struktur puisi? hmmm...

Sangat tertarik sekali pada saat saya menonton cuplikan film Dead Poet’s Society yang di bintangi seorang Robin Williams. Ia memerankan seorang guru sastra Inggris, yang sangat nyentrik dengan metode pengajaran yang luar biasa, sangat berbeda dengan cara mengajar guru-guru lainnya yang sangat konvensional dan sangat terstruktur, setiap hari murid-murid di sekolah itu terbenam dalam membuat seabrek-abrek pekerjaan rumah (tidak beda dengan sekolah anak-anak kita saat ini bukan?)

Sang guru, John Keating ini, mengajarkan para muridnya dalam memandang sebuah puisi. Pertama kali, dia menyuruh merobek halaman awal dari buku teori Sastra-memahami Puisi karya Dr. J. Evans Pritchard Ph.D setelah anak-anak membaca teori tersebut. Melihat adegan ini saya tertawa, persis mengingatkan saya di perkuliahan dulu, sayangnya, dosen saya tidak menyuruh kami untuk merobek halaman ini, dan sungguh saya juga sama sekali tidak mengerti apa yang diterangkan dosen saya dulu mengenai teori puisi ini J

Dan betapa saya pun terkesan dengan cara pemahaman sebuah puisi menurut sang John Keating, dan.. saya pun entah mengapa mengamininya.

puisi, imajinasi vs.struktur?

Mengukur sebuah puisi melalui struktur? Apakah puisi itu sebuah pipa? Sebuah bangunan? Sampai harus memiliki struktur, dan apakah puisi bisa diukur dan dinilai?Serunya, membuat para siswa tercengang? Demikian juga diriku…mungkin selama ini sudah terhanyut dalam menilai dan membuat sebuah puisi, supaya kelihatan cantik dan manis untuk di baca orang lain, tapi lupa esensinya, apakah benar puisiku berasal dari gubahan dan nyanyian jiwa yang terdalam?

Apa sih puisi itu? Bukankah Puisi adalah hasil dari refleksi, cerminan, pemahaman manusia. Terdiri dari kata kata dan imajinasi yang dapat mengubah dunia, bukan ukurannya yang mengubah dunia tapi isinya. Kita membaca dan menulis puisi bukan karena puisi itu cantik, bagus namun karena kita adalah anggota umat manusia, dan umat manusia sesungguhnya penuh dengan gairah, dan…hal-hal seperti puisi, kemolekan dan keindahan, roman, cinta, …umat manusia, hidup untuk semuanya itu. Pertanyaannya adalah, sebagai anggota umat manusia, maukah kita menyumbangkan syair dan kata-kata kita untuk dunia ini?

Dan bagaimana kita menghasilkan sebuah puisi?

Lihatlah disekeliling kita, namun dengan cara yang berbeda, meskipun cara kita memandang itu aneh, bodoh ataupun salah (menurut orang lain) namun dirimu perlu mencobanya. You must strive to seek your own way (so inspiring for me). Kemudian, tuliskanlah puisimu sendiri, meskipun hanya dua baris, meskipun sesederhana apapun (karena puisi bisa berasal dari hal-hal yang sederhana misalnya tentang kucing, tikus, bunga, hujan, panas terik, dll) yang mampu kita singkapkan. Tapi yang juga penting adalah kata-kata dari puisimu itu adalah pilihan-pilihan kata yang tidak biasa, kata-kata yang berbeda, extraordinary!

Seperti Robert Frost menulis dalam puisinya The Road Not Taken yang terkenal itu, yang saya kutip satu baitnya:

Two roads diverged in a wood, and I

I took the one lessed traveled by,

And that has made all the difference


Maka, tempuhlah jalan berbeda, jadilah dirimu dan diriku sendiri dalam menulis puisi kita. Jangan takut dikatakan puisimu jelek, tidak berstruktur, atau tidak berseni. Karena puisimu merupakan kontribusi syair pribadimu pada umat manusia di dunia ini…..

hati ke jiwa dan tulisan, bukan struktur!

‘so much inspired by John Keating’s teaching in Dead Poet’s Society movie’