Pertama kali tiba di Kabupaten Poso tahun 2005, hati saya agak dag-dig-dug. Keputusan saya untuk pergi ke wilayah yang dibilang masih rawan konflik membuat banyak teman dan keluarga mempertanyakan alasan saya mau bekerja di sana.

Tetapi entah mengapa, ada suatu panggilan yang begitu kuat dalam hati saya dan suara yang senantiasa menguatkan saya. Sepertinya, Tuhan selalu berkata, “Kemana pun kau pergi, Aku selalu besertamu”. Saya memegang itu. Saya juga selalu mengatakan saya tidak sendirian di sana. Ada teman-teman dari organisasi lain, baik lokal maupun internasional apabila ada orang yang mempertanyakan alasan saya. Selama ini, mereka baik-baik saja. Jadi, jika Tuhan memelihara mereka, tentu Dia akan memelihara saya juga.

Minggu kedua, saya tiba di Tentena, Poso. Saat itu sedang terjadi pemboman di Pasar Tentena yang menelan korban jiwa 22 orang tewas dan ratusan luka-luka. Sebagai manusia biasa, saya tentu merasa gentar. Kejadian ini sebenarnya sudah sering dikatakan orang-orang sebelum saya berangkat. Beranikah kamu masuk dalam wilayah rawan seperti ini? Yang sedikit-sedikit ada bom, ada penembakan, sniper, terror-teror, pembunuhan-pembunuhan.

Berada di sana seperti masuk ke dunia Middle East, seperti di Irak, Iran, Palestina… Orang berkata saya ibarat masuk ke sarang teroris! Namun saya tetap menguatkan hati saya. Saya yakin jika kita benar-benar mau melayani sesama dengan motivasi yang jujur, pasti semua jalan akan diberkati dan dilalui dengan selamat.

Pengalaman selama bekerja melayani anak-anak dan sponsorship program di wilayah ini luar biasa. Saya banyak berinteraksi dengan anak-anak, masyarakat, pemerintah dari segala lapisan. Ada satu hal yang begitu istimewa dan melekat di hati yaitu pada saat kami melaksanakan “Outbound Perdamaian untuk Anak Tentena dan Poso” tahun 2006.

Kegiatan outbond ini dilakukan untuk mengisi waktu liburan sekolah anak-anak. Tujuannya untuk menguatkan dan mengembalikan rasa perdamaian bagi anak-anak Poso yang telah tercabik-cabik akibat konflik sejak tahun 1998.

Kami menggandeng beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat lokal untuk mengirimkan anak-anak asuhannya di wilayah Poso. Sementara, berbagai perwakilan anak dari sekolah-sekolah dan kelompok anak dari Tentena juga ikut serta dalam kegiatan ini.

Outbond difasilitasi oleh suatu pengelola outbond dari Jakarta yang konon sudah terkenal. Awalnya mereka sempat tidak mempercayai kami ketika dihubungi (kasihan deh kita…) karena jauhnya jarak dan tidak pernah mendengar tentang organisasi kami. Mungkin takut tertipu, ya? Pada akhirnya, setelah mendalami tujuan kegiatan ini dan berkomunikasi dengan baik, mereka malah mengikutsertakan seorang psikolog anak ke dalam tim mereka. Psikolog ini akan memantau perkembangan mental anak-anak selama kegiatan berlangsung.

Peserta outbond ada 70 anak, dari berbagai keyakinan, yang dibagi ke dalam dua kelompok. Mereka berkemah selama tiga hari di Palu yang diisi dengan beragam kegiatan untuk menggugah rasa kebersamaan dan team building mereka.

Saat itu, suasana di Poso masih kurang kondusif. Untuk menjaga kenetralan tempat, Palu dipilih sebagai lokasi kegiatan outbond. Tepatnya di Paneki, wilayah perkemahan Pramuka, Palu, Sulawesi Tengah.

Saat perjalanan dimulai, anak-anak dari Tentena dan Poso lebih senang berkelompok dnegan sesamanya yang satu daerah. Ada yang menarik dari seorang anak dari Poso. Saat dijemput, ia hanya mau bergaul dengan temannya dari Poso. Matanya melihat teman-teman lain dengan rasa curiga. Ia juga tidak mau berjabat tangan dan menyapa saya. Saat makan, ia lebih memilih berkumpul dengan teman dari Poso yang seiman. Suasana di dalam bis selama perjalanan menuju Palu memang belum sepenuhnya cair. Ini yang membuat hati saya sedikit gundah.

Namun, setelah sampai di tempat tujuan, suasana menjadi lebih akrab. Para pendamping memulai kegiatannya. Ajang perkenalan dan permainan-permainan team building begitu menarik bagi anak-anak. Kekuatiran akan kondisi anak-anak pada awalnya ternyata tidak terjadi. Tak terasa, dua hari berlalu dengan baik.

Rasa persahabatan dipupuk di antara anak-anak. Mereka pun diminta membuat gambar atau kliping dari koran-koran dan majalah-majalah bekas yang diberikan oleh panitia. Gambar dan kliping tersebut menjadi media bagi anak-anak untuk menyampaikan cita-cita dan keinginannya.

Dari kreasi gambar dan kliping, ternyata banyak anak yang ingin menjadi tentara, polisi, dan senjata-senjata. Ini memang tipikal impian anak-anak dari wilayah pascakonflik. Karena, di lingkungan mereka, anak-anak terbiasa melihat aparat keamanan yang membawa senjata maupun pistol. Mereka melihat dengan kekerasan kemananan bisa dikendalikan oleh tentara dan polisi. Memiliki senjata berarti memiliki kekuasaan. Mereka menganggap para aparat sebagai pahlawan. Melihat kenyataan seperti ini membuat saya meringis.

Malam kedua diisi dengan pemutaran film “The Giants”. Film ini menceritakan konflik remaja SMA di Amerika saat masih rasial antara kulit hitam dan kulit putih. Meskipun film ini bagus sekali, anak-anak kurang mengerti karena disampaikan dalam Bahasa Inggris. Selain itu, film juga diputar terlalu larut sehingga banyak anak yang menguap karena sudah mengantuk.

Acara api unggun menjadi acara penutup di malam terakhir. Acara ini diisi dengan penampilan drama yang dimainkan oleh anak-anak dalam beberapa kelompok. Kelompok terakhir memainkan drama yang begitu menggugah perasaan seluruh orang yang hadir di acara api unggun. Mereka menyuguhkan drama mengenai situasi pada saat kerusuhan terjadi di kota mereka.

Anak-anak ini adalah saksi hidup saat pembakaran, pembunuhan, dan penjarahan yang terjadi di Kota Poso. Ayah, ibu, sanak saudara banyak yang menjadi korban di kedua belah pihak. Kejadian tersebut ternyata menyebabkan trauma yang membekas di dalam benak mereka. Bahkan, ada satu anak yang menjerit-jerit menyaksikan drama terakhir. Sambil terisak-isak, ia berkata, “Kami tidak mau lagi. Jangan sampai terjadi lagi kerusuhan di Poso. Kami tidak mau! Sudah cukup…sudah cukup!!”.

Saya sendiri sempat menitikan air mata melihat drama itu. Panitia yang lain terpana. Mereka tidak menyangka ternyata anak-anak memendam luka yang begitu dalam akibat kerusuhan yang terjadi di depan mata mereka. Namun indahnya, setelah drama itu, semua anak-anak kemudian berangkulan dan berpelukan dengan menangis. Mereka merasa senasib dan ingin mengubah keadaan. Mereka tidak ingin membenci lagi.

Pagi hari, saat perpisahan pun tiba. Mereka harus pulang ke rumah masing-masing. Suasana sudah sangat berubah dibandingkan pada hari pertama anak-anak datang. Senyum keceriaan tersungging di bibir mereka. Mereka menyapa teman-temannya, baik yang muslim maupun yang Kristen dengan akrab. Tidak ada lagi kelompok-kelompok yang memisahkan diri….

Mereka tampak akrab seperti sudah lama kenal. Banyak yang berangkulan, sedih untuk berpisah. Mereka pun saling bertukar nomer telepon agar bisa saling menghubungi. Di dalam bis, banyak hal menakjubkan terjadi. Tanpa diminta, mereka sudah duduk membaur. Tidak ada lagi kelompok dari Poso, tidak ada lagi kelompok dari Tentena. Mereka menjadi satu, tertawa-tawa riang, dan saling berbagi cerita.

Sikap seorang anak yang semula tidak mau bergabung dengan teman-teman yang beragama Kristen dan tidak mau bersalaman dengan saya pun berubah. Saat perpisahan, ia mencari saya, tersenyum, dan mencium tangan saya. Saya begitu bahagia. Setidaknya ada perubahan besar terjadi dalam hidupnya. Saya mendengar dia sekarang menjadi salah satu ketua kelompok anak di Poso yang aktif menyuarakan perdamaian. Ia anak seorang tokoh agama di Poso. Sampai saat ini, Rani, nama anak ini, masih sering menelpon dan menghubungi saya untuk menginformasikan kegiatan-kegiatan anak lainnya.

Saya berharap akan muncul Rani-Rani lain yang akan menyadarkan teman-teman sebayanya ataupun orang dewasa yang lain untuk merajut perdamaian dan cinta kasih bagi sesamanya. Pengalaman saya ini sudah empat tahun berlalu. Namun saya yakin tidak kadaluwarsa. Apalagi melihat keadaan Indonesia akhir-akhir ini yang kembali menguatirkan karena isu kerukunan hidup umat beragama.

Jika saja para orang dewasa sadar, mereka menanamkan benih-benih kebencian pada anak-anaknya. Yang mereka lakukan akan menanamkan bom waktu di masa depan anak-anak. Mereka akan belajar tidak mempercayai orang lain dan membenci sesamanya. Bangsa seperti apa yang akan dibentuk dari dasar kebencian seperti itu?

Hai ini mengingatkan saya pada satu puisi indah yang terkenal dari seorang pendidik bernama Dorothy Law Nolte. Puisi tersebut berjudul “Anak-anak Belajar dari Apa yang Mereka Alami”.

Anak-anak Belajar Dari Apa Yang Mereka Alami

Bila anak hidup dengan kritikan,
Ia belajar untuk mengutuk.
Bila anak hidup dengan permusuhan,
Ia belajar untuk melawan.
Bila anak hidup dengan ejekan,
Ia belajar menjadi pemalu.
Bila anak hidup dengan rasa malu,
Ia belajar untuk merasa bersalah.

Bila anak hidup dengan toleransi,
Ia belajar menjadi sabar.
Bila anak hidup dengan penuh dukungan,
Ia belajar untuk percaya diri.
Bila anak hidup dengan keadilan,
Ia belajar menjadi adil.
Bila anak hidup dengan rasa aman,
Ia belajar untuk mempunyai keyakinan.
Bila anak hidup dengan pengakuan,
Ia belajar untuk menyukai dirinya.
Bila anak hidup dengan kejujuran,
Ia belajar kebenaran.
Bila anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan,
Ia belajar menemukan rasa kasih sayang di dunia.

(Terjemahan dari Dorothy Law Nolte, 1982)

Hmmm… pertanyaannya sekarang, bagaimana anak-anak Indonesia dibesarkan oleh orangtuanya, lingkungannya, dan oleh negaranya?

Semoga menjadi refleksi kita semua….

 

ps. tulisan ini pernah di published di Kompasiana dan Koki, contohnya:

http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/3/2279/menata_damai_di_kehidupan_anak-anak_poso_pasca_konflik_

(bisa dibaca disini dengan comments yg menarik dari teman2 Kokiers)