* Nama : – KAWILARANG, Alexander Evert

* Nama Populer/Alias : – Alex Kawilarang

* Pangkat : – Kolonel Inf. TNI Purn. (Mayor Jenderal Permesta)

* Tempat & Tgl Lahir : – Maeestercornelis(Jatinegara)/Jakarta, 23 Februari 1920

* Tanggal  Meninggal : – 6 Juni 2000 di RSCM Jakarta

Peranan-Peranan Penting dalam hidup beliau:

– Memimpin Pasukan Ekspedisi dalam Operasi Penumpasan Pemberontakan Andi Azis di Makassar, Republik Maluku Selatan/RMS, Pemberontakan Kahar Muzakhar

– Merintis pembentukan komando pasukan khusus TNI dengan nama Kesatuan Komando Territorium III (Kesko TT-III) Siliwangi di Batujajar – Jawa Barat (April 1951). Setahun kemudian diambil alih oleh Markas Besar AD (MBAD) sebagai RPKAD (Resimen Para Komando AD) lalu berturut-turut berubah nama menjadi Palu RPKAD, Kopassandha, terakhir Kopassus (Komando Pasukan Khusus)

– Terlibat dalam kelompok pro-Peristiwa 17 Oktober 1952 dalam menentang campur tangan pemerintah dlm urusan militer

– Sebagai Panglima Besar Angkatan Perang PERMESTA

_____________________

Langkah Kolonel Alex Kawilarang yang sulit dilupakan masyarakat politik pada tahun limapuluhan ialah ketika ia menempeleng Letkol Soeharto di Makassar saat sedang menumpas pemberontakan RMS dan pasukan KNIL/KL (KNIL=Koninklijke Nederlands Indisch Leger /Tentara Hindia Belanda, KL=Koninlijk Leger /Tentara Kerajaan Belanda). Kolonel Alex Kawilarang marah karena selaku Panglima TT-VII/TTIT ia baru melaporkan kepada Presiden Soekarno (tanggal 4-5 Agustus) bahwa keadaan di Makassar sudah aman. Tetapi Soekarno menyodorkan radiogram yang baru diterimanya bahwa pasukan KNIL Belanda sudah menduduki Makassar hari Jumat, tanggal 5 Agustus. Ternyata pasukan yang harus mempertahankan kota Makassar yaitu Brigade Garuda Mataram telah melarikan diri ke Lapangan Udara Mandai. Maka tidaklah mengherankan bahwa Kolonel Alex Kawilarang menjadi marah dan hari Senin ini buru² kembali ke Makassar. Setibanya di lapangan udara Mandai ia langsung memarahi komandan Brigade Garuda Mataram Letkol Soeharto: “sirkus apa²an nih?” kata Kolonel Alex Kawilarang sambil menempeleng pipi Letkol Soeharto.

Maka dapatlah dimengerti, akibat peristiwa tersebut, hingga saat Alex Kawilarang meninggal, Presiden Soeharto tidak pernah berbicara dengan bekas atasannya itu. Penghargaan kepada A.E. Kawilarang secara resmi baru diberikan pada 1999 yang lalu, sewaktu Presiden B.J. Habibie berkuasa.

Berikut sekelumit berita di salah satu koran nasional mengenai upacara penyematan anggota pembaretan anggota kehormatan Korps Baret Merah yang dierimanya tahun 1999 setelah Soeharto lengser:

Dalam suatu upacara yang berlangsung hanya satu hari sebelum HUT Komando Pasukan Khusus TNI-AD (Kopassus) pada 16 April 1999, Kolonel (Purnawirawan) Alexander Evert Kawilarang (79 tahun) mendapat pembaretan sebagai anggota kehormatan Korps Baret Merah, 47 tahun sesudah ia memerintahkan dibentuknya Kesatuan Komando TT III yang merupakan cikal bakal Kopassus sekarang.

Nama Kawilarang selalu diucapkan pada setiap ulang tahun Korps Baret Merah diadakan di Cijantung, tetapi selama ini pula hanya disebut-sebut saja; sementara puluhan orang yang dianggap berjasa pada pembentukan dan pengembangan pasukan elite tersebut sudah mendapat penghargaan khusus; antara lain mantan ajudannya Kapten (kemudian Jenderal) M. Jusuf dan paling akhir adalah Jenderal Besar AH Nasution. Malah bekas ajudan yang lain, Kapten Yogie SM menjadi komandan Kopassandha.

Bagaimana pasukan istimewa terbentuk? Secara resmi disebutkan bahwa ide membentuk sebuah pasukan hebat justru didapat oleh Letkol Slamet Riyadi ketika memimpin pasukan melawan RMS di wilayah Maluku. Tetapi yang menjadi pelaksana pembentukannya justru adalah A.E. Kawilarang. ”..untuk melawan gerakan-gerakan gerombolan yang mobil itu, saya perhitungkan, perlu dibentuk suatu kesatuan yang terlatih bertempur secara kesatuan kecil sampai dengan dua orang saja, dan all round. Dan itu harus diciptakan, diadakan…” demikian tulis dalam biografinya Untuk Sang Merah-Putih (Pustaka Sinar Harapan, 1988).

Sebagai Panglima Tentara dan Teritorium (T&T) III atau Panglima Siliwangi di Jawa Barat yang paling banyak menghadapi gangguan keamanan, tentu saja Kawilarang adalah yang paling concern mengenai kualitas pasukan. Dan secara kebetulan ia mengenal seorang mantan perwira Belanda yang bernama Visser (kemudian namanya jadi M. Ijon Janbi) dan kemudian dijadikan sebagai komandan dan sekalipun pelatih pasukan istimewa itu.

Ketika pasukan tersebut sudah terbentuk dan efektif dalam menghadapi gangguan keamanan; maka kesatuan itu diambilalih oleh markas besar TNI dan namanya berubah menjadi Kesatuan Komando AD (KKAD) dan kini jadi Kopassus.

Tenggelam

Meskipun nama AE Kawilarang dianggap identik dengan Korps Baret Merah dan juga Siliwangi, tetapi namanya kemudian tenggelam setelah pada tahun 1958, selaku Atase Militer RI di Washington DC, ia meminta berhenti dari jabatannya dan pergi ke Sulawesi Utara. Dalam istilah pada waktu itu, Kawilarang yang begitu berjasa bagi RI kemudian ”bergabung” dengan pemberontakan Permesta di Sulawesi Utara. Banyak teman atau anak buahnya tidak setuju dengan perkataan ”bergabung dengan pemberontakan” tersebut, tetapi suasana politik tidak mendukung, dan PKI yang mulai memperkuat kedudukan terus mengipas-ngipasi masalah itu.

Pada tahun 1961, ketika keamanan mulai pulih kembali; di Sulawesi Utara diaturlah suatu upacara militer resmi untuk ”menerima kembali” bekas Kol. Kawilarang dan sejumlah besar pengikutnya yang kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Yang menerima kembali adalah seorang perwira senior Letjen Hidayat Wakasad yang adalah teman lamanya. Tidak dipakai istilah ”menyerahkan diri” karena memang dianggap tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang.

Meskipun ia diterima kembali di Jakarta, kariernya selesai begitu dan banyak pihak yang menghindar bertemu dengannya. Katanya dalam bukunya, ”…baru sesudah peristiwa Oktober 1965 saya dan teman-teman saya dapat bernapas lebih lega dan mulai kelihatan terang untuk tahun-tahun kemudian. Di tahun 1966 ada seorang yang bertanya, ”apakah sudah direhabilitasi?” Saya jawab, siapakah yang harus merehabilitasi siapa?” Ia konon malah tidak tahu apakah ia berkedudukan sebagai ”bekas” Kolonel atau Kolonel Purnawirawan, suatu kedudukan yang diberikan bila pensiun secara normal.

Jadi dalam status yang tidak jelas, AE Kawilarang hidup dengan tenang dan seolah pasrah dengan apa yang dipunyainya, meskipun ia pernah tidak diundang pada HUT Siliwangi (sesuatu yang pernah dialami pula oleh AH Nasution di masa Orba). Para bekas anak buah serta teman-temannya yang masih mempunyai jalur dan kekuasaan kemudian dengan susah payah mengusahakan agar Bintang Gerilya bisa diberikan kepadanya. Dan penghargaan tersebut disematkan ketika ia terbaring di rumah sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta beberapa tahun lalu. Tetapi sejarah tidak melupakannya, Baret Merah dan anggota kehormatan Kopassus walaupun amat terlambat, merupakan pengakuan jasanya yang amat besar bagi kelahiran Kopassus.

 

12925017041809867801

from website: permesta.8m.net

BREVET KOMANDO – Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Mayjen TNI Syahrir menyematkan Brevet Komando Kehormatan, Pisau Komando dan Baret Merah kepada Kolonel A.E. Kawilarang yang dikukuhkan sebagai Warga Kehormatan Kopassus, di Mako Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Kamis (15/4/99) siang.

 

Sumber artikel dan gambar: Permesta Information Online copyright: 2002

sumber tulisan: tahun 1999 (Pembaruan)

dedicated to our heroes…


A hero has faced it all: he need not be undefeated, but he must be undaunted – (Andrew Bernstein)