Menarik untuk dibaca sebuah ulasan buku Demystifying (Participatory Community Development) yang ditulis oleh Francis B. Mulwa, tentang bagaimana para pakar pengembangan masyarakat (Community Development) dalam memandang pekerjaan mereka di masyarakat, apa yang sebenarnya ingin dicapai? Strategi yang efektif yang dilakukan di masyarakat seperti apa yang akan dipakai jika anda sebagai seorang pekerja pengembangan masyarakat mendengar percakapan seperti berikut ini:

Ini adalah cerita tentang nelayan, yang adalah cerita klasik yang kebenarannya perlu kita renungkan.

Suatu kali seorang pengusaha sedang berlibur ke sebuah kampung nelayan. Ia merasa terganggu saat melihat seorang nelayan sedang bersantai di bawah pohon.

“pak, mengapa bapak tidak melaut?”

“saya sudah melaut semalam dan saya perlu beristirahat”

“kalau bapak melaut lagi, bapak akan menghasilkan banyak ikan”

“lalu?”

“bapak bisa mengumpulkan lebih banyak uang untuk membeli sebuah perahu.”

“lalu?”

“dengan perahu itu. bapak tidak perlu lagi menyetorkan sebagian keuntungan bapak kepada pemilik perahu.”

“lalu?”

“bapak bisa mengumpulkan lebih banyak uang untuk membeli perahu kedua.”

“lalu?”

“dengan dua perahu, bapak bisa menghasilkan lebih banyak uang dan membeli perahu ketiga, perahu keempat, perahu kelima, dan seterusnya.”

“lalu?”

“jika perahu bapak sudah banyak, bapak bisa menyewakannya pada nelayan lain sehingga bapak tidak perlu lagi melaut.”

“lalu?”

“bapak bisa hidup tenang dan bersantai.”

nelayan itu tersenyum dan berkata.

“menurut bapak, apa yang sedang saya lakukan sekarang?”

Lucu bukan? Cerita ini juga memperlihatkan pada kita seperti apa kualitas pengembangan di masyarakat yang akan kita angkat? Kualitas hidup seperti apa sih yang kita inginkan tercapai jika hidup ternyata hanya untuk makan, atau kita makan untuk hidup?

Dikatakan juga dalam ulasan tersebut tentang jangan salah mengartikan bahwa dalam hidup ini kita tidak perlu kerja keras, tidak perlu punya ambisi karena akhir-akhirnya dari semua kerja keras tersebut akan bermuara pada bagaimana kita mampu menikmati hidup yang berkualitas (Life in all its fulness). Hal krusial apa yang dibutuhkan untuk mengurangi kemiskinan di masyarakat?

Cerita ini juga mengingatkan kita untuk waspada dalam godaan pada pemilihan sampai pemujaan ambisi-ambisi kita yang akan mengorbankan hubungan baik yang menjamin kualitas kehidupan. Kita perlu menghargai kehidupan sebagai anugrah seburuk apapun kehidupan yang kita jalani dan menjalaninya dengan seutuhnya dengan sikap positif pada kehidupan yang nantinya akan bermuara pada pemulihan dan pemeliharaan terhadap diri sendiri, kepercayaan diri dan apa yang dapat kita lakukan untuk mentransformsi hal-hal yang kita tidak inginkan di dalam kehidupan kita. Secara ideal demikianlah apa yang dikatakan sebagai kualitas pengembangan menurut ulasan buku itu.

Tantangan-tantangan yang muncul di masyarakat adalah bagaimana membawa kepenuhan dalam hidup itu ke dalam masyarakat untuk memberantas kemiskinan yang secara menyedihkan nyata terjadi dalam hidup mereka.

Metode dan strategi yang beragam sudah di uji coba kan oleh para ahli dan pekerja pengembangan masyarakat selama hampir 3 dekade terakhir dalam upaya untuk secara efektif membantu masyarakat untuk membawa diri mereka dalam memerangi kemiskinan melalui inisiatif-inisiatif pengembangan masyarakat.

Ulasan buku ini, bukunya sendiri sangat tebal, 336 halaman, cukup tebal untuk menjadi alas kepala tidur J menurut saya patut dibaca oleh para pemerhati dan pekerja pengembangan masyarakat karena berisi beberapa landasan teori mengenai pengembangan partisipatif, konsep berpikir pengembangan sosial, tools PRA (Participatory Rural Action) yang dapat diimplementasikan di masyarakat. Saya tidak tahu apakah saat ini buku ini sudah ada edisi Bahasa Indonesia-nya atau belum.

Sebagai seorang pekerja kemanusiaan yang bergerak dalam bidang pengembangan masyarakat. Saya sendiri melihat kegiatan-kegiatan pengembangan masyarakat yang selama ini telah terjadi mengalami pasang surut dalam hal metode-metode dan strategi untuk penyadaran masyarakat tentang kemiskinan yang ada di sekitar mereka dan bagaimana mereka mampu memanfaatkan potensi-potensi sumber daya manusia maupun alam di wilayah mereka untuk memperbaiki taraf hidup masyarakat yang ada.

Kendala yang dialami oleh para pekerja pengembangan masyarakat sangat beragam dan bervariasi namun secara umum hampir sama terjadi di mana-mana.

Terbatasnya waktu program (donor or community oriented?)

Dengan terbatasnya waktu program yang di danai oleh donor tertentu membuat pekerja pengembangan masyarakat lebih berorientasi kepada target yang harus dicapai dalam program mereka. Sering terjadi ambiguitas dalam memprioritaskan mana yang lebih penting, berproses dengan masyarakat untuk penyadaran tentang pentingnya program pemberantasan kemiskinan yang partisipatif yang tentunya membutuhkan waktu cukup lama (apalagi jika masyarakat yang kita layani termasuk wilayah yang sangat ‘remote’) atau memenuhi target kegiatan dan proses yang sudah terjadualkan sesuai disain proyek yang sudah disetujui donor?

Jika waktu program lebih lama (minimal 10-15 tahun) kemungkinan kita dapat mengoptimalkan proses yang benar-benar community based terjadi di tingkat masyarakat dan program yang dihasilkan bisa benar-benar berdampak.

Pendekatan yang tidak Kontekstual

Kadang-kadang lembaga pengembangan masyarakat bereksperimen untuk menguji coba suatu pendekatan, cara-cara maupun program yang menurut mereka baik dan sesuai standard (standard siapa?) digunakan di wilayah tertentu, padahal belum tentu pendekatan tersebut cocok dilakukan karena tidak sesuai dengan budaya, karakter dan tingkat pengetahuan masyarakat. Namun karena dipaksakan akhirnya hasil yang didapat jauh dari harapan. Contohnya, ada program air bersih untuk membuat MCK di salah satu desa yang sangat terpencil, maka dibuatlah MCK, bak air dibuat, kran dipasang, tempat pembuangan tinja juga sudah terpasang rapih. Kemudian kembalilah pekerja tersebut sebulan kemudian ke desa itu dan ia mendapati MCK tersebut masih rapih, bersih dan tidak dipakai! Ternyata masyarakat disana lebih senang membuang hajat di hutan dan kebun mereka daripada di MCK yang sudah dibuat karena mereka merasa tidak nyaman berada di dalam bilik MCK yang terkungkung. Pendekatan secara kultur dan karakteristik di dalam setiap komunitas memampukan kita mengerti apa sebenarnya kebiasaan-kebiasaan mereka sehingga kita mampu menggali bersama mereka apa program yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.

Cara pandang masyarakat terhadap lembaga pemberi bantuan

Masyarakat masih melihat lembaga donor atau pemberi bantuan akan memberikan bantuan berupa fisik, uang dan nyata terlihat hasilnya seperti dalam bentuk pembangunan fisik (sekolah, MCK, Rumah Sakit, Pustu, jalan, beasiswa untuk anak, peralatan sekolah, Dana JPS, Dana peralatan pertanian, dll), dan mereka ingin terima bersih untuk bantuan-bantuan tersebut. Ini mungkin akibat kesalahan lembaga dan pemerintah juga yang nyata-nyata dalam beberapa dekade terakhir ini berlomba-lomba menyalurkan bantuan-bantuan kepada masyarakat miskin dalam bentuk bantuan langsung tanpa memikirkan dampak bantuan itu terhadap masyarakat yang dibantu.

Sehingga saat ini agak sulit masuk dan bekerjasama dengan masyarakat dalam hal partisipasi, dan penggalian masalah yang bersumber dari konteks mereka sendiri karena masyarakat sudah terbiasa “dimanja” dengan bantuan-bantuan yang lebih dahulu masuk. Mereka akan membandingkan program kerja kita dengan program-program yang pernah masuk yang tinggal dimanfaatkan saja oleh masyarakat tanpa perlu susah payah untuk melakukannya secara bersama-sama (partisipatif). Pada akhirnya program yang dijalankan secara sepihak tersebut tanpa benar-benar masyarakat merasa memiliki program tersebut tidak akan sustain melainkan jika anda angkat kaki dari wilayah itu, maka program itupun akan berhenti sampai disitu.

Kejenuhan Masyarakat Untuk Berdiskusi

Pada saat ini kecenderungan masyarakat untuk sama-sama memikirkan dan berdiskusi tentang hajat hidup mereka ke depan, bagaimana mereka dan anak mereka mampu hidup utuh sepenuhnya mendapatkan tantangan yang cukup berarti seperti kejenuhan masyarakat untuk meluangkan waktu dalam diskusi-diskusi yang cukup mendalam, kebanyakan masyarakat kita lebih memilih untuk beristirahat di rumah bersama keluarga atau ke ladang.

Masyarakat kita cenderung melihat hasil yang sudah ada dulu atau bentuk riil program yang kita bawa dibandingkan untuk cape-cape berpikir apa yang perlu dilakukan bersama untuk kepentingan mereka. Sehingga pekerja pengembangan masyarakat perlu jeli dan menerapkan strategi yang mampu mendorong dan menyemangati mereka untuk berkumpul dan berdiskusi.

Begitu banyak isu yang dapat kita bahas dan telaah jika kita membicarakan pengembangan masyarakat untuk pengentasan kemiskinan dan membawa masyarakat ke arah perubahan yang lebih baik dan hidup seutuhnya. Entah itu dalam hal konteks, pendekatan maupun implementasi (bisa jadi dalam bentuk best practise maupun lesson learned). Tulisan ini hanyalah sekelumit baris kata-kata yang sebelumnya terefleksikan pada saat penulis membaca buku-buku pengembangan dan membandingkannya dengan kegiatan riil di lapangan yang pernah dialami. Apakah teori-teori pengembangan masyarakat ini sudah sesuai dengan masyarakat yang kita akan layani? Atau…quo vadis?

 

Published for the first time on May 4th 2010