Beberapa tahun yang lalu, saya dan beberapa teman dalam kegiatan advokasi pernah berdiskusi mengenai Perspektif Gender dalam Strategi Advokasi. Hal ini yang kemudian memunculkan cerita kasus seperti berikut ini:

Mala, seorang anak perempuan berumur lima belas tahun bercerita tentang kehidupannya di negeri Maya. Di negeri Maya, penduduknya mayoritas laki-laki, dipimpin oleh seorang perempuan. Semua menterinya perempuan dan anggota parlemennya 90% perempuan. Menurut Mala, sebenarnya tidak ada peraturan negeri Maya yang melarang laki-laki untuk menjadi menteri atau anggota parlemen. Tapi kebanyakan mereka akan berpikir dua kali jika harus mencalonkan diri.

Coba bayangkan, di negeri Maya semua laki-laki bangun sebelum ayam berkokok. Mereka kemudian mulai memasak makan pagi untuk istri dan anak-anak mereka. Lalu, mereka menyiapkan seragam sekolah anak-anak mereka dan baju kerja istri-istri mereka. Disana, perempuan yang bekerja mencari nafkah sedangkan laki-lakinya di rumah mengurus rumah tangga dan mendidik anak. Jika ada yang bekerja pada umumnya di sektor informal karena mereka ingin mencari tambahan nafkah bagi keluarganya. Mereka tidak mungkin bisa meninggalkan rumah terlalu lama karena harus memasak untuk keluarga dan mengurus anak setelah mereka pulang sekolah. Terlebih lagi, mereka juga harus menyambut istri-istri mereka pulang dari kerja dengan senyum penuh cinta. Jika tidak, istri mereka akan marah-marah…

Pulang sekolah, Mala bisa langsung mengerjakan PR di rumah temannya atau sekedar berjalan-jalan di ma. Sementara, Mada, adik laki-lakinya, harus langsung pulang karena ia harus membantu ayah mengurus urusan rumah dan memasak. Mada juga harus mencuci baju semua orang di rumah. Pada umumnya anak laki-laki mengerjakan PR di pagi hari karena terlalu capai di malam hari setelah membantu ayah mereka membereskan rumah.

Dalam keluarga yang miskin, anak-anak laki-laki biasanya dianjurkan untuk tidak sekolah karena harus membantu ayah mereka di rumah. Sedangkan, anak-anak perempuan didorong untuk tetap sekolah karena merekalah calon-calon pemimpin negeri Maya.

 

Biasanya pertanyaan yang perlu didiskusikan seperti ini:

  • Setiap hari Mala akan bertanya-tanya dalam hati apa yang akan terjadi pada Mada?
  • Dan apakah yang akan terjadi pada anak-anak laki-laki lainnya?
  • Apa yang salah di negeri Maya?
  • Apa yang harus dilakukan untuk merubah situasi ini?

Saya pernah mempublikasi tulisan ini di salah satu blog. Selain menuai banyak diskusi, ada juga beberapa kecaman dari pemerhati jender. Beberapa merasa agak berlebihan membandingkan laki-laki hanya dengan urusan remeh temeh seperti memasak dan mencuci. Menurut mereka, seharusnya isu jender lebih besar dari itu…

Memang kelihatannya hal yang diceritakan Mala kelihatan begitu sepele, tapi itulah yang banyak terjadi di ranah ketidaksetaraan jender, khususnya di Indonesia. Mungkin saja, sebagian perempuan di kota-kota besar sudah bisa mengatur pekerjaan rumah tangganya dengan suami dan anak-anaknya. Tapi, banyak juga perempuan kita yang masih terbelenggu dengan konstruksi sosial yang dibentuk oleh masyarakat kita (terutama di pelosok-pelosok).

Pada akhirnya, semua itu akan membentuk budaya bangsa dimana perempuan harusnya tinggal di dapur, mengurus rumah tangga. Sementara, laki-laki berperan mengambil keputusan, menjadi kepala rumah tangga, pemimpin bangsa. Hal ini menjadi sangat penting dalam membentuk opini dan budaya masyarakat Indonesia ke depannya tentang fungsi dan peran perempuan (jender).

Seberapa besar peran perempuan yang menjadi populasi terbanyak negeri ini diberikan? Seberapa berani perempuan mengambil risiko untuk menjadi perempuan-perempuan tangguh di ranah politik, sains, agama, dan lainnya, untuk menjadi sejajar dengan laki-laki di bidangnya? Dalam hal ini, dia berani menentang arus. Berani memilih berbeda dari perempuan lainnya… Apakah negara sudah mengakomodir peran perempuan menjadi lebih besar lagi saat ini?

Mari kita merefleksikan bersama untuk memperingati Hari Ibu di Indonesia, yang telah diperingati beberapa waktu lalu, terutama mengacu kepada asal mula Hari Ibu itu diperingati di Indonesia. Sekedar informasi saja, lahirnya Hari Ibu bermula dari sumpah persatuan dan kesatuan yang diikrarkan dalam Kongres Pemoeda pada 28 Oktober 1928. Sumpah tersebut membakar semangat pergerakan wanita Indonesia untuk menyelenggarakan Kongres Perempoean Indonesia yang pertama pada 22 – 25 Desember 1928, di Yogyakarta.

demonstrasi 1953 (google)

Tema pokok kongres menggalang persatuan dan kesatuan antara organisasi wanita Indonesia yang pada waktu itu masih bergerak sendiri-sendiri. Kongres ini telah berhasil membentuk badan federasi organisasi wanita yang mandiri dengan nama “Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia” disingkat PPPI.

Peristiwa besar yang terjadi pada 22 Desember tersebut kemudian dijadikan tonggak sejarah bagi kesatuan pergerakan wanita Indonesia. Atas keputusan Kongres Perempoean Indonesia pada tahun 1938 di Bandung, 22 Desember ditetapkan menjadi Hari Ibu. Keputusan ini dikukuhkan dengan keputusan Presiden RI No. 316 tanggal 16 Desember 1959 menjadi hari nasional yang tidak diliburkan.

Nah, pertanyaannya sekarang, sampai seberapa jauhkah wanita dan anak-anak Indonesia dapat berperan dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bertanah air. Apakah Hari Ibu yang mempunyai nilai historis yang sangat mencerahkan wanita Indonesia ini akan memudar maknanya? Apakah perempuan, sebagai mayoritas penduduk di Indonesia ini masih tetap akan menjadi warga negara kelas dua di negeri ini?

Dipersembahkan untuk para ibu yang sudah berjuang dalam keluarga, dan negerinya…Ibu dan wanita-wanita hebat negeri ini…

 

Tulisan ini saya posting di Koki:

http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/6/2199/kisah_mala_di_dunia_maya

 

Tapi yang membuatnya menarik adalah komentar-komentar yang bermunculan karena artikel ini. Saya sharing disini komentar tersebut:

Dear Lovely, tulisannya sangat menyentak hehehehe. Perempuan, ah perempuan. Kalau pendapat Kin ya, budaya Indonesia menyebabkan bias jender. Contoh, orang Jawa membudayakan bahwa menjadi ibu, istri, perempuan itu harus ‘begini dan begitu’. Kalau berbeda, akan ada semacam ‘tudingan dan label’ bahwa perempuan itu sudah hilang Jawanya. Sementara, dengan mengenyam pendidikan, wajar bahwa pemikiran para perempuan Jawa ikut berkembang dan berharap ‘budaya’ yg dianggap kurang baik bisa diminimalkan. Sayangnya, generasi tua masih cenderung ‘menolak’ perubahan. Meski kalau ditanya alasan dibalik mempertahankan budaya tersebut, para generasi tua akan kembali pada prinsip ‘nguri2 kabudayan’ yang jelas kurang bisa menjadi alasan yang kuat. Karena kan hidup tidak statis. Ini menurut Kin ya. Salam hangat untukmu. Maaf ya kalau ada yg berkenan dr kata-kata Kin.
Posted by: kinanthi | Selasa, 28 Desember 2010 | 08:05 WIB
aku malah pernah melihat wanita2 desa melakukan kedua tugas bersamaan alias ngurus anak..suami..rumah dan pencari matapencaharian…tdk semua wanita double gardan dikota…memang dunia dr dl tdk pernah adil! Haha maka wanita lah yg perlu mencarinya dan menegakkan serta mempertahankan keadilan hidup selama msh diberi wkt.,hahaha..tulisan yg indah walo tdk berbicara keindahan!
Posted by: dewimeong | Selasa, 28 Desember 2010 | 06:40 WIB
absen dulu… salam kenal ya Lovely..🙂
Posted by: Lyna – Kuwait | Selasa, 28 Desember 2010 | 02:59 WIB
lovely..horeee tampil kan km.,sabar subur dweh wkwkwk
Posted by: dewimeong | Senin, 27 Desember 2010 | 23:25 WIB
@dewi meong: ya banyak juga perempuan yg double burden ya…di desa2 maupun kota2….bayangkan betapa sibuknya para perempuan perkasa itu ya…tanpa pamrih…🙂 semoga kita menjadi perempuan2 perkasa dan pemberani pada zamannya ….. makasih banyak ya, you support me a lot…ah jadi malu tulisannya dibilang indah….wkwkwkwk….

Posted by: Lovely Hammer | Selasa, 28 Desember 2010 | 09:44 WIB
@Kin: thanks so much utk komennya, benar, konstruksi yg dibentuk oleh masyarakat Indonesia banyak yg menyebabkan bias jender…saya setuju, meskipun jg tdk bisa dipungkiri banyak juga kemajuan yg dialami perempuan di Indonesia dibandingkan 20 thn lalu misalnya hehehe…sehingga advokasi ttg keadilan jender tetap perlu diberikan bagi seluruh lapisan masyarakat…yg paling berat saya pikir malah utk mengubah paradigma para pemimpin kita, entah itu dari pemerintah, agama, budaya maupun sektor2 lainnya…sistem dari negara pun kadang melegalkan ketidakadilan jender tsb…ooops…jadi panjang deh nanti hehehe…thanks utk a nice comment you gave, saya juga msh belajar banyak nih mbak Kin ehhehee…
Posted by: Lovely Hammer | Selasa, 28 Desember 2010 | 09:41 WIB
Congrats dengan artikel nomor perdananya … ditunggu artikel yang lainnya ya … bravo
Posted by: sirpa09 | Selasa, 28 Desember 2010 | 09:37 WIB
@Lyna: lam kenal juga yaaah, thanks udah mau baca hehehe…
Posted by: Lovely Hammer | Selasa, 28 Desember 2010 | 09:37 WIB
@dewi meong: hehehe, aku kirim lagi say, Dad baik sekali deh…😀 belajar banyak jg dari dirimu….kurang sabar daku hahaha…
Posted by: Lovely Hammer | Selasa, 28 Desember 2010 | 09:37 WIB

Keren……

Posted by: SU | Selasa, 28 Desember 2010 | 14:24 WIB
amien…asikkkk gw ketemu sama yg satu jurusan diskusi : GENDER….budaya patriakhi begitu kuat di indonesia sudah berakar kuat, sehingga ketika ada perempuan mau maju dianggap melanggar kebiasaan…tp syukur deh zaman udah mulai berubah sdh byk perempuan yg bisa beraktualisasi…malah terkadang perempuan menikmati hal ini glass ceiling ya istilahnya….kpn2 kontak by email ya mbak…salam wolf
Posted by: wolflew | Selasa, 28 Desember 2010 | 12:41 WIB
Lovely, panjang2 jg gpp kok hehehhe, ga bayar ini😛 yep bener, agama salah satunya jg, dan itu lebih sulit untuk bisa didiskusikan sambil nongkrong di warung kopi dengan kepala dingin hehehehhe karena agama benar2 sangat bergantung pada pemahaman dan penerimaan sang pemeluk. Terus menulis ya. aku siy mang seneng tulisan topik2 begini, jadi kebawa deh pengen komeng2 molo.
Posted by: kinanthi | Selasa, 28 Desember 2010 | 11:08 WIB
Saya selalu protes kalau ada pengisian data pada bagian kolom jenis kelamin: wanita. Bagi saya kata wanita berkonotasi merendahkan karena wanita (bhs Jawa: wanito= wani ditoto–> mau diatur). Jadi perempuan saja yang harus diatur-atur? Kalau masalah kesetaraan jender, saya setuju tetapi tentu saja setara bukan berarti sama bukan? Sebagai contoh dalam berumah tangga, saya dan suami sama-sama bekerja di luar rumah (sektor formal) tetapi dalam urusan domestik tetap saja ada perbedaan misalnya kalau ada atap/genteng bocor pasti suami yang harus naik untuk memperbaiki tetapi kalau anak sakit tentu saya yang harus lebih sering menemani karena dalam kondisi sakit naluriah anak ingin lebih dekat dengan ibunya pengecualian untuk pekerjaan rutin seperti memasak, mencuci, mengepel , meyetrika dan pekerjaan sejenis masih bisa bergantian siapa saja yang merasa lebih ada kesempatan. Salam kenal, Lovely.
Posted by: lafolweis | Selasa, 28 Desember 2010 | 10:11 WIB
@om Sirpa: thanks om, ini berkat support siapa dulu dunk..ehhehehee…aku senang sekali disini, banyak cinta dan care diberikan oleh para penghuni Koki disini…very warm welcome utk seseorang yg masih ingin belajar dari eastern indonesia…hiks.terharu…🙂
Posted by: Lovely Hammer | Selasa, 28 Desember 2010 | 09:46 WIB

Gara2 Om Dad nihh, saya jd rajin latian tinju..wkakakkaa

Posted by: Penyanyi Dangdut | Rabu, 29 Desember 2010 | 10:51 WIB
Spt= Sementara…Maaf salahh , maklum ngetiknya pake sarung tinju…
Posted by: Penyanyi Dangdut | Rabu, 29 Desember 2010 | 10:50 WIB
Bukannya sekarang uda lumrah justru laki2 yg bisa masak, spt pere2 cuma bisa tdr dan keluyuran?
Posted by: Penyanyi Dangdut | Rabu, 29 Desember 2010 | 10:49 WIB
@Nat: Bagusnya laki kayak gitu buang ke laut aje😛
Posted by: lafolweis | Rabu, 29 Desember 2010 | 06:56 WIB
sy maw curhat niy. ada sodara cewe punya anak 2. dia ngantor jg. suaminya niy superduper nyebeliiiiiiiiin. masa bininya dah kerja bwat bantu biaya RT, trus musti ngurus anak, ngurus rumah, ngurus keluarga lakinya jg. kalo ada apa2 (cth : anak sakit, rapor jelek, rmh berantakan, mertua sakit ) lakinya slalu bilang : itu tanggung jawab lo! kewajiban lo! pokoknya gak mau bagi tugas. aseeeeemmm! koq ga adil gt ya. kecian sodara sy mewek mulu ampe kurker, lakinya yg montok ma jjs mulu. *sebel. hidup selibat!
Posted by: Natya KGB | Rabu, 29 Desember 2010 | 06:14 WIB

@SU: thanks, masa sih??hehehe..masih belajar Bunda…🙂

Posted by: Lovely Hammer | Rabu, 29 Desember 2010 | 12:44 WIB
@wolflew: heheeh, terus terang saya juga masih belajar ttg kesetaraan jender terutama utk konteks indonesia, dng banyak teman2 di dunia maya dan nyata utk berdiskusi tentunya mempertajam pemikiran2 kita ya ttg issue ini….saya setuju budaya patriakhi sangat kuat di Indonesia, tapi itu juga terjadi di banyak bagian di dunia ini…Eropa dan Amerika dulu jg begitu, tp saya kagum bgmana perempuan disana puluhan tahun lalu, atau malah sudah ratusan tahun…(seperti Joan d’Arc di Prancis, atau tokoh feminis Virginia WOlf di Amrik) yg mau dan berani berjuang utk kesetaraan kaumnya…dan buktinya ya negara2 tsb sekarang lebih kuat dlm praktek kesetaraan jendernya…mungkin saat2 seperti sekarang, perempuan Indonesia hrs lebih lagi berjuang karena ruang2nya sudah mulai terbuka….makasih udah menyemangati ya…siip bisa aja kapan2 kontak2 dng email…😉
Posted by: Lovely Hammer | Rabu, 29 Desember 2010 | 12:43 WIB
@kin: utk kesetaraan jender dalam agama, hampir semua agama tetap tdk melihat perempuan sebagai mahluk yg setara…dng turunan Adam (menurutku sih..) jadi kalau ada anak laki2 bertanya kepada ibunya…mah, kenapa perempuan tdk bisa jadi pastor? atau tdk bisa jadi imam di mesjid…hmmmm…? gimana kita jawabnya? belum lg masalah poligami, kalau perempuan yg poliandri gimana hukumnya? hehehe, wah seru nih kita kalo mo diskusi ttg ini…banyak kasus2 KDRT juga di Indonesia, asal muasalnya krn doktrin agama yg sangat merendahkan perempuan….dan karenanya banyak perempuan jg selain nrimo…ya menerima perlakuan pasangannya yg buruk utk masuk surga sbg ibadah….ooooh…..???
Posted by: Lovely Hammer | Rabu, 29 Desember 2010 | 12:36 WIB
@lafolweis: kayaknya bagusan pake perempuan ya istilahnya hehee…iya inget, dulu pernah ada yg bilang sama saya arti wanita itu….thanks utk mengingatkan lagi🙂 untuk kesetaraan jender, mungkin kita hrs juga melihat secara konteks Indonesia, setaranya memang harus sampai dimana? ini masih dlm perdebatan…tentu saja paham2 feminis dari luar harus disaring juga apakah memang pantas utk perempuan Indonesia atau tidak, karena kadang2 juga akhirnya para pria ngelesnya bilang..loh katanya emansipasi…ya kerjain jg dunk atap genteng..hehehe atau di bis ada ibu2 hamil gak dikasih tempat sama pria2 yg duduk…krn emansipasi…hmm…? kesetaraan jender juga bukan semata2 hanya setara utk perempuan, tapi juga kedua belah sexes…perempuan dan laki-laki🙂 , selain urusan2 RT, lebih dari itu, sbg perempuan Indonesia juga hrsnya sdh banyak yg bisa jd pemimpin (bukan hy yg mau diatur)…di segala bidang, hehehe… salaaam kenal juga😉
Posted by: Lovely Hammer | Rabu, 29 Desember 2010 | 12:31 WIB
Lho PDD dah latihan tinju terus ya … …?
Posted by: sirpa09 | Rabu, 29 Desember 2010 | 11:04 WIB

artikelnya bagus nih. perjuangan utk kesetaraan gender bukan cuma milik kita. lihat aja nasib perempuan di india. slm kenal dari wyd ya

Posted by: wyd | Minggu, 2 Januari 2011 | 18:14 WIB
ok mbak mantap….ditunggu ya diskusi2nya
Posted by: wolflew | Rabu, 29 Desember 2010 | 13:13 WIB
@all: sorry baru bisa bales komen2 sekrg…konektivitas internet di eastern indonesia agak parah sih..heheheh…mohon di maklum😦
Posted by: Lovely Hammer | Rabu, 29 Desember 2010 | 12:58 WIB
@Penyanyi Dangdut: kesetaraan jender itu bukan hanya bagi perempuan…tapi juga untuk laki2, tdk dipungkiri ada juga kasus2 dimana KDRT malah terjadi pada laki2, namun kalau secara kuantitas dan kualitas…perempuan masih menempati paling tinggi terutama di Indonesia…sekitar 90%…wah suka tinju ya? hhehehe..saya jangan ditinju ya? salam kenal…
Posted by: Lovely Hammer | Rabu, 29 Desember 2010 | 12:54 WIB
@Natya: nah itu cerminan dari banyak perempuan yg berkarier di kota2 kita, karena suaminya masih berpikir dan mempunyai konsep yg turun temurun…kalau urusan RT dan semuanya…itu urusan perempuan…mengapa suaminya begitu? krn dia di didik dari kecil dan melihat keluarga, lingkungannya memperlakukan perempuan spt itu…ingat, anak2 mengingat dan meneladani orang tuanya…heheheh…nah….kalau kita mau memutus paradigma ketidaksetaraan jender seperti itu…harus mulai dari yg terkecil keliatannya ya? dari rumah hehehe… (semoga gak trauma sampai hrs selibat…hihihi..)
Posted by: Lovely Hammer | Rabu, 29 Desember 2010 | 12:49 WIB

heheee…kayaknya komen itu bisa dibuat satu tulisan lg di KOKI…ooopsss….sorry kalo kepanjangan… (barunyadar.com)

Posted by: Lovely Hammer | Kamis, 6 Januari 2011 | 22:31 WIB
@rmr: thanks a million for the nice comments hehehe… saya jadi inget puisinya Dale S. Hadley: Woman was created from the rib of man, Not from his head to be above him Nor his feet to be walked upon, But from his side to be equal, Near his arm to be protected… and.. Close to his heart to be loved to be equal…tapi juga to be loved….sepertinya kontras ya…okelah, sekalian aja saya kembali berbagi dengan kokiers ttg arti dari gender, jenis kelamin maupun kodrat yg sering menjadi polemik di masyarakat maupun pemerhati isu kesetaraan gender. Gender bukanlah jenis kelamin, namun gender dan jenis kelamin kedua2nya membicarakan perempuan dan laki2. Jenis kelamin secara umum digunakan untuk identifikasi perbedaan dari perempuan dan laki2, dari segi anatomi biologis sedangkan gender identifikasi konstruksi sosial budaya tentang perempuan dan laki2. Gender bukan hanya tentang perempuan namun tentang perempuan dan laki2. Sbg contoh dari perwujudan konsep gender sebagai sifat yang melekat pada laki2 maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan budaya, mis. jika dikatakan bahwa seorang laki2 itu lebih kuat, gagah, keras, disiplin, lebih pintar, lebih cocok untuk bekerja di luar rumah dan kalau seorang perempuan itu lemah lembut, keibuan, halus, cantik, lebih cocok untuk bekerja di dalam rumah (mengurus anak, memasak dan membersihkan rumah) maka itulah gender dan itu bukanlah kodrat karena itu dibentuk oleh manusia Oh ya, kalau Kodrat berbicara tentang laki-laki yang memiliki penis, perempuan memiliki vagina…perempuan haid dan melahirkan, itu kodrat yg tidak dapat di ubah oleh manusia… Gender bisa dipertukarkan satu sama lain, gender bisa berubah dan berbeda dari waktu ke waktu, di suatu daerah dan daerah yang lainnya. Oleh sbb itu, identifikasi seseorang dengan menggunakan perspektif gender tidak bersifat universal. Seseorang dengan jenis kelamin laki-laki bisa saja bersifat keibuan dan lemah lembut sehingga dimungkinkan pula bagi dia untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan pekerjaan2 lain yang selama ini dianggap sebagai pekerjaan kaum perempuan. Demikian juga sebaliknya seseorang dengan jenis kelamin perempuan bisa saja bertubuh kuat, besar pintar dan bisa mengerjakan perkerjaan2 yang selama ini dianggap maskulin dan dianggap sebagai wilayah kekuasaan kaum laki-laki. Disinilah kesalahan pemahaman akan konsep gender seringkali muncul, dimana orang sering memahami konsep gender yang merupakan rekayasa sosial budaya sebagai “kodrat”, sebagai sesuatu hal yang sudah melekat pada diri seseorang, tidak bisa diubah dan ditawar lagi. Padahal kodrat itu sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, antara lain berarti “sifat asli; sifat bawaan”. Shg, gender yang dibentuk dan terbentuk sepanjang hidup seseorang oleh sosial budaya yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi dan itu bukan kodrat. Sebenarnya gender tidak perlu dimasalahkan kalau saja hal itu tidak menimbulkan diskriminasi dan ketidakadilan gender terhadap salah satu jenis kelamin. Contoh saja, jenis kelamin anak mempengaruhi dia dalam kesempatan hidup, perbedaan biologis karena terlahir sebagai anak laki-laki atau anak perempuan seharusnya hanya penting pada saat anak-anak melalui masa pubertas, namun kenyataannya seluruh masyarakat memberikan peran, atribut dan kesempatan yang berbeda kepada anak perempuan dan laki-laki, mereka diharuskan mengikuti gagasan2 masyarakat tentang laki-laki itu hrs bagaimana, perempuan itu hrs bagaimana, apa yg boleh dilakukan oleh anak laki2 dan perempuan atau orang dewasa laki2 dan perempuan dan apa yg tidak boleh dilakukan… Lastly.. (udah kepanjangan soalnya niih) yg saya tahu peran gender dan kesetaraannya dpt dan selalu berubah, setiap saat dpt dilakukan oleh laki2 dan perempuan sesuai dengan kebutuhan, kesempatan dan komitmen kita… Saya kok yakin, perempuan2 Indonesia mempunyai waktu dan kesempatan yg besar saat ini utk berjuang bagi keseteraan kaum perempuan, mengapa…karena masih begitu banyak ketidakadilan (kasus kekerasan yg paling tinggi terjadi di Indonesia ada di KDRT dan TKW yg korbannya perempuan, menurut data dari Komnas Perempuan, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan meningkat setiap tahunnya, ada kenaikan jumlah kasus sampai 263% di tahun 2008-2009. Menurut data yang ada, jumlah kasus terbesar berupa kekerasan dalam rumah tangga, tercatat tahun 2008 sebesar 53,000 kasus, dan pada tahun 2009 angkanya meningkat menjadi 154,000 kasus), selain dalam kasus kekerasan terhadap perempuan, juga dalam hal ketidakadilan dalam budaya, agama, pendidikan untuk anak perempuan masih banyak terjadi di negara kita terutama di pelosok-pelosok..memang, perjuangan masih panjang utk kita…terima kasih utk bung rmr yg sudi mendukung penuh perjuangan kesetaraan gender ini untuk masa depan yang lebih baik bagi bangsa kita. Salam…
Posted by: Lovely Hammer | Kamis, 6 Januari 2011 | 22:29 WIB
saya bukan anti kesetaraan. saya mendukung kesetaraan dan sangat menghormati perempuan. namun semuanya itu harus ditata dengan benar dan sesuai pada hakikatnya masing2. masih panjang jalan menuju kesetaraan gender di dunia ini. Amerika aja blm ada presiden perempuan. mending kita udah ada. perlu pendidikan yag banyak untuk menyadarkan orang dari kekeliruan memperbudak “perempuan”.semoga suatu hari perempuan dan laki laki bisa “berdiri sama tinggi duduk sama rendah”. saya lebih setuju kalimat kesetaraan gender daripada emansipasi wanita/perempuan. emansipasi terkesan memaksa perempuan untuk “berani”. dan karena ada unsur paksaan ya kesannya tetap aja masih perlu di suruh2. Klo setara, artinya saling mengakui antara perempuan dan laki laki. jadi keduanya bersama sama mau dan sepakat. tidak ada lagi kesan suruh menyuruh. semoga hidup kita menjadi lebih baik salam dari yag baru belajar nulis rmr
Posted by: rmr | Rabu, 5 Januari 2011 | 15:34 WIB
artikel yang menarik dan banyak pembahasan yg mendalam. saya jadi ingat jaman kuliah dulu. pernah berdiskusi dengan guru bahasa inggris saya yang dari kanada. dia bilang gini :”it’s ok for me if i have to stay at home and doing all home things while my wife work”. saya agak2 lupa kelanjutan diskusi tersebut. tapi dia tidak membahas, bagaimana klo keduanya bekerja. sementara untuk kita sendiri masyarakat Indonesia, apa yang ada pikirkan klo yang perempuan yang kerja (sebagai pencari nafkah utama), dan si lelaki yang tinggal diruma mengurusi keluarga. mari jujur terhadap diri sendiri, bisakah kita menerima itu? Saya sendiri sempat berpikir, apakah tidak ada suatu budaya di dunia ini yang sama seperti “dunia Mala”, walaupun kebudayaan itu hanya tingal sisa2nya/sejarahnya saja. klo tidak ada pasti ada sebabnya. apa itu? apa beda lelaki dan perempuan? saya menemukan sedikit gambaran mungkin karena lelaki lebih kuat dalam hal fisik dan perempuan lebih kuat dalam hal perasaan (walaupun tidak semuanya selalu seperti itu). membaca tentang komentar bahwa kita meniru orang tua kita, saya jadi terbayang jaman dahulu kala sekali, jaman nenek moyang, dimana yang namanya perang, garong, dan kekerasan masih jamak di dunia. mungkin pada jaman itu, yang pergi perang adalah lelaki (bukan dalam arti perempuan tidak berani maju perang). faktor inilah uang memicu lelaki sering muncul sebagai pemimpin. (to be continue….)
Posted by: rmr | Rabu, 5 Januari 2011 | 15:23 WIB
@wyd…salam kenal juga, thanks udah mampir ya mbak…benar sekali yg mbak katakan, ini adalah gerakan perempuan di seluruh belahan dunia…dan sejujurnya, saya bangga, gerakan ini sudah mulai berkembang pesat di Indonesia, untuk kemajuan perempuan, meskipun memang masih banyak yg perlu diperjuangkan di berbagai sisi kehidupan…cieee….. India..?? disana juga berat memang perjuangan kaum perempuan…tapi setidaknya mereka pernah punya Indira Gandhi sebagai pemimpin…sangat fenomenal, melihat kultur dan budaya mereka yg bgtu merendahkan perempuan (sampai ada budaya kalau ada keluarga miskin ibunya melahirkan anak perempuan mereka membuang bayi perempuan itu…karena katanya menyusahkan…iiih sedih…)
Posted by: Lovely Hammer | Senin, 3 Januari 2011 | 11:13 WIB

Nanti dilanjut lagi deh…..