PLA Anak

(Catatan Perjalanan Tour de’ Village on Eastern Coastal Sulteng)

Sambil memacu motor di keheningan sore di jalan trans-sulawesi, menembus derasnya hujan yang mengguyur tubuhku di hari yang menjelang malam, mengejar rembang malam sebelum sampai ke kota terdekat dimana penulis menginap. Menelusuri 30 km jalan yang basah ini, kiri kanan terhampar luasnya sawah nan hijau, ribuan pohon-pohon kelapa dan coklat yang subur, angan penulis melambung mencari jawab apa sebenarnya yang dicari oleh para pekerja kemanusiaan yang berkecimpung dalam pengembangan masyarakat, yang bahasa kerennya disebut ComDev (Community Development)

20 hari sudah kita melakukan rally di tujuh desa ini untuk melakukan penggalian masalah dan gagasan dengan bentuk PLA (Participatory Learning Action) hal yang lumrah dilakukan oleh para pekerja pengembangan masyarakat jika mereka mau merumuskan kegiatan dan program-program di desa dengan masyarakat layanannya.

Interaksi dengan masyarakat desa memang memberikan kesan tersendiri, penulis tidak pernah bosan dan selalu mendapatkan pengalaman dan pembelajaran menarik setiap bertemu dengan masyarakat dan anak-anak di wilayah-wilayah yang berbeda ini. Pembelajaran-pembelajaran baru selalu muncul di setiap desa yang disinggahi, kearifan lokal yang dipunyai setiap desa membentuk budaya masyarakat mereka, namun seiring kemajuan jaman dan teknologi penulis melihat budaya-budaya lama dan kearifan lokal yang lama, hilang memudar secara perlahan-lahan…

Di setiap desa kami melakukan diskusi dengan masyarakat dan anak-anak selama 3 hari melalui metode-metode penggalian masalah participatory learning action, dan di hari ketiga kita mulai mendiskusikan program bersama yang nantinya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anak-anak di desa itu baik dalam bidang pendidikan, kesehatan anak dan juga peningkatan ekonomi masyarakat yang akan menopang tumbuh kembang anak.

Selama mendampingi sahabat-sahabat yang menjadi pekerja pendamping masyarakat, penulis begitu salut terhadap dedikasi mereka di tengah-tengah masyarakat desa, mereka, para sarjana, masih muda, yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata, namun mau terjun, berkarya dan tinggal bersama masyarakat dan mendampingi mereka untuk melihat perubahan yang nyata yang akan mereka dan masyarakat bersama hasilkan 5-10 tahun kedepan…

PLA Dewasa

Teringat penulis akan kredo pekerja pengembangan masyarakat, yang benar-benar terpanggil untuk melayani sesamanya di daerah-daerah terpencil, jauh dari hirukpikuk keramaian kota besar, jauh dari fasilitas yang memadai…

Pergi ke desa

Seorang pekerja COMDEV seharusnya datang ke desa terpencil, ke wilayah pelayanannya, tidak mungkin ia melakukan kegiatannya hanya melalui perantara atau hanya datang sekali-kali (emangnya saya hehehe)

Tinggal bersama masyarakat

Seorang pekerja COMDEV, jika dia bukan orang lokal, dia harus mau tinggal bersama masyarakat di desanya, dia harus merasakan bagaimana kehidupan masyarakat disana, menikmati dan menjiwai dinamika masyarakatnya, menjadi satu dengan mereka, tidak mungkin seorang pekerja COMDEV tinggal di kota, hanya datang sekali-kali dan bertemu masyarakat sekedar untuk menyelesaikan target-target pekerjaan yang diberikan. Masyarakat memerlukan pendampingan, kadang-kadang mereka mencari dan memerlukan anda di waktu-waktu tertentu dan bukan jam kantor…1×24 jam waktu diperlukan untuk melayani masyarakat layanan kita

Belajar dari masyarakat, belajar sambil berbuat

Bukan masyarakat yang belajar dari kita, namun kebalikannya….jika anda ingin menjadi seorang pekerja COMDEV yang benar-benar ingin menyatu dengan masyarakat…forget the theories…come to the people and learn from them…hati yang terbuka, mau menerima pandangan-pandangan orang-orang tua, tokoh-tokoh desa, akan membuat kita lebih bijak dalam mengambil keputusan untuk kepentingan mereka. Kadang, dengan seabrek teori pengembangan masyarakat, kita mendatangi mereka, mengajari mereka hal-hal berat yang belum tentu ada dan cocok dengan desa mereka, dan hasilnya? Apakah mereka merasa menjadi lebih dekat dengan kita? Atau malah takut berbicara dengan kita karena merasa kita terlalu hebat?

Dari kita belajar mengenai kearifan lokal yang masyarakat punyai, dan budaya-budaya setempat, kiranya seorang pekerja Comdev mampu berkreasi dan berinovasi dengan masyarakat di wilayah itu untuk mewujudkan program-program yang kontekstual dan yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat itu

Merancang bersama, bekerja bersama

Tanpa melibatkan masyarakat sejak awal pembuatan program, apapun yang baik yang akan kita lakukan tidak akan terwujud. Selama ini program-program yang datang di masyarakat mempunyai system top down, masyarakat tinggal menerima saja, tanpa ditanyakan apakah program-program tersebut yang benar-benar mereka perlukan?

Contohnya pembangunan-pembangunan fisik seperti pipanisasi yang dilakukan tanpa diskusi dulu dengan masyarakat sehingga mereka tidak tahu cara pemeliharaan pipa-pipa air tersebut, dan dampaknya, jika terjadi kerusakan di pipa-pipa itu, masyarakat kemudian membiarkan saja tanpa tahu harus berbuat apa, belum lagi kalau pipa tersebut melewati kebun-kebun penduduk dan mereka merasa tidak mendapatkan manfaat karena hanya sekedar dilewati saja, kebanyakan secara sengaja mereka kemudian membocorkan pipa-pipa itu..dan kemudian, terjadi konflik di masyarakat gara-gara pipa-pipa ini…

Mulailah dan bangunlah dari apa yang masyarakat ketahui

Dengan metode PLA para pekerja Comdev dapat dengan mudah menggali masalah-masalah yang ada di masyarakat yang tentunya mereka ketahui, dari dasar tersebut, masyarakat kemudian diajak berpikir bagaimana menurut mereka cara penanggulangan masalah yang ada itu…kita tidak akan membawa masyarakat ke ranah yang mereka tidak kenal, tentunya jika kita mempunyai suatu konsep, bumikanlah alias kontekstualkan hal itu sehingga dimengerti oleh masyarakat…hancurlah program comdev jika kita memaksakan sesuatu hal baru yang mereka asing untuk itu, ujung-ujungnya masyarakat tidak merasa program itu milik mereka karena mereka tidak mengenalnya

Pelaksanaan program yang berawal dari kebutuhan masyarakat, membangun bersama dengan mereka, menghargai kearifan dan budaya lokal mereka, niscaya akan menjadikan kegiatan-kegiatan dan program bersama masyarakat akan lebih mulus dan terwujud dengan baik dan juga menjamin keberlanjutan program setelah kita sudah tidak bersama mereka lagi (sustainability)

Berjalan bersama mereka

Setelah membuat program bersama, apa yang perlu kita lakukan? Pendampingan…dampingilah masyarakat kita, itulah gunanya kita berada bersama mereka, pekerja Comdev harus dekat dengan masyarakatnya, ia harus tinggal dan menjadi sama dengan mereka, berjalan dan berkarya bersama mereka, sehingga mereka merasa bahwa ia memang tulus mau bekerja bersama dan kemudian…ia akan merasa bahwa ia juga adalah masyarakat itu sendiri…jiwanya adalah jiwa mereka…yang ia lakukan untuk masyarakat adalah juga untuk dirinya sendiri…

Bukan memberikan bantuan langsung, namun memberikan pemberdayaan dan cinta kasih

Datang ke masyarakat bukan sebagai sinterklas yang membagi-bagikan bantuan, hadiah maupun program secara cuma-cuma tanpa memikirkan dampak dari bantuan tersebut…sudah banyak contoh yang terjadi jika kita hanya memberikan bantuan langsung seperti itu. Ada contoh mengenai seseorang kaya yang memberikan uangnya kepada seorang fakir miskin di jalan dengan hati yang tulus, namun setelah orang miskin tersebut berlalu, ia melihat kemudian orang itu dipukuli oleh teman-temannya dan uang yang ia berikan itu dirampas….bandingkan dengan seorang suster yang datang tanpa membawa uang kepada orang-orang yang terkena kusta di suatu tempat dan ia memberikan hatinya disana, ia merawat orang-orang itu, mengusap tangan-tangan yang luka dengan penuh cinta, memberikan semangat kepada yang menderita…apa yang lebih bernilai? Padahal mereka berdua sama-sama memberikan dengan tulus apa yang mereka punyai

Memberdayakan, dimana masyarakat kadang lebih menilai bantuan langsung sebagai sesuatu yang nyata dan lebih diharapkan dibandingkan pelatihan-pelatihan dan praktek lapangan yang memakan waktu dan tenaga namun dalam kenyataannya hal-hal itu malah yang membuat masyarakat belajar dan mau mengubah paradigma berpikir mereka untuk lebih maju selangkah kearah perbaikan hidup. Dan pada akhirnya, di akhir program bersama kita selesai dan terlaksana dengan baik, masyarakat bisa berkata….WE HAVE DONE IT ALL BY OURSELVES…..itulah pengembangan masyarakat yang memberdayakan…dimana mereka merasa bahwa mereka mampu melakukan program itu karena hasil usaha mereka sendiri, bukan karena kita…

Berangkat dari pembelajaran selama beberapa minggu ini, betapa penulis mengangkat 2 jempol alias salut setinggi-tingginya terhadap teman-teman Comdev dimanapun mereka berada, atas panggilan dan dedikasi mereka terhadap masyarakat mereka, tugas yang di emban dalam masyarakat ini tidaklah mudah, dan menjadi fasilitator pengembangan penuh dengan tantangan dan kesulitan yang tidak sedikit sebagai frontliner….namun mereka telah membuktikannya..!

Biarlah kredo pengembangan masyarakat ini dapat terus dikembangkan oleh kita, bagi masyarakat dimana kita tinggal dan kita layani….just for the people!

with the smiling children....thanks for the purest smile my little friends🙂

 

@ dedicated for all the community development workers and the people in remote villages, all over this country


ps. dipublished di Kompasiana:

http://sosbud.kompasiana.com/2011/01/29/kredo-seorang-pekerja-pengembangan-masyarakat/

di published di Koki:

http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/3/2331/kredo_seorang_pekerja_pengembangan_masyarakat