sumenep)

119. M. Amin Mustika Muda (Barito Kuala)

120. M. Andi Virman (Purwokerto)

121. M. Enthieh Mudakir (Tegal)

122. M. Faizi (Sumenep, Madura)

123. M. Syarifuddin (Jember)

124. M. L. Budi Agung (Temanggung)

125. Maria Roeslie (Samarinda)

126. Marlin Dinamikanto (Jakarta)

127. Melur Seruni (Singapura)

128. Memed Gunawan (Jakarta)

129. Micha Adiatma (Solo)

130. Mubaqi Abdullah (Semarang)

131. Muhammad Rain (Langsa)

132. Muhammad Rois Rinaldi (Cilegon)

133. Muhammad Zaini Ratuloli (Bekasi)

134. Muhary Wahyu Nurba (Makassar)

135. Muhtar S. Hidayat (Blora)

136. Mustofa W. Hasyim (Yogjakarta)

137. Nabilla Nailur Rohmah (Malang)

138. Najibul Mahbub (Pekalongan)

139. Nike Aditya Putri (Cilacap)

140. Novy Noorhayati Syahfida (Tangerang)

141. Nurochman Sudibyo Y. S. (Indramayu)

142. Pekik Sat Siswonirmolo (Kebumen)

143. Priyo Pambudi Utomo (Trenggalek)

144. R. B. Edi Pramono (Yogyakarta)

145. R. Giryadi (Sidoarjo)

146. R. Valentina Sagala (Bandung)

147. Rezqie Muhammad Al Fajar (Banjarmasin)

148. Ribut Achwandi (Pekalongan)

149. Ribut Basuki (Surabaya)

150. Rini Ganefa (Semarang)

151. Rivai Adi (Jakarta)

152. Riyanto (Purwokerto)

153. Rohseno Aji Affandi (Solo)

154. Rosiana Putri (Banjarbaru)

155. Rudi Yesus (Yogjakarta)

156. S. A. Susilowati (Semarang)

157. Sabahuddin Senin (Kinabalu)

158. Saiful Bahri (Aceh)

159. Saiful Hadjar (Surabaya)

160. Samsuni Sarman (Banjarmasin)

161. Sayyid Fahmi Alathas (Lampung)

162. Serunie (Solo)

163. Soekoso D. M. (Purworejo)

164. Soetan Radjo Pamoentjak (Batusangkar)

165. Sri Wahyuni (Gresik)

166. Sulis Bambang (Semarang)

167. Sumanang Tirtasujana (Purworejo)

168. Sumasno Hadi (Banjarbaru)

169. Sunaryo Broto (Kaltim)

170. Suroto S. Toto (Purworejo)

171. Surya Hardi (Riau)

172. Sus S. Hardjono (Sragen)

173. Sutardji Calzoum Bahcri (Jakarta)

174. Suyitno Ethexs (Mojokerto)

175. Syafrizal Sahrun (Medan)

176. Tajuddin Noor Ganie (Banjarmasin)

177. Tan Tjin Siong (Surabaya)

178. Tarmizi Rumahitam (Batam)

179. Tarni Kasanpawiro (Bekasi)

180. Tengsoe Tjahjono (Surabaya)

181. Thomas Haryanto Soekiran (Purworejo)

182. Titik Kartitiani (Tangerang)

183. Toto St. Radik (Serang)

184. Turiyo Ragilputra (Kebumen)

185. Udik Agus Dhewe (Jepara)

186. Udo Z. Karzi (Lampung)

187. Wahyu Prihantoro (Ngawi)

188. Wahyu Subakdiono (Bojonegoro)

189. Wanto Tirta (Ajibarang)

190. Wardjito Soeharso (Semarang)

191. Wawan Hamzah Arfan (Cirebon)

192. Wawan Kurn (Makassar)

193. Wijaya Heru Santosa (Kutoarjo)

194. Wyaz Ibn Sinentang (Ketapang)

195. Yanusa Nugroho (Tangerang)

196. Yatim Ahmad (Kinabalu)

197. Yogira Yogaswara (Bandung)

198. Yudhie Yarcho (Jepara)

199. Zubaidah Djohar (Aceh)