Tahukah anda? Badan dunia PBB telah menetapkan tanggal 25 November sejak tahun 2000 sebagai Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, atau International Day for the Elimination of Violence against Women.

Mengapa 25 November? Sejarahnya seperti ini, pada 25 November tahun 1960, tiga orang perempuan kakak beradik Patria Mercedes Mirabal, María Argentina Minerva Mirabal dan Antonia María Teresa Mirabal, dibunuh di Republik Dominika dibawah rezim yang berkuasa pada saat itu yaitu Rafael Trujillo. Mirabel bersaudara adalah pejuang gigih menentang kediktatoran Trujillo sehingga mereka akhirnya di eksekusi mati. Para aktivis pergerakan hak perempuan akhirnya mencanangkan tanggal kematian 3 aktifis perempuan ini sebagai Hari Eliminasi Kekerasan Terhadap Perempuan di tahun 1981.

Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, sangat menarik ya, karena hari-hari terakhir ini saya banyak membaca artikel-artikel di banyak blog maupun citizen journalism yang saya ikuti membahas mengenai harkat perempuan dalam iklan-iklan saat ini, kesetaraan dan kajian jender, maupun kekerasan dalam rumah tangga dan dalam pekerjaan yang sering di alami oleh wanita Indonesia dewasa ini. Jadi kayaknya nyambung aja nih dengan tema hari istimewa itu, padahal ngga janjian kan nulisnya hehee…sepertinya teori Mastakung berlaku disini…(Alam Semesta Mendukung)

Kembali serius ah, jika melihat data-data kekerasan yang terjadi pada perempuan Indonesia saat ini, kita akan menyadari bahwa meskipun wanita di Indonesia katanya lebih banyak jumlahnya daripada para pria dan emansipasi serta kesetaraan jender sudah terbuka lebar bagi kaum perempuan yang ada di tanah air tercinta ini…ternyata, tetap saja kaum Hawa ini masih dianggap kaum yang ‘lemah’ dan tidak berdaya sehingga dapat dengan semena-mena diperlakukan secara tidak adil dan tidak manusiawi.

Menurut data Komnas Perempuan, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan meningkat setiap tahunnya, ada kenaikan jumlah kasus sampai 263% di tahun 2008-2009. Menurut data yang ada, jumlah kasus terbesar berupa kekerasan dalam rumah tangga, tercatat tahun 2008 sebesar 53,000 kasus, dan pada tahun 2009 angkanya meningkat menjadi 154,000 kasus. Mengenaskan bukan?

Banyak hal bisa dilakukan untuk mengeliminir kekerasan terhadap perempuan di dunia maupun Indonesia, antara lain bagaimana memberdayakan wanita dan anak-anak perempuan sehingga mereka terlepas dari kekerasan yang dialami. Kampanye-kampanye untuk mendidik masyarakat tentang konsekwensi jika melakukan kekerasan terhadap anak dan perempuan harus digalakan. Secara kontekstual, para perempuan bisa bersatu untuk mengkampanyekan hentikan kekerasan terhadap perempuan melalui tulisan, penyelenggaraan kegiatan-kegiatan sosial di masyarakat dan presentasi riset mengenai kekerasan terhadap perempuan di wilayah masing-masing. Ini hanya beberapa contoh kegiatan saja…namun kampanye ini harusnya tidak saja melibatkan kaum perempuan, melainkan juga kaum pria, pemerintah, tokoh-tokoh agama dan para pengambil keputusan lainnya, karena jika kampanye ataupun apapun program yang dilakukan untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan ini tidak di dukung oleh semua lapisan masyarakat, advokasi tidak akan berhasil dengan baik.

Mari teman-teman, dukunglah gerakan ini, gerakan anti kekerasan terhadap perempuan Indonesia, perempuan kita, yang adalah ibu, istri, anak, saudara, tetangga kita….maukah kalian melihat kami menderita?

Menambahkan kata-kata indah dari seorang Dale. S. Hadley mengenai perempuan yang sangat ku sukai:

Woman was created from the rib of man,

Not from his head to be above him

Nor his feet to be walked upon,

But from his side to be equal,

Near his arm to be protected

and..

Close to his heart to be loved..

 

stop the violence!

…. We are saying NO to violence against Women and Girls….