volcanoes eruption

Mendengar berita sore hari di Metro TV edisi PRAY FOR INDONESIA, dimulai dengan Bencana meletusnya Gunung Merapi di Jogja, kemudian dilanjutkan bencana lagi tentang tsunami di Mentawai-Sumatra Barat yang menelan ratusan korban jiwa….untuk melengkapinya, diberitakan gempa vulkanik di Selat Sunda dari Gunung Anak Krakatau terus terjadi. Saya jadi merinding,karena kalau membayangkan di Indonesia ini ratusan gunung berapi bercokol di setiap wilayah kita (kecuali Kalimantan) dan bagaimana ya kalau semua gunung itu rame-rame meletus…saya pribadi merasa sangat tidak berdaya menghadapi segala bencana ini. Apakah Tuhan sudah begitu marahnya terhadap bangsa kita? Karena seakan-akan bencana tidak henti-hentinya menggempur wilayah Indonesia, negaraku tercinta ini…

Bagaimanakah Negara kita membentengi rakyatnya di daerah bencana untuk selalu waspada jika tiba-tiba terjadi bencana entah itu gempa, tsunami, banjir dan lain-lain melanda? Kita semua tahu sejak dulu kalau Negara kita ini adalah Negara kepulauan yang rentan dengan tsunami, juga Negara dimana lempeng-lempeng gempa berseliweran melewatinya, kalau di Palu sendiri, ada lempengan Palu Koro yang harus diwaspadai, belum lagi puluhan mungkin ratusan gunung berapi yang masih aktif. Tentunya sangat naïf kalau rakyat Indonesia harus memilih tinggal di wilayah yang aman saja kalau hampir di seluruh wilayah NKRI bahaya bencana selalu mengintai seperti diucapkan oleh seorang pejabat tinggi Negara kita yang seperti menyalahkan rakyat kita yang tinggal di daerah bencana, tidak habis pikir saya kenapa ada wakil rakyat yang bisa bisanya punya pikiran sedangkal itu.

tsunami victims...

Nah, sudah tahu Negara kita ini rawan bencana, terlebih sejak bencana tsunami Aceh tahun 2004, seharusnya Negara menganggarkan budget yang selayaknya untuk mitigasi bencana dan mempersiapkan rakyatnya di wilayah bencana. Berkaca dari pengalaman bangsa Jepang yang wilayahnya juga rawan gempa dan tsunami, harusnya kita belajar (nah kalau anggota DPR yang terhormat studi banding ke Jepang dalam rangka belajar mitigasi bencana dan bagaimana penganggarannya saya setuju banget nih) dari sepupu tua kita itu yang jika ada bencana rakyatnya sudah terlatih untuk menyelamatkan diri dan keluarga mereka. Early Warning System (EWS) untuk wilayah rawan tsunami di Jepang juga berfungsi dengan baik sehingga pada saat yang tepat mereka sudah bisa memperingati masyarakat di wilayah itu untuk segera evakuasi.

risk reduction

Penulis  tidak mengerti bagaimana program EWS dan mitigasi bencana yang dibuat oleh pemerintah kita. Saya pernah baca tentang Gempa Padang, sebelumnya Pemerintah SumBar sudah pernah beberapa kali melatih mitigasi bencana jika terjadi gempa dengan masyarakatnya, sampai kalau tidak salah menjadi kota yang terbaik dalam pelatihan ini, tapi apa nyana, sewaktu gempa benar-benar datang….tidak ada yang siap sama sekali…seakan-akan latihan-latihan yang sudah dilakukan tidak berarti apa-apa…jadi apakah yang salah?

Ayolah…do something dong Pemerintah RI !!! Kalau tidak kita menjadi Negara yang benar-benar bodoh dan memalukan, karena setiap bencana terjadi selalu akan banyak jatuh korban jiwa, hilang dan luka-luka dan selalu kita tidak siap, tiba masa, tiba akal.. padahal seharusnya kita mampu untuk meminimalisir jatuhnya korban dengan belajar dari pengalaman Negara lain, dari pengalaman kita sendiri dari beberapa kali bencana besar yang terjadi…Mana pembelajarannya?

Di pemerintahan daerah kita, setahu saya ada BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) yang menggantikan Satlak/Satkorlak, belum lagi katanya dulu ada TAGANA bentukan satkorlak di setiap desa, saya dengar ada anggaran besar dikucurkan dari Pusat di Badan-Badan ini…Disini saja saya sering melihat mobil TAGANA dan mobil kebencanaan yang gagah berseliweran di jalanan kota raya tapi tidak tahu untuk apa?

Berbagai organisasi lokal maupun internasional sejak tsunami Aceh berbondong-bondong melakukan berbagai pelatihan mengenai mitigasi kebencanaan. HVC (Hazard, Vulnerability and Capacity- Bencana, Kerawanan dan Kapasitas Masyarakat), DRR (Disaster Reduction Risk), RRP (Reduction Risk Program) dan program-program pelatihan mengenai kebencanaan membanjiri negeri 1001 bencana ini…program kebencanaan menjadi program seksi yang mudah mendapatkan funding, nah tapi sekali lagi, setelah pelatihan-pelatihan itu, alam seakan membuat ujian langsung untuk para lulusan ini, apakah masyarakat dan pembuat kursusnya lulus dalam ujian kebencanaan ini? Hmm..belum ada datanya tuh….

Kalau ditanya membentuk Dinas yang baru, organisasi, forum dan entah apalagi deh namanya, mudah sekali dilakukan di Negara kita ini, tapi apa gunanya kalau semua bentukan kelompok yang harusnya berbuat lebih untuk penanggulangan bencana itu tidak berjalan? Hanya di atas kertas saja dan memenuhi administrasi dan budget bisa dikorupsi…(penyakit kronis pejabat di negeri ini).

Apalagi saat ini, sudah tahu banyak gunung berapi yang mulai aktif dan batuk-batuk kembali, tsunami sudah terjadi di Mentawai, bencana Wasior baru saja berlalu, tentunya kita harus mempersiapkan diri kita, rakyat kita supaya dimanapun kita berada, anak-anak kita, petani, ibu-ibu, bapak-bapak nelayan, siapa saja…..mampu melakukan evakuasi dini dan penyelamatan keluar dari bencana yang terjadi. Jangan sampai terjadi kiamat-kiamat kecil di bumi nusantara ini…hanya karena kita tidak mau belajar dari pengalaman sebelumnya. Selain bertobat, berdoa dan minta ampunan Yang Maha Kuasa untuk segala dosa-dosa kita, tentunya bukan untuk melawan takdir jika kita berikhtiar untuk berusaha menghindar bencana-bencana alam ini… Ya Tuhan lindungilah bangsa kami….

Mungkin kita harus belajar dari pendiri Pramuka yang mengharuskan setiap Pramuka mempunyai motto seperti ini: Be Prepared…the meaning of the motto is that a scout must prepare himself by previous thinking out and practising how to act on any accident or emergency so that he is never taken by surprise; he knows exactly what to do when anything unexpected happens” ~ Robert Baden Powell, (Motto of the Boy Scout movement.- Scouting for Boys)

Pramuka kita?

Published at the first time on October 30th 2010, for Kompasiana