Mindmap awal-cikal bakal Nombaca

Terinspirasi dari sebuah buku berjudul Desa Bahagia yang ditulis oleh Juan M. Flavier. Dalam bab penutup tertulis satu “kutipan” :

“ tidak ada sesuatu yang dibangun, pernah mencapai langit. Kecuali kalau ada yang bermimpi itu mungkin. Ada orang yang percaya bahwa itu bisa, dan ada orang yang yakin bahwa itu harus dilakukan” ~ Eugene W. Kettering ~

Yah, menurutku, Nombaca merupakan cikal bakal desa bahagia yang kita bangun bersama di kota Palu. Sebuah kota propinsi yang seringkali terlupakan bahwa ia kota propinsi Sulawesi Tengah yang masih berada di Indonesia.

Teman saya Frida pernah dikirimi surat dari keluarganya di Medan dikirimkan ke Palu, Sulawesi Tenggara…. Entah bagaimana banyak orang belum tahu kalau di Pulau Sulawesi itu terdapat 6 propinsi saat ini. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan tentunya sangat terkenal dengan Manado dan Makassar-nya,  juga Gorontalo, ibukota propinsi Gorontalo yang mekar dari Sulawesi Utara; sedangkan Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat berbagi kekacauan dalam ketidaktahuan masyarakat di belahan lain Indonesia antara Palu, Kendari dan Mamuju.

Desember 2010, pada suatu acara seminar Interfaith di kota Palu, tercetus ide dari beberapa orang yang terlibat di dalamnya untuk kumpul-kumpul menceritakan buku-buku yang telah kita baca. Kebetulan sekali, yang bertemu ini merupakan orang-orang yang senang membaca, mengoleksi buku dan mempunyai kerinduan untuk membagikan buku-buku yang mereka telah baca ke orang lain.

Ide ini terinspirasi oleh sebuah film berjudul Jane Austen Book Club yang ditonton oleh seorang anggota Nombaca. Film yang menceritakan 5 orang biasa, yang digerakkan kecintaan mereka terhadap karya-karya Jane Austen dan kemudian sepakat berkumpul setiap hari Kamis untuk menceritakan kembali buku-buku Jane Austen yang mereka telah baca sebelumnya, lalu kemudian terlibat lebih secara emosi dengan buku-buku dan karakter-karakter yang ada di dalamnya, lebih lagi karakter-karakter itu kemudian mempengaruhi mereka dan mengubah cara pandang mereka terhadap sesuatu yang sebelumnya tidak pernah mereka perhatikan. Akhirnya, buku-buku itu mengubah mereka, menjadi lebih baik dan lebih gembira.

Itulah mungkin inti dari terbentuknya club reader Nombaca ini, membuat anggota-anggotanya menjadi lebih baik dan lebih gembira dengan buku-buku yang mereka baca dan mereka bagikan dalam kelompok ini. Bukan review buku yang berat sehingga orang harus berkerut atau mempunyai pengetahuan lebih untuk mengartikan buku-buku ‘berat’ yang dimaksud, melainkan mencari sisi humanis, sisi indahnya kata-kata, pengalaman sang pengarang, sisi kehidupan ‘the real’ dari buku-buku tersebut, sisi aktual yang terjadi dalam kehidupan saat ini, sisi informasi yang membukakan nuansa dan pengalaman baru bagi yang mendengarnya….sisi yang menawan orang-orang muda untuk lebih tertarik dalam membaca dan membuka impian mereka di masa depan untuk menjadi sesuatu yang mereka inginkan, bukan sesuatu yang orang dewasa inginkan.

Itulah kemudian yang menjadi moto Nombaca: membantu literasi kota Palu. Sederhana saja, membantu dalam hal membuka pemikiran-pemikiran baru, membantu anak-anak, remaja ataupun orang dewasa senang membaca dengan cara mendiskusikan hal-hal menarik yang kita dapatkan dari buku-buku, lebih besarnya lagi bisa saja membantu pemerintah, sastrawan atau budayawan lokal, dan komunitas lainnya untuk memperkenalkan buku-buku lokal yang sering tidak dikenal oleh anak-anak negeri Tadulako ini.

Pertemuan pertama dihadiri oleh 5 orang, anehnya lima orang ini ternyata punya kesamaan serupa yaitu sering menulis di beberapa citizen journalism dan koran nasional maupun lokal sebagai penulis lepas. Entah apakah ini menunjukkan hubungan signifikan antara kesukaan membaca yang bertalian erat dengan menulis ya? Orang bilang kalau kamu sering membaca, tidak lama kemudian ada keinginan yang menggebu-gebu untuk menuliskan pemikiran-pemikiran yang kita baca.

Lima orang ini, Frida, Hilda, Ahsan, Neni dan Pai (nama Nombaca diberikan oleh bung Pai, terukir dalam sejarah, bro…) kemudian mendiskusikan terbentuknya Nombaca, sebuah club reader di Palu yang bertujuan untuk membantu literasi kota Palu.

Setelah pertemuan perdana di kedai kopi Juanda (di Jalan Juanda) pada tanggal 18 Desember 2010, yang direkomendasi oleh bung Ahsan, maka kemudian disepakati untuk membuat pertemuan yang lebih teratur yaitu minimal dua kali dalam sebulan mengingat juga kesibukan teman-teman semua yang terdiri dari berbagai latar belakang pekerjaan. Kemudian akan dibentuk komunitas Nombaca di facebook dan website komunitas dengan nama www.nombaca.org.

Pertemuan kedua, kelihatan kami serius sekali dengan buku-buku yang kami baca pada saat itu. Sehingga semuanya (kecuali Neni dan Pai) membuat resensi buku yang singkat, lengkap diketik 1,5 spasi jaraknya, kurang dari 4000 kata dan diprint 5 kali untuk dibagikan ke anggota lainnya pada saat pertemuan.

Buku-buku yang pada saat itu kita review adalah Cerita-Cerita Laten Linda – Linda Christanty (Neni), The Fifth Mountain – Paulo Coelho (Frida), Inkarnasi Tokoh Perwayangan dalam ”Perburuan” karya Pramoedya Ananta Toer (Hilda), Happy Writing – Andrias Harefa (Ahsan) dan Pai sendiri lebih berperan sebagai moderator dan komentator yang berwawasan sangat luas.

Sungguh tidak terasa ya waktu begitu cepat berlalu, pertemuan-pertemuan di Nombaca telah berlangsung selama satu semester. Belasan buku sudah didiskusikan dengan penuh semangat dan kegembiraan yang muncul di dalam setiap diskusi.

Di markas Nombaca ini juga (Perpustakaan Mini Nemubuku, Jalan Tg.Tururuka No.17 Palu) pertemuan dengan teman-teman baru berlanjut, dan menambah selain ilmu, juga jejaring yang ada di kota Palu. Disini kami bertemu dengan pemikir-pemikir modern, kontemporer maupun yang konservatif. Bukan hanya dari aliran yang hobi membaca buku, tapi ada juga yang dari media lain seperti penyuka dan pembuat film independen-Palu, jurnalis, budayawan, blogger mania, politikus, pengajar dan pekerja sosial. Disini kita menemukan dunia baru, sebuah desa baru baru terbentuk untuk mengekspresikan ide-ide dalam buku maupun dalam kehidupan sosial kita.

Ada 3 kegiatan yang setidaknya diprakarsai oleh club reader Nombaca-Palu. Yaitu, pertemuan member salah satu citizen journalism terkemuka nasional untuk Kota Palu pada bulan Februari 2011, lucunya dari 4 anggota awal, 3 diantaranya punya akun di citizen journalism itu, yang saat ini dibaca oleh sekitar 2 juta orang Indonesia dan mempunyai member ribuan orang.

Kemudian, pada bulan April 2011 kita juga mengadakan kegiatan Koin Sastra untuk PDS HB. Jassin Jakarta dan Bazaar dan Bedah Buku Lokal untuk memperingati Hari Buku Sedunia pada tanggal 23 April 2011, bisa dilihat beritanya di http://nombaca.org/?p=56 . Kegiatan terakhir di bulan Mei 2011 para anggota aktif Nombaca ikut berpartisipasi meramaikan kegiatan pemutaran film-film independen kota Palu sebelum para sineas muda ini mengikuti kegiatan nasional di Solo.

Pada saat ini, Nombaca sudah menapaki 6 bulan umurnya, memang masih sangat muda. Disadari oleh kami, bahwa akan banyak proses yang terjadi dalam pertumbuhannya. Meskipun demikian, sebagai cikal bakal ”desa” informasi yang masih banyak harus berbenah dan menapak untuk mencapai Desa Bahagia dengan beragam karakter anggotanya, buku-buku dan tulisan-tulisannya, tentunya akan sangat diperlukan partisipasi aktif anggota masyarakatnya untuk memajukan desa ini.

Hal tersebut saat ini difasilitasi selain melalui diskusi buku reguler dua kali dalam sebulan di markas Nombaca (baca: Perpus Nemubuku-red), terdapat juga Komunitas Nombaca di facebook yang baru saja menapak 114 members, website Nombaca.org juga sudah dibuat untuk menampung tulisan-tulisan menarik dari anggotanya. Twitter Nombaca juga disediakan untuk teman-teman yang ingin membuat pengumuman atau bertwittie dengan anggota Nombaca lainnya. Dan…para member Nombaca punya nama panggilan istimewa…NOMBACANERS!

The people must know their history, kata Maxim Gorky. Demikianlah sejarah singkat dari terbentuknya Nombaca Club Reader di kota Palu sampai saat ini. Semoga saja desa bahagia Nombaca yang kita sama-sama inginkan ini dapat menjadi satu warna indah diantara warna-warna pelangi lainnya yang akan mewarnai kota Palu menuju perubahan yang lebih baik…

Salam Nombaca (dalam bahasa Kaili yang mempunyai arti MEMBACA)