are you cleaner than others?
are you cleaner than your neighbors?

Malam menjelang pagi ini, diriku menonton film HBO dengan judul Philadelphia. Dari cara berpakaian dan potongan model kumisnya si Denzel Washington dan kurusnya Tom Hanks, penulis menarik kesimpulan film ini dibuat di tahun 90-an. Dimana penyakit AIDS baru-baru mewabah..

Film yang bagus sekali menurutku, karena menceritakan seorang pengacara piawai dipecat oleh firmanya karena mengidap AIDS dan sesuai hukum Amerika, firma tidak boleh memecat karyawannya karena alasan diskriminasi.

Tentu saja firma hukum yang bergengsi ini tidak bodoh dalam memecat pegawainya karena hal tersebut, sehingga dibuatlah suatu scenario sehingga Andrew Beckett (Tom Hanks) dapat dipecat karena inkompetensi keprofesionalitasannya.

Beruntunglah ia mempunyai seorang sahabat pengacara handal lainnya (Denzel) yang kemudian menuntut firmat tersebut karena diskriminasi AIDS. Kasus dimenangkan meskipun Andrew akhirnya meninggal.

Melihat film ini, terus terang saya tersentuh dengan alur ceritanya yang mengangkat diskriminasi masyarakat/organisasi terhadap orang-orang yang mengidap AIDS, ataupun perbedaan-perbedaan di masyarakat seperti warna kulit, kultur dan lain-lainnya,  yang masih saja terjadi di mana-mana, di bumi Indonesia tercinta kita juga masih begitu sampai saat ini di abad 21.

Pada dasarnya di setiap society entah itu di Barat yang maju sekalipun atau di Asia seperti Indonesia, masyarakat cenderung mempunyai stigma terhadap sesamanya yang mempunyai perbedaan-perbedaan dalam gaya hidup di luar kultur society tersebut, kecuali anda ingin mengubah masyarakat seperti itu, maka butuh kerja berat untuk mengubah world view yang sudah tertanam dalam kultur masyarakat, seperti yang dikatakan Koentjaraningrat dalam teori Cultural Frame7 Aspect of Culture.

Saat ini pertanyaannya adalah apakah society atau organisasi atau perusahaan di tempat anda hidup mempuyai pandangan yang konservatif yang menganggap orang homoseksual/lesbian/mantan pemakai drug/mempunyai penyakit mematikan lainnya tidak dapat masuk dalam society mereka ataupun kalau sudah ada didalamnya bisa dikeluarkan karena kita menerapkan standard moralitas yang tinggi?

Apakah dengan gaya hidup kita yang sangat kudus kita menjadi eksklusif dengan sesama kita? Marilah kita berkaca, dengan kasih yang senantiasa kita gembar gemborkan, akankah kita akan menerapkan kasih itu terhadap orang yang akan kita rekrut atau yang masuk di gereja, dalam lingkungan keluarga atau yang akan menjadi teman anak kita, setelah kita tahu bahwa ia mempunyai perbedaan-perbedaan di masyarakat? Meskipun dari segi kepandaian, attitude dan keprofesionalitasan, kebaikan hati, mereka diatas rata-rata standard kita?

Ah, saya jadi ingat cerita Yesus dengan Maria Magdalena, seorang pelacur yang akan dihakimi rame2 dan bakalan ditimpuk batu alias penghakiman massa karena tertangkap berzinah (melacurkan diri), Yesus saja tidak pernah menghakimi manusia seperti kita pada manusia lainnya..Dia mengetahui kelemahan manusia, dan kita sendiri…sedangkan kita, manusia yang merasa menjadi Tuhan terhadap sesamanya, begitu berani menghakimi orang lain, seakan-akan ia suci dan kudus dan tidak pernah melakukan kesalahan.

Apakah yang dibenci Yesus? Para ahli farisi dan orang-orang munafik yang merasa dirinya lebih suci dibandingkan orang lain (lihat cerita 2 orang yang berdoa di sinagoga, salah satu berdoa dengan kebanggaan dan membandingkan dirinya dengan orang “berdosa” yang ada disampingnya, salah satunya si pemungut cukai yang merasa “berdosa” dan meminta ampun di hadapan Allah, tapi siapa yang doanya didengar?)

Maukah kita menjadi orang-orang farisi tersebut? Yang memegang teguh adat istiadat, kultur, moralitas yang tinggi dan berbagai kebijakan dan aturan yang kita buat sendiri…diatas Kasih dan pengampunan, yang asalnya dari Allah dan diberikan sebagai anugerah kepada seluruh umat manusia tanpa memandang siapa dia?

Menutup tulisan ini, ijinkan saya mengutip seorang Reinhold Niebuhr yang berkata:

Not much evil is done by evil people. Most of the evil is done by good people, who do not know that they are not good.

Apakah kita sudah menjadi evil tanpa kita sadari…hmmm…pertanyaan menarik bukan?

Selamat malam, Indonesia… Palu, 15 Mei 2009 in the middle of the night, waiting for the dawn🙂 – This is my first attempt article to writing in Kompasiana…