Beberapa tahun yang lalu, saya dan beberapa teman dalam kegiatan advokasi pernah berdiskusi mengenai Perspektif Gender dalam Strategi Advokasi. Hal ini yang kemudian memunculkan cerita kasus seperti berikut ini:

Mala, seorang anak perempuan berumur lima belas tahun bercerita tentang kehidupannya di negeri Maya. Di negeri Maya, penduduknya mayoritas laki-laki, dipimpin oleh seorang perempuan. Semua menterinya perempuan dan anggota parlemennya 90% perempuan. Menurut Mala, sebenarnya tidak ada peraturan negeri Maya yang melarang laki-laki untuk menjadi menteri atau anggota parlemen. Tapi kebanyakan mereka akan berpikir dua kali jika harus mencalonkan diri.

Coba bayangkan, di negeri Maya semua laki-laki bangun sebelum ayam berkokok. Mereka kemudian mulai memasak makan pagi untuk istri dan anak-anak mereka. Lalu, mereka menyiapkan seragam sekolah anak-anak mereka dan baju kerja istri-istri mereka. Disana, perempuan yang bekerja mencari nafkah sedangkan laki-lakinya di rumah mengurus rumah tangga dan mendidik anak. Jika ada yang bekerja pada umumnya di sektor informal karena mereka ingin mencari tambahan nafkah bagi keluarganya. Mereka tidak mungkin bisa meninggalkan rumah terlalu lama karena harus memasak untuk keluarga dan mengurus anak setelah mereka pulang sekolah. Terlebih lagi, mereka juga harus menyambut istri-istri mereka pulang dari kerja dengan senyum penuh cinta. Jika tidak, istri mereka akan marah-marah…

Pulang sekolah, Mala bisa langsung mengerjakan PR di rumah temannya atau sekedar berjalan-jalan di ma. Sementara, Mada, adik laki-lakinya, harus langsung pulang karena ia harus membantu ayah mengurus urusan rumah dan memasak. Mada juga harus mencuci baju semua orang di rumah. Pada umumnya anak laki-laki mengerjakan PR di pagi hari karena terlalu capai di malam hari setelah membantu ayah mereka membereskan rumah.

Dalam keluarga yang miskin, anak-anak laki-laki biasanya dianjurkan untuk tidak sekolah karena harus membantu ayah mereka di rumah. Sedangkan, anak-anak perempuan didorong untuk tetap sekolah karena merekalah calon-calon pemimpin negeri Maya.

Biasanya pertanyaan yang perlu didiskusikan seperti ini:

  • Setiap hari Mala akan bertanya-tanya dalam hati apa yang akan terjadi pada Mada?
  • Dan apakah yang akan terjadi pada anak-anak laki-laki lainnya?
  • Apa yang salah di negeri Maya?
  • Apa yang harus dilakukan untuk merubah situasi ini?

Saya pernah mempublikasi tulisan ini di salah satu blog. Selain menuai banyak diskusi, ada juga beberapa kecaman dari pemerhati jender. Beberapa merasa agak berlebihan membandingkan laki-laki hanya dengan urusan remeh temeh seperti memasak dan mencuci. Menurut mereka, seharusnya isu jender lebih besar dari itu…

Memang kelihatannya hal yang diceritakan Mala kelihatan begitu sepele, tapi itulah yang banyak terjadi di ranah ketidaksetaraan jender, khususnya di Indonesia. Mungkin saja, sebagian perempuan di kota-kota besar sudah bisa mengatur pekerjaan rumah tangganya dengan suami dan anak-anaknya. Tapi, banyak juga perempuan kita yang masih terbelenggu dengan konstruksi sosial yang dibentuk oleh masyarakat kita (terutama di pelosok-pelosok).

Pada akhirnya, semua itu akan membentuk budaya bangsa dimana perempuan harusnya tinggal di dapur, mengurus rumah tangga. Sementara, laki-laki berperan mengambil keputusan, menjadi kepala rumah tangga, pemimpin bangsa. Hal ini menjadi sangat penting dalam membentuk opini dan budaya masyarakat Indonesia ke depannya tentang fungsi dan peran perempuan (jender).

Seberapa besar peran perempuan yang menjadi populasi terbanyak negeri ini diberikan? Seberapa berani perempuan mengambil risiko untuk menjadi perempuan-perempuan tangguh di ranah politik, sains, agama, dan lainnya, untuk menjadi sejajar dengan laki-laki di bidangnya? Dalam hal ini, dia berani menentang arus. Berani memilih berbeda dari perempuan lainnya… Apakah negara sudah mengakomodir peran perempuan menjadi lebih besar lagi saat ini?

Mari kita merefleksikan bersama untuk memperingati Hari Ibu di Indonesia, yang telah diperingati beberapa waktu lalu, terutama mengacu kepada asal mula Hari Ibu itu diperingati di Indonesia. Sekedar informasi saja, lahirnya Hari Ibu bermula dari sumpah persatuan dan kesatuan yang diikrarkan dalam Kongres Pemoeda pada 28 Oktober 1928. Sumpah tersebut membakar semangat pergerakan wanita Indonesia untuk menyelenggarakan Kongres Perempoean Indonesia yang pertama pada 22 – 25 Desember 1928, di Yogyakarta.

Tema pokok kongres menggalang persatuan dan kesatuan antara organisasi wanita Indonesia yang pada waktu itu masih bergerak sendiri-sendiri. Kongres ini telah berhasil membentuk badan federasi organisasi wanita yang mandiri dengan nama “Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia” disingkat PPPI.

Peristiwa besar yang terjadi pada 22 Desember tersebut kemudian dijadikan tonggak sejarah bagi kesatuan pergerakan wanita Indonesia. Atas keputusan Kongres Perempoean Indonesia pada tahun 1938 di Bandung, 22 Desember ditetapkan menjadi Hari Ibu. Keputusan ini dikukuhkan dengan keputusan Presiden RI No. 316 tanggal 16 Desember 1959 menjadi hari nasional yang tidak diliburkan.

Nah, pertanyaannya sekarang, sampai seberapa jauhkah wanita dan anak-anak Indonesia dapat berperan dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bertanah air. Apakah Hari Ibu yang mempunyai nilai historis yang sangat mencerahkan wanita Indonesia ini akan memudar maknanya? Apakah perempuan, sebagai mayoritas penduduk di Indonesia ini masih tetap akan menjadi warga negara kelas dua di negeri ini?

Dipersembahkan untuk para ibu yang sudah berjuang dalam keluarga, dan negerinya…Ibu dan wanita-wanita hebat negeri ini…

Sumber:

  • studi kasus Infid (Gender) untuk advokasi perempuan dan anak.
  • berbagai sumber online mengenai Kongres Perempoean Pertama Indonesia

 

di published di Koki:

http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/3/2246/quo_vadis_anak_indonesia_