Women's Day

Hari ini, 8 Maret 2011, Perempuan Dunia dan juga di Indonesia merayakannya. Apa sebenarnya pengaruh perempuan terhadap kemajuan masyarakat, bangsa bahkan dunia sampai saat ini?

Menarik membaca salah satu tulisan Kevin Jenkins berjudul “No Development without Gender”, yang mengulas tentang bagaimana peranan perempuan dalam pembangunan masyarakat tidak bisa berjalan jika peran laki-laki di dalamnya nihil.

“We must find a way to give men meaningful work before women will be truly empowered.“, sepertinya pernyataan ini agak kontroversial, namun jika dicermati, dalam banyak kegiatan yang dilakukan di masyarakat, jika kita memberdayakan perempuan tanpa membantu para pria untuk menyesuaikan diri dalam pemberdayaan itu, hasilnya akan membuahkan energi yang buruk dan akibatnya akan kurang berpengaruh dalam fungsi-fungsi dan pencapaian yang kita akan lakukan bersama.Hal ini terutama terjadi di negara-negara yang masih berkembang di belahan Asia dan Afrika.

Mengingatkan kita pula bahwa jika kita membicarakan ‘jender’ bukan hanya berkutat dalam idealisme kaku untuk ‘mempromosikan kesetaraan perempuan’. Karena seharusnya setiap insan mempunyai fungsi masing-masing dalam membangun masyarakat yang lebih baik, entah itu perempuan ataupun laki-laki,  dan hal ini perlu diperhatikan baik-baik dan digaris bawahi jika kita bekerja dalam ranah pengembangan masyarakat (comdev) sehingga karya kita dan masyarakat dapat berkelanjutan.

our special day

Namun demikian, yang terjadi di dunia saat ini anak perempuan dan perempuan dewasa lebih banyak menghadapi ketidak adilan dibandingkan laki-laki dan juga kurang mendapatkan kesempatan dibanding laki-laki di dunia ini.

tangguhnya perempuan🙂

Dalam bukunya Half the Sky, Turning oppression into Opportunity for Women Worldwide, Kristof dan WuDunn menjelaskan lebih detail tentang perjuangan perempuan dan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya terutama di Asia Tengah.

Banyak hal yang membuat perempuan frustrasi berasal dari budaya dan kepercayaan dan agama setempat, namun banyak juga penderitaan yang diakibatkan karena kekerasan yang dialami langsung, dikatakan “perempuan dalam usia 15 sampai 45 tahun lebih banyak menjadi lumpuh atau meninggal karena kekerasan oleh laki-laki dibandingkan karena kanker, malaria, kecelakaan lalu lintas atau peperangan.

Dalam beberapa penelitian di dapatkan metode yang berhasil untuk mendorong keluarga untuk mempunyai sedikit anak (KB) adalah dengan memperbaiki kesehatan bumil dan anak, dan juga dengan mempromosikan pembangunan dimana perempuan juga mendapatkan keuntungan di dalamnya. Laporan yang diterbitkan oleh NGO asing juga menyebutkan bahwa setiap penambahan satu tahun pendidikan anak perempuan, meningkatkan pendapatan perempuan dalam hidupnya sampai sekitar seperlimanya.

Pada saat anak-anak perempuan ini mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, pendapatan yang sesuai, maka orang tua lebih cenderung untuk membiarkan anak-anak ini melanjutkan pendidikan mereka, selanjutnya mereka akan menikah dan kemudian melahirkan, selanjutnya perempuan-perempuan ini akan memperbaiki cara hidup dan kesehatan anak-anak mereka. Salah satu laporan memperlihatkan 40 persen penurunan malnutrisi di antara tahun 1970 – 1995 di akibatkan oleh membaiknya pendidikan bagi perempuan.

Dari data-data di atas, bagaimana dengan Indonesia? Hari ini kalau tidak salah ada berbagai aksi dan orasi yang terjadi di Jakarta dan daerah untuk memperingati Hari Perempuan sedunia, menurut data dari Tempo Interaktif “Per hari, 12 buruh migran perempuan meninggal di tempat kerja, 1600 buruh perempuan di-PHK, 20 perempuan dijual untuk komoditas seksual, dan 12 perempuan jadi korban kekerasan seksual.” (Dhyta Caturani, aktifis Perempuan)., ini data per hari, bagaimana kalau per bulan? per tahun? Masihkah potret perempuan ini akan berlangsung terus di negara kita?

the chinese proverb

Apakah perempuan Indonesia sudah mampu melewati tantangan jaman? Karena menurut buku Half the Sky, oh ya mengapa mereka mengambil judul buku Half the Sky dari peribahasa Cina yang mengatakan perempuan menatang setengah dari langit,  dalam bukunya ditulis mengenai Gendercide, istilah pemusnahan jender, dimana setiap hari terjadi pembantaian terhadap anak-anak perempuan terutama di dunia ketiga yang mengambil begitu banyak kehidupan anak perempuan dibandingkan seluruh genocide yang terjadi di abad 20 ini. Melalui buku ini mereka mendeklarasikan perjuangan global untuk kesetaraan perempuan dengan ‘the paramount moral challenge’ – tantangan moral tertinggi di era ini.

Berani terima tantangan?

Mari maju bersama para perempuan Indonesia!

Selamat Hari Perempuan Sedunia….

keep our dreams!

Selamat Hari Perempuan International

 

published in Kompasiana:

http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/08/hari-perempuan-sedunia-membangun-perempuan-indonesia/