Bahasa Makassar Kuno

Dua minggu telah  berlalu saya berada di Makassar dalam rangka berobat, karena kantor merujuk kota besar terdekat yang bisa saya akses untuk itu. Saya tidak terlalu familiar sebenarnya dengan kota Makassar, mendingan disuruh keliling di Jakarta atau Bandung daripada mengitari kota ini hehehe, belum juga karena tidak ada saudara yang berdomisili di Makassar, sehingga kami merasa ‘alone’ sangat sewaktu mendarat disini.

Agak lucu dan aneh untuk mendengarkan dan berbicara dengan orang Makassar dan dialek yang baru saya dengar ini, haha…okelah, saya banyak teman di Palu yang orang Bugis maupun Makassar tapi karena baru berinteraksi dengan kota dan dialek disini kadang membuat kita tergagap dan mengernyit sedikit untuk mengerti artinya.

Partikel-partikel dialek yang kerap saya dengar digunakan orang Makassar adalah ki, mi, di, ji. Contohnya: kemana, ki? artinya, anda mau kemana? makan mi? bukan anda mau makan mie? tapi artinya “silahkan makan” hehehe…untuk ji mungkin contohnya: besar ji rumahnya, artinya “rumahnya besar khoq..” sedangkan partikel di, mungkin mirip juga ya dengan mi dan ji, seperti “obatna diminum nanti malam, di..” duuh rame deh pokoknya.

Ada cerita lucu pada saat saya pertama kali berinteraksi dengan orang Makassar dua tahun lalu. Di bandara Hasanuddin saat itu pesawat kami sedang transit dan sambil menunggu si pesawat datang, saya duduk di samping seorang Bapak dan ia mengajak saya ngobrol. Setelah beberapa saat si Bapak bertanya pada saya…mau kemana kita? laaah asli banget waktu itu saya bingung sebingung-bingungnya, karena untuk dialek melayu Manado, arti kata “kita” itu adalah “saya”. Jadi kan aneh sekali kalau si Bapak bertanya, mau kemanakah dirinya? Akhirnya dengan agak aneh dan sedikit “suspicious” saya menjawab…haah? ya ngga tau Pak, meneketehe Bapak mau kemana (keluar deh logat asli heheh), eh si Bapak juga bingung mendengar jawaban saya yang agak judes jadinya itu hehehe…

Untunglah di depan kami ada seorang ibu yang mendengar percakapan kami dan akhirnya dia mengerti ada kesalahpahaman yang terjadi dengan komunikasi kami antara Selatan dan Utara itu…diapun menyampaikan pada saya, arti “kita” itu dalam bahasa Makassar berarti “kamu” (bahasa yang sopan dan halus) dan berbeda dengan arti “kita” dalam dialek Manado. Oooh… I see…akhirnya kami tertawa bersama-sama pada saat itu. Kejadian yang tidak terlupakan deh.

Lumayanlah dalam 2 minggu ini mengenal sedikit dialek dan kehidupan Makassar yang merupakan kota terbesar di Indonesia Timur ini. Setidaknya kalau disuruh datang lagi kemari, saya udah ngga akan kesasar. Mal-mal sudah banyak, hotel-hotel, dan berbagai fasilitas layaknya kota besar ternyata sudah banyak terdapat disini (wah..wah…saya pikir dulu Makassar tidak secanggih ini loh..)

Oh ya, satu lagi tentang arti kata tonji, sebenarnya sudah pernah saya dengar tentang kata “tonji” ini sejak beberapa tahun lalu kalau tidak salah, dipopulerkan oleh anak-anak muda daerah (diambil dari judul lagu band lokal Art2Tonik)  ini untuk menunjukan fanatisme kedaerahan, Makassar bisa tonji...artinya Makassar bisa juga…

Bisalaaaaah….iya mi?

 

 

 

 

 

**oops….saya juga tahu banyak Kompasianers dari kota ini, dan nanti akan ada pesta blogging Kompasiana tanggal 23 Juli di Wisma Kalla ya (saya sering melewati gedung itu), wah sayang sekali pada saat itu saya mungkin sudah kembali ke kota kecil nan damai di tengah pulau Sulawesi (hihihi..). Jadi kuucapkan selamat berblogging ria-ji (bener gak seeh?)

Sukses selalu untuk teman-teman Kompasianers di kota Makassar….senang berada dikota anda.

🙂

“hotel panakkukang, 11.30 Wita” (wilayah Panakukkang ini kok mengingatkan saya pada bilangan ‘Kelapa Gading’ yg banyak tempat makannya ya?…)

 

*published in Kompasiana on July 14,2011

http://bahasa.kompasiana.com/2011/07/14/partikel-dialek-makassar-yang-bisa-tonji-mi/