12901801871597682706

Tentena, the old bridge

Kemarin, setelah menutup telpon dari salah seorang sahabat di Tentena, saya kembali merenung, ah rasanya sudah berabad-abad tidak menginjakkan kaki ke alam Tentena yang indah nan sejuk. Rasa dingin di pagi hari yang menyapa kulit, embun membasahi rumput-rumput, padi-padi, kolam-kolam ikan di pekarangan belakang. Juga indahnya bunga-bunga anggrek hutan yang mempesona mata. Ingatanku melayang ke saat silam dimana diriku banyak berinteraksi dengan alam Poso, alam Tentena dan masyarakatnya yang ramah nian.

Jika anda mendengar Poso dan Tentena di tahun 2000-an, mungkin yang terbayang hanya kekacauan, kebiadaban dengan bumbu-bumbu terror disana sini. Itu dulu…tapi sejak beberapa tahun belakangan ini (tepatnya sejak tahun 2007) kondisi Poso dan Tentena amat sangat jauh lebih kondusif. Masyarakat wilayah ini yang tadinya ketakutan, mengungsi dan saling curiga, berangsur-angsur kembali kepada fitrah mereka, kepada rasa tepo-seliro, kekeluargaan…Sintuwu Maroso.

Intermezo sedikit, masyarakat asli yang mendiami wilayah Poso dan Tentena adalah suku Pamona, suku Pamona ini adalah sub-suku dari Suku Kaili yang mendiami sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah, jadi kalau di Palu, ada sub-suku Kaili-Da’a, maka di Poso ada sub-suku Kaili-Pamona, dan di Sulawesi Tengah sendiri, entah berapa banyak sub-suku Kaili ini (belum nge-cek lagi sih). Sehingga meskipun banyak masyarakat Pamona sudah menganut agama Islam maupun Kristen, namun mereka sangat menyadari kalau mereka berasal dari Suku yang sama dan mereka bersaudara. Saat ini persaudaraan diantara mereka sudah sangat baik, kita dapat melihatnya dengan baik pada saat perayaan-perayaan keagamaan baik pada saat Lebaran, Natal ataupun Tahun Baru, dan juga pesta panen rakyat yang disebut Padungku, masyarakat sangat ramai saling berkunjung dengan saudaranya yang berbeda iman, dan saling memberi ucapan selamat.kepada kerabatnya masing-masing.

Tentena, sebuah kelurahan di wilayah kecamatan Pamona Utara, tepatnya ibukota Kecamatan Pamona Utara. Untuk menjangkau Tentena, kita harus cukup tabah untuk naik mobil dari Palu (ibukota propinsi Sulawesi Tengah) selama 7 jam (kecepatan standard, dengan 2 kali berhenti untuk istirahat dan makan).

Dari kota Poso sendiri, kita masih harus menempuh hampir 1 jam perjalanan untuk sampai ke Tentena. Jika anda belum terbiasa dengan tikungan-tikungan jalan S yang sempit dan curam, maka..jangan lupa membawa antimo supaya tidak mabok karena perjalanan dari Palu sampai Tentena di awal dan akhir perjalanan anda akan menerima kenyataan bahwa kelokan-kelokannya ngga ada matinya deh….

1290182815610720572

Hotel Intim-Tentena near the lake

Tiba di Tentena, jika anda tidak punya teman atau tujuan pasti, bisa menginap di beberapa hotel yang lumayan besar untuk ukuran kelurahan (ada hotel Pamona Indah atau Hotel Intim-tidak tahu deh kenapa dinamakan seperti itu Hotelnya…mengundang konotasi yah?) atau beberapa penginapan yang lebih kecil dapat ditemui di sepanjang kota ini.

Tentena mirip-mirip Bandung cuacanya, (Bandung waktu saya masih kecil…dingiiiiin dan masih

1290181596918820790

sejuk udaranya), dan karena ia berada di sepanjang danau Poso, anda akan menemui banyak rumah makan ikan mujair yang dibelakangnya mereka mempunyai karamba (untuk memelihara ikan mujair). Suguhan ikan goreng mujair atau ikan bakar mujair…rasanya bener-bener…mantep deh..

Di kedua hotel yang saya sebutkan diatas, dua-duanya menghadap danau Poso yang begitu tenang dan indah. Anda bisa berenang di belakang danau itu kalau berani..karena airnya..brrrrrr…dingin abis!

Ada 2 tempat yang begitu indah dan tidak membuatku bosan untuk kembali dan kembali lagi mendatanginya.

12901814041775695800jalan setapak

 

Pertama, air terjun Saloupa

Untuk sampai ke Saloupa, anda memerlukan waktu sekitar 30 menit sampai di tempatnya, masuk kira-kira 15 menit menapak jalan-jalan hutan (yang sudah dibersihkan dan ditata baik), bertemu dengan pohon-pohon besar dan rindang, juga beberapa saung untuk melepas lelah. Sangat asri deh.

Istimewanya air terjun ini, dia mempunyai 14 tingkat yang besar-besar….melihatnya untuk pertama kali membuat saya kagum dan sedikit bergetar ngeri karena kedahsyatan airnya yang bergemuruh diantara batu-batu dibawahnya membuatku serasa gamang, melayang..jatuh…

Waktu awal ada beberapa staf yang memandu kami untuk menaiki air terjun ini, bukan dari tangga-tangga disampingnya….melainkan dari tengah-tengah air terjun itu…wooow…bukan main…tadinya ngeri sekali untuk masuk kedalam derasnya air, namun ternyata itulah keistimewaan Saloupa, batu-batu air terjun ini sama sekali tidak licin…sehingga kita bisa naik dengan leluasa diantara derasnya air dan kaki rasanya menapak dengan kuat mencengkeram batu-batu itu.

12901816881814962637

magnificent…

Tadinya agak heran dan bertanya, kok batu-batu ini bisa kasar dan tidak licin ya? Teman-teman kami bilang, itu karena batu-batunya berkapur, karena airnya sangat berkapur, sehingga tidak akan pernah licin batu-batu itu dan kami tidak akan pernah terpeleset. Jadi dengan riang gembira bak anak-anak yang baru mendapatkan mainan baru, kami berlomba-lomba menaiki undakan-undakan batu-batu besar itu, berbasah-basah, melawan arus air, satu demi satu….sampai ke puncak paling tinggi…woooow…sungguh pemandangan yang sangat indah, karena di puncak air terjun sendiri air-nya sangat tenang, seperti kolam renang alam, kita bisa berenang di dal

1290181777346111831

 

Tidak sia-sialah usaha kami naik sampai ke puncak Saloupa paling atas…serasa ikut outbound alami…

Sejak saat itu, kalau ada tamu dari luar kota, Jakarta ataupun dari luar negeri datang mengunjungi Poso atau Tentena, kami pasti (harus) membawa mereka ke Saloupa waterfall….dan mereka akan dengan sangat terkagum-kagum melihat dan merasakan keindahan dan kedahsyatan air terjun ini.

Kedua, Pantai Siuri. Kok ada pantai di atas gunung? Hehehe…tempat ini memang menakjubkan, setidaknya menurutku. Sebenarnya ini adalah danau, tapi karena tepiannya begitu luas dan datar menyerupai pantai, maka orang-orang lokal terbiasa menyebutnya pantai.

12901818701905279661

Siuri Beach, Tentena

Dan lucu juga, karena memang ada ombak-ombaknya, meskipun ini di air tawar ya, mungkin saking besarnya ya? Anehnya lagi, pasir yang ada di pantai ini berwarna coklat kekuning-kuningan, mirip pasir pantai, kadang-kadang saya membawa pulang sedikit pasir untuk kutaruh di vas bunga saya….indah..

Kalau sudah berenang di pantai Siuri ini, kita pasti lupa waktu untuk kembali ke darat, karena enaknya berenang di air tawar, tidak sakit mata seperti air laut.

Di beberapa bagian pantai Siuri ada sejumlah bungalow yang bisa disewa orang untuk tempat

12901819402041414628

liburan atau digunakan untuk kegiatan-kegiatan pertemuan, training dan lain-lain. Biasanya setelah penat seharian dalam training, kita bisa berenang di pantai ini atau buat api unggun untuk bakar ikan dan jagung..waah sedap deh.

Masih banyak lho tempat-tempat menarik di Tentena dan sekitarnya, juga di wilayah Pamona lainnya, dan di Kota Poso sendiri…nanti ya, satu-satu saya akan ceritakan pada seluruh Indonesia bagaimana indahnya alam kita di Sulawesi Tengah ini…ayo, datanglah beramai-ramai kemari. Karena Tentena biasanya (sebelum adanya kerusuhan) merupakan salah satu tempat wisata bagi turis asing di sepanjang jalan Trans-Sulawesi. Biasanya tour agent dari Makassar atau Toraja, membuat perjalanan travel wisata satu paket dari Toraja kemudian ke Tentena….sekarang…?? who knows…semoga saja masih…

Ah, I miss you, Tentena, I miss the Dero, the Padungku…the Inuyu…the Pongas…😀

With love from Palu…

12901836201513905186

the rice field

 

pictures courtesies goes to: mike, abi, google, n personal belongings