Match Made in Heaven, Kisah Klasik Pencarian Manusia akan Makna Hidupnya melalui Permainan Golf (Sebuah Review Novel Sastra)

Match Made in Heaven

Bob Mitchell, bukan seorang penulis buku atau pengarang yang sangat dikenal di kalangan para penulis internasional. Tidak bisa disamakan dengan John Grisham ataupun Sidney Sheldon yang karya-karyanya sangat popular di kalangan penyuka novel modern saat ini.

Ia adalah seorang pengarang 3 buku non fiksi tentang olah raga, seorang professor dari Universitas Harvard dalam bidang perbandingan sastra. Novel Match Made in Heaven yang saya baca minggu ini, membuat saya mengacungkan 2 jempol saya padanya, karena isinya yang benar-benar di luar dugaan saya.

Saya memang sering membaca novel-novel dari karya-karya penulis baik dari dalam dan luar, namun alur cerita seperti ini belum pernah saya baca sebelumnya sehingga saya bersyukur bisa membaca dan mengambil beberapa pembelajaran menarik dari buku ini. Match Made in Heaven, terdiri dari 19 Bab, 1 epilog dan 1 Catatan Tambahan dengan ketebalan buku 365 halaman. Cetakan kedua pada bulan Desember 2006 dalam bahasa Indonesia.

Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik melihat cover buku ini dengan gambar dari seorang yang mirip Leonardo Da Vinci dengan memegang bola golf di tangan kirinya. Melihat cover seperti ini kelihatan bukunya agak ‘membosankan’. Terlebih saya tidak terlalu paham dengan olah raga golf dan aturan-aturan-nya, maklum..rakyat jelata sih (kan biasanya di Indonesia orang-orang yang biasa berolah raga golf adalah kalangan elit ke atas, mungkin di Amerika sana, olahraga ini merupakan olahraga masyarakat menengah), sehingga menjadikan saya lebih tidak tertarik lagi.

Tapi entah mengapa minggu lalu saya iseng-iseng mulai membuka halaman demi halaman dari buku ini dan akhirnya seperti dihipnotis membacanya, menyerapnya, dan terpana karena isinya yang jenaka, cerdas dan mempesona sampai akhir.

Cerita bermula dari seorang professor perbandingan sastra di Universitas Harvard bernama Elliot Goodman, selain dosen, ia juga adalah seorang suami dan ayah dari dua anak.

Hari itu ia terserang serangan jantung di perpustakaan pada saat sedang mencari buku karyanya yang berjudul The Heart has its Reasons: The Individual vs. Society in Western Literature yang ditulisnya setahun silam.

Ia membalik halaman paling belakang buku itu untuk melihat berapa banyak peminjam buku itu dan kaget melihat hanya tertera satu kali peminjaman. Ia kecewa. Di saat itu ia merasa gagal dalam hidupnya, merasa sia-sia semua yang telah ia lakukan untuk hidupnya dan bertanya apa artinya meraih sesuatu dalam hidupnya? Lalu ia teringat pada si Pascal yang mengatakan apalah arti kita mahluk yang tiada arti, dibanding kebesaran jagad raya Tuhan? Lalu ia terkena serangan jantung…jatuh.

Elliot Goodman yang baru merayakan ulang tahun ke 50-nya hari itu bertemu Tuhan pada saat ia panik dan berdoa: oh Tuhan, aku tidak siap pergi, aku masih mau hidup, biarkan aku mendapatkan hidupku kembali, dan Tuhan menjawab: dan kenapa aku harus mengabulkannya? Mengapa aku harus mengembalikan nyawamu?

Elliot memberikan jawaban-jawaban klise yang manis dan sepertinya tepat kepada Tuhan untuk mempertahankan keberadaannya di dunia. Tuhan menolak semua jawabannya, bukan jawaban yang bagus alias yang sebenarnya..akhirnya Elliot menyerah dan mengatakan alasan sejujurnya: “…aku tidak tahu kenapa aku perlu diselamatkan, aku masih memikirkannya…aku masih bingung dengan apa yang telah kulakukan dalam hidupku dan apa arti itu semua…”

Dan karena jawaban jujurnya, Tuhan memberikan ia kesempatan untuk ia menyelamatkan hidupnya sendiri dengan syarat Elliot harus bermain golf dengan 18 hole (lubang), jika hasilnya seri akan ada perpanjangan waktu, jika ia menang Tuhan akan mengembalikan nyawanya, dan jika kalah, operasi jantungnya tidak akan berhasil!

Menariknya, ternyata Tuhan mewakilkan diriNYA kepada 18 orang berbeda yang sangat di kenal dalam dunia ini, untuk setiap hole golf, bertanding melawan Elliot. Orang-orang yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Disinilah menariknya buku ini, karena dalam setiap hole ini dengan setiap orang yang berbeda, Elliot berkesempatan belajar sesuatu yang sangat berarti untuk hidupnya, menjadikan bekalnya dalam kehidupan yang akan ia jalani kemudian.

Orang-orang top yang harus bermain dengan Elliot adalah: Sang pelukis Monalisa dan pemikir ulung, Leonardo Da Vinci; actor terkenal dari Philadelphia, WC Fields; sang pembebas, pemimpin bangsa Yahudi keluar dari Mesir..Nabi Musa; penyanyi kondang yang ditembak mati John Lennon; bapak psikoanalisis Sigmund Freud; sastrawan kondang dan penulis buku The Raven dan Ligeia, Edgar Allan Poe; filsuf terkenal dari Yunani, Socrates; pahlawan Prancis yang mengusir Inggris, Joan of Arc; seorang atlit wanita kawakan, Babe Didrikson; aktris cantik, seksi dan terkenal Marilyn Monroe; pelukis kubisme dan jenius terkenal Pablo Picasso; Presiden Amerika Serikat ke 16, Abraham Lincoln; composer besar dunia, Ludwig Van Beethoven; sastrawan dunia sepanjang masa William Shakespeare; sang Bambino, pemain bisbol legendaris, Babe Ruth; penemu dunia baru Amerika, Cristoforo Colombo- si Colombus; seorang pejuang Satyagraha, Mahatma Gandhi; terakhir, pegolf yang unik dan nyaris tak tertandingi… William Benjamin Hogan, the Ice Mon Cometh.

Pertandingan yang ketat, akhirnya dari 18 hole ini Elliot mendapatkan seri sehingga memerlukan perpanjangan waktu. Tahukah anda siapa pemain terakhir itu? Ia seorang tua yang dipanggil Dog, yang ternyata adalah Tuhan sendiri, Elliot baru menyadarinya setelah pertandingan usai dan ia kalah. Dog adalah kebalikan dari God.

Elliot panic sewaktu mengetahui ia kalah, tiba-tiba gelap menyelimutinya, ia berseru..aku telah berusaha…aku telah berusaha. Dan kemudian Tuhan bersabda, aku tahu kamu telah berusaha, oleh sebab itu aku memberimu mulligan (istilah dalam permainan golf yang mempunyai arti: lakukan lagi).

Mengapa Tuhan memberikan kembali hidupnya padahal ia kalah? Karena inti dari permainan ini bukan hanya menang atau kalah, Tuhan Maha Kuasa, namun Ia juga luwes. Dan apakah Tuhan menyelamatkan semua orang? Tidak, karena tidak semua orang mau berusaha atau menyerah, tidak seperti Elliot yang mau berjuang sampai akhir.

Setiap orang memiliki potensi besar, tapi kadang mereka tidak menyadarinya atau mereka tidak mau berjuang untuk hidup mereka. Dan Elliot pun mendapatkan hidupnya kembali, ia berhasil melalui operasi bedah jantung yang dihadapinya.

Dari keseluruhan isi buku, bab demi bab yang dilalui, terkesan kuat bahwa penulis adalah seseorang yang berkecimpung dan penyuka sastra, filsafat dan cakupan pemikiran-pemikiran kehidupan luas yang sering ia tuliskan di halaman-halaman tulisannya.

Bob Mitchell dengan apik merangkai cerita setiap bab dengan tokoh-tokoh hebat di dalamnya yang bertanding melawan tokoh sentral Elliot Goodman dalam permainan golf namun sangat manusiawi dan terkesan ingin membawa pembaca merenungi arti hidup kita sendiri. Ia sering menuliskan kutipan-kutipan terkenal dari filsuf-filsuf, sastrawan, dan orang-orang terkenal lainnya di masa lalu untuk menguatkan cerita dalam buku ini.

Jenaka, pada saat Elliot bertemu dengan Marilyn Monroe, ia sangat terpana dan terkesan, karena ternyata Elliot sudah jatuh cinta pada Marilyn sejak ia berumur 5 tahun melalui film yang ia tonton di bioskop bersama orang tuanya. Bab dimana Elliot bertemu dengan Shakespeare, Bob Mitchell menuliskan bab ini dengan unik dan jenaka karena kata-kata bab ini berbentuk syair, persis seperti karya-karya Shakespeare yang terkenal, dan banyak juga kalimat-kalimat syair Shakespeare yang dimasukkan di bab ini sebagai percakapan mereka. Sangat lucu.

Cerdas, alur cerita yang memasukkan tokoh-tokoh terkenal dengan pemikiran-pemikiran mereka yang brilyan, bersanding dengan tokoh utama si Elliot Goodman, pertentangan-pertentangan batin dan pemikiran sang tokoh utama setelah berbincang dan bermain golf dengan mereka, merenungi kehidupan yang telah mereka lalui dan cara mereka meninggalkan dunia ini, dan juga diskusi dan tawar menawarnya dengan Tuhan, membuat buku ini sangat menarik dan menggugah kita sebagai manusia.

Juga menjadikan pembacanya tersenyum dan juga merefleksikan apa yang sudah kita lakukan di dunia dan apakah kita pantas mendapatkan hidup ini?

Reflektif, dalam bab terakhir Tuhan akhirnya membukakan tabir mengapa Ia mengirim 18 orang-orang yang istimewa itu? Mereka adalah orang-orang yang mempengaruhi hidup Elliot, orang-orang yang ia kagumi, yang sudah ia kenal baik sehingga Elliot tidak kesulitan untuk belajar dari kehidupan dan karya-karya mereka.

Pembelajaran untuk Elliot, juga untuk kita semua ada di bab terakhir ini.

Kita bisa belajar ketegasan dari Da Vinci, belajar tidak berpikir panjang dari W.C Fields, belajar keadilan dari Musa, belajar tentang kegembiraan dari John Lennon, belajar berkonsentrasi dari Sigmund Freud, belajar mengenal diri sendiri dari Socrates, belajar tentang perjuangan dari Joan of Arc, belajar tentang kerendahan hati dari Babe Ruth, belajar tentang kesombongan dari Marilyn Monroe, belajar mengandalkan diri sendiri dari Pablo Picasso, belajar tentang integritas dari Abraham Lincoln, belajar tentang keinginan yang begitu besar dari Beethoven, belajar agar bisa mahir dalam banyak hal dari Babe, belajar tentang penemuan dari Colombus, belajar untuk bisa bersikap tenang dari Gandhi, belajar mengambil resiko dari kehidupan, dan terakhir adalah..belajar tentang hati dari…Tuhan.

Ada paradoks yang indah dalam hidup Elliot, ia kalah dalam pertandingan golf ini, namun ia mendapatkan kembali hidupnya karena ia bermain dengan hati yang terbuka dan mencurahkan semua kemampuannya. Buku ini berbicara mengenai kegelisahan jiwa pada saat ada tantangan dalam hidup.

Tentang keberanian dan daya tahan dan keterbatasan, kemanusiaan dan kebahagiaan dan banyak lagi. Sehingga bukan saja orang-orang penyuka golf yang mampu membacanya, orang lainpun akan mendapatkan nilai-nilai kehidupan dari buku ini, terutama karena kehidupan itu patut diperjuangkan, karena kehidupan kita begitu kaya, penuh warna, dan karenanya kita patut mendapatkannya jika saja kita mau melihat lebih dalam lagi dalam diri kita masing-masing.

Banyak sekali hal-hal menawan dalam kehidupan manusia yang disini dimetaforakan dalam permainan golf, dan banyak yang perlu dipelajari, terutama…karena diri kita mempunyai hati…

Akhirnya, meskipun agak terpatah-patah memahami cara bermain golf dan istilah-istilah dalam permainan ini dalam setiap bab-nya, secara umum saya dapat merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh orang-orang penyuka tulisan-tulisan filsafat dan sastra, meskipun menurut saya buku ini bukan filsafat yang begitu berat karena banyak hal-hal jenaka dan mempesona serta populer di dalamnya.

 

“…hidup yang tidak diuji adalah hidup yang tidak pantas untuk dijalani”

~Socrates~

Hammer City, Kamis dini hari, 30 Juni 2011

(sebelum berangkat ke Makassar untuk proses berobat)

di posting juga di Nombaca:

http://nombaca.org/2011/06/30/match-made-in-heaven-novel-refleksi-kehidupan-pengetahuan-dan-golf/