Perburuan - buku yang saya beli thn 2003

Novel ini adalah novel yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer pada saat beliau di tahan oleh Belanda dalam penjara. Sebuah novel yang mengantarnya langsung sejajar berdampingan dengan penulis dunia lainnya seperti Camus dan Steinbeck. Siapa yang tidak kenal dengan Pramoedya Ananta Toer? Seorang tokoh dan penulis sastra yang menulis karya-karya tulisannya yang kemudian diakui dan disejajarkan dengan penulis-penulis dunia lainnya. Salah seorang putra bangsa yang mengharumkan nama Indonesia dengan mahakarya tulisannya (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca…semuanya ini adalah buku-buku yang dilarang diterbitkan di era Orde Baru, termasuk Perburuan).

Setting cerita dalam novel ini adalah sebelum kemerdekaan Indonesia, alur yang dimainkan seperti dalam pewayangan, dan yang memakai pendekatan realis-sosial, dimana seorang anak Wedana, Hardo menjadi orang yang dicari-cari oleh tentara Jepang karena dia yang tadinya juga masuk PETA, tentara Jepang. Namun karena dia memberontak akhirnya dia diburu oleh tentara Jepang. Bapaknya menjadi gila. Dalam kegilaannya dia bertemu dengan Hardo, bercerita dengannya, tapi tidak mengenalinya.

Ia mempunyai kekasih bernama Ningsih, dan teman baik seorang Karmin. Karmin masih di ketentaraan Jepang dan di mata masyarakat dia adalah seorang penghianat bangsa. Ia menghianati teman-temannya yang menjadi pelarian dan menyamar menjadi para gelandangan (Kere). Sekalipun Hardo menjadi seorang fugitif atau pelarian tapi ia dicintai oleh rakyat, seluruh rakyat mengagumi Hardo, seorang anak bangsawan yang mau menderita dan lari dari kemewahannya untuk berjuang demi sebuah idealisme. Sementara Karmin, yang juga mencintai Ningsih, ternyata tidak mampu berbuat seperti Hardo. Ia bahkan membujuk Ningsih, untuk menyerahkan Hardo.

Dai Nipon menekan calon mertua Hardo untuk menyerahkan Hardo, sehingga sang ayah, yang sangat tertekan dan juga seorang penjilat, mau susah payah mencari Hardo yang telah menjadi seorang ‘kere’ (gelandangan) dan membujuknya untuk kembali, menyerahkan diri.

Ningsih, setia kepada Hardo, meskipun juga dia sendiri tidak tahu apa-apa tentang nasib Hardo. Dia sangat marah pada Karmin karena mencoba membujuknya untuk meninggalkan Hardo, dan sangat terkejut karena ayahnya ternyata juga menjadi antek-antek Nipon.

Di akhir cerita, keadaan masyarakat yang miskin akibat penjajahan Belanda sangat menderita. Dimana-mana terjadi busung lapar, ketelanjangan, kemelaratan, penggambaran kemiskinan sangat jelas terlihat. Seorang Hardo terpaksa harus bersembunyi dari kebun ke kebun, lari di pematang2 sawah dan perkebunan tebu…dari kejaran tentara Dai Nipon yang bengis. Terpaksa meninggalkan keluarga dan kekasih yang disayanginya.

Sementara, penguasa, Dai Nipon, tidak pernah mampu menangkap Hardo dan sangat kesal akan hal itu akhirnya mereka menekan bapaknya Ningsih, tipikal orang penakut dan penjilat.

Akhirnya, pada saat Indonesia merdeka, di saat sadar bahwa Indonesia merdeka, keadaan berbalik bagi Karmin dan Dai Nipon. Rakyat yang ingin mengadili mereka, dan ingin membunuh mereka, kemudian dihalang-halangi oleh Hardo. Namun tragis, di saat perjuangan sudah mencapai titik kemenangan, ia harus kehilangan kekasihnya di depan mata karena tembakan peluru serdadu Dai Nipon…

Alur cerita yang dinamis, ditambah dengan bumbu-bumbu romantisme (revolusioner-romantisme) menjadikan novel ini menarik untuk dibaca.

Seorang Hardo, dengan idealismenya untuk kemerdekaan bangsa, melawan tentara Dai Nipon yang berkuasa, lari dari keluarganya, mengorbankan ayahnya, mengorbankan kekasihnya, mengorbankan kehidupan mapannya, untuk sebuah cita-cita….meskipun cita-cita yang akhirnya didapatkannya harus berakhir juga dengan memakan korban orang yang ia cintai.

Saat ini, apakah banyak orang seperti Hardo, yang mau berjuang untuk cita-cita negerinya dan berani mengorbankan kemapanan? Hmm…I wonder….

The Fugitive, English Version of Perburuan

Penggunaan simbol-simbol karakter Wayang Jawa:

The Fugitive (English version) 

Karakter Wayang, diwakili oleh karakter-karakter yang kompleks, berbeda dengan drama-drama Eropa abad pertengahan yang bertema moralitas, perjuangan bukan antara yang baik dan jahat, melainkan oleh hasrat manusia, kedua-duanya memiliki kebaikan dan keburukannya. Ada kebencian, ada cinta, pengorbanan dan penghianatan, kekejaman dan keramahan, semuanya berdampingan, seringkali pula hanya berbeda sebaris kalimat diantaranya. Karakter yang ’terbaik’ adalah karakter yang mampu mengendalikan emosi dan hasratnya.

Pertarungannya kemudian adalah antara manusia dan emosinya, konflik yang terjadi adalah dari apa yang kita ingin lakukan dan dengan apa yang kita rasakan harus kita lakukan. (want dan feel ought to). Seperti juga dalam tema drama asia lainnya, contohnya dalam Kabuki (drama Jepang) pilihan antar giri dan ninjo, kewajiban dan rasa belas kasih, yang pada setiap kasusnya…bukanlah suatu pilihan sebenarnya, karena tugas atau kewajiban haruslah dilakukan, karena kalau tidak dilakukan, karakter pahlawannya akan mati, biasanya dengan tangannya sendiri.

Dilema para pahlawan dalam wayang, seperti juga Kabuki, yang dilakukan biasanya bertentangan dengan rasa belas kasih, atau sebaliknya rasa belas kasih itu mengendalikannya untuk berbuat sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan.

Biasanya, dalam drama tersebut akan diakhiri dengan ledakan kekerasan. Kesetiaan sepertinya menjadi nilai tertinggi dalam tulisan-tulisan seperti ini, namun nilai individu biasanya beradu dengan nilai-nilai pekerjaan atau organisasi, contohnya budak Jepang, akan mengorbankan anaknya untuk melindungi keturunan tuan tanahnya, atau Karna, pahlawan berbudi halus dari pihak Kurawa (dalam kisah Mahabharata), yang tetap setia pada rajanya, meskipun ia menyadari bahwa lawannya lebih layak untuk dibela dan didukung (Pandawa). Untuk lebih mendramatisir, karakter pahlawan biasanya menyembunyikan identitasnya, berbuat seolah-olah ia gila, menjadi penjahat atau bajingan, atau menjadi sesuatu yang bukan sifat dirinya, hal yang tidak terlalu jauh dari tulisan-tulisan penulis di jaman Elizabethan (periode sastra Inggris) dan ini juga yang menjadi dunia penulisan Pramudya di novel ini.

Perburuan, dengan setting di akhir perang Kemerdekaan Republik Indonesia, di saat keadaan sedang chaos. Pahlawannya adalah seorang muda yang tercabut dari kehidupan normalnya (apakah di saat itu ada keadaan yang normal?), tenggelam dalam penyamarannya sebagai gelandangan, yang hanya diketahui oleh orang-orang pergerakannya. Kesetiaan orang-orang ini hanya dengan mereka sendiri dan perjuangan satu-satunya adalah mengalahkan Jepang, yang sebelumnya mereka layani untuk mencapai kemerdekaan bangsa kita. Perjuangan mereka bukan untk keluarga maupun orang yang mereka sayangi, karena dunia itu sudah tidak nyata bagi mereka. Untuk berhubungan dengan keluarga mereka, hanya akan merusakkan persaudaraan mereka, dan juga membayakan, karena polisi militer Jepang ditambah dengan tentara Indonesia yang bergabung, tentunya dengan mudah akan melahap mereka.

Tahun terakhir dalam perang merupakan pemilihan waktu yang tepat untuk novel ini, karena dengan karakter orang Jepang pada waktu itu yang digambarkan serakah, yang spirit perjuangannya ternyata begitu dikagumi di jamannya, seperti para Kurawa dalam cerita perwayangan, dan para Pandawa terwakili oleh para pahlawan muda yang menyamar menjadi gelandangan.

Tokoh utama, Hardo, menjadi simbol Arjuna, sang pangeran tampan, pejuang yang reflektif. Teman Hardo, si Dipo, mewakili Bima, dalam segala aksi, keinginan dan kekasarannya. Dan karakter ketiga, si pejuang Karmin, yang tadinya merupakan anggota kelompok persaudaraan ini, namun berbalik arah di saat-saat terakhir pada saat mereka siap-siap mengangkat senjata untuk melawan Jepang. Ia seperti Karna, seorang yang baik, di sisi yang salah, karena ia tetap setia pada atasan Jepangnya sampai saat terakhir. Penolakannya untuk menentang Jepang merupakan hasil dari pengalaman pribadinya sendiri, dihianati kekasihnya. Kekasihnya menikahi orang lain, dan ia gagal mengendalikan perasaan-perasaan pribadinya.

Percakapan-percakapan dinamis dan penuh arti mewarnai novel ini. Percakapan antara Hardo dan calon bapak mertuanya yang bekerja untuk Jepang; antara Hardo dan ayahnya, yang terusir karena hartanya habis oleh judi; antara Harod dan Dipo, yang menuduh Hardo terlalu sentimental; dan antara Karmin dan Ningsih, kekasih Hardo.

Yang paling aneh adalah pertemuan antara Hardo dan ayahnya, karena disini Hardo tidak membuka tabir siapa dirinya, meskipun ayahnya dengan putus asa dan rapuh ingin sekali mendengar berita tentang anaknya. Namun Hardo, seperti pahlawan Jawa pada umumnya, mampu mengendalikan dirinya.

Penghianatan kelihatannya menjadi tema utama dalam percakapan-percakapan dalam novel ini, ada calon mertua yang menghianati Hardo, Dipo yang ingin Hardo membunuh Karmin karena penghianatannya, Karmin berusaha supaya Ningsih mengerti mengapa ia melakukan penghianatan itu seperti dalam dialog ini…”mungkin kau tidak dapat melihat mengapa seseorang dianggap berkhianat, mungkin bukan hal itu yang menyebabkannya…” Klimaks terjadi pada saat Jepang menyerah, seorang serdadu Jepang mengamuk dengan senjatanya, Ningsih tertembak dan mati, dan Karmin hampir terbunuh oleh Dipo dan gerombolan orang banyak yang bertekad balas dendam. “Bunuh saya!” ia berteriak , “saya komandan kompi Karmin. Saya seorang penghianat!” Kematiannya dihalangi oleh Hardo , yang tatapannya membuat rakyat luluh.

Mungkin kehidupan yang penuh ironi di sekitarnya, dan historis yang terjadi pada masa kemerdekaan, peralihan kekuasaan yang terjadi dari jaman Belanda ke Jepang dan kemudiaan ke era kemerdekaan, dimanakah posisi bangsa Indonesia pada saat itu? Apakah ia dan teman-temannya menjadi penghianat? Untuk Belanda, mereka berkhianat karena membela Jepang, untuk Jepang sendiri? Berhianatkah para pejuang, seperti Soekarno dan founding fathers lainnya, yang sepertinya mempergunakan kesempatan datangnya Jepang ke Indonesia untuk lepas dari Belanda, berkolaborasi dengan Jepang dengan satu tujuan mempersiapkan kemerdekaan Indonesia?

Pramoedya Ananta Toer, penulis fenomenal Indonesia, ironi dan ambuiguitas tulisan dan hidupnya perlu

Sang legendaris!

mendapatkan apresiasi. Ia dipenjara oleh Belanda pada jaman penjajahan Belanda, dan pada saat Belanda pergi, ia masuk penjara oleh kaumnya sendiri dari tahun 1965 – 1979. di awal tahun 60an, Pramoedya menjadi editor dari majalah budaya Lekra yang beraliran kiri dan pro pemerintah pada jaman itu. Dan setelah itu, Pramoedya juga dipenjara dibawah pemerintahan Soeharto karena dianggap tulisan-tulisannya beraliran sosialis dan komunis. Indonesia perlu bersyukur mempunyai Pramoedya Ananta Toer, apapun tujuannya dalam menulis, kita harus membaca tulisan-tulisannya sebagai saksi sejarah dunia, dimana pilihan-pilihan moral dan politik dapat menjadi pilihan hidup atau mati.

A.Teeuw seorang pengamat sastra pernah menulis: “…bagi Pramoedya, menulis adalah berjuang untuk kemanusiaan, suatu kemampuan memandang ke dalam nilai-nilai eksistensi kehidupan (dan ini mengatasi segala ideology nasional atau politik)…., kendati apaun yang dikatakan mengenainya, Pramoedya Ananta Toer tetap merupakan penulis yang hanya satu lahir dalam satu generasi, bahkan satu dalam satu abad…”

Tulisan ini diperuntukkan untuk kemajuan Sastra Indonesia, semoga terlahir kembali sastrawan-sastrawan yang sejajar dengan Pramoedya Ananta Toer, yang karyanya menjadi mahakarya di luar negeri, meskipun raganya terpenjara dalam tiga kali masa kekuasaan di negerinya sendiri.

resources:

– here and there about Pramoedya Ananta Toer

– novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer

– others book reviews on Pramoedya Ananta Toer masterpieces

published in Kompasiana:

http://media.kompasiana.com/buku/2011/02/23/inkarnasi-tokoh-perwayangan-dalam-perburuan-sebuah-review-karya-sastra/