“….yang (ter)penting dalam tiap penyataan seniman yang tulen adalah kejujuran, kejujuran akan segala apa yang dialami batinnya…Tentunya kita seratus persen setuju dengan pernyataan ini bukan? Namun bagaimana jika kemudian ada orang yang membalasnya dengan kalimat seperti ini: ”…Hilda, puisi yang kuat adalah sebuah kebohongan…” (whattt??).

Artinya, si penyair memiliki imajinasi yang kuat. Ia tidak lagi puas dengan ekspresi yang disediakan kata dan makna di kehidupan sehari-hari. Ia ‘berbohong’ sebaik-baiknya untuk mengatakan yang sesungguhnya (yang ia rasakan). Dengan berbohong, si penyair mengungkap kebenaran yang ia ingin katakan. Kalau cuma kejujuran, dalam artian meniru apa yang ia cerap dengan inderanya tanpa mengolahnya, ia tidak mendapatkan dan mengatakan apa-apa. Kebohongan di puisi adalah cara menyatakan kebenaran: keberanian sedekat mungkin dengan yang ia hadapi dan kritis dengan yang kasat mata! (Hmmm….bener juga menurut saya sih).

Paradoksnya lainnya adalah Kebohongan” itu sendiri yang diungkapkan, “Kebohongan” itu sendiri lah (esensi) puisi itu. Jika pun ada kebenaran di dalam suatu puisi yang kuat, meminjam istilah Harold Bloom dan F. Nietzsche, adalah “derita” sebagai yang datang terlambat dalam ruang dan waktu. Orisinalitas dan prioritas dalam tradisi berpuisi merupakan ilusi yang diderita oleh penyair modern. Penyair mutlak mempunyai intensi dalam berkarya. Kebohongan di puisi adalah ilusi kreatif si penyair untuk memiliki prioritas makna sendiri. Untuk itu dia menggunakan bahasa tidak dengan apa adanya, melainkan untuk apa pun yang menjadi intensinya.

Deg…pastinya mengesalkan ya..? Isi tulisan ini memang merupakan hasil diskusi yang (tadinya) menyesakkan dada dari komentar-komentar di situs lain dengan para kritikus sastra yang sahih punya ceritanya gitu. Jujur, saya juga waktu mulai berdiskusi agak kesal dan merasa tertikam juga, siapa sih mereka yang tega memporakporandakan tulisanku tentang struktur puisi dengan komentar-komentarnya yang sekejam itu?

Dengan pura-pura marah saya pun mengatakan: kejam ih kata-katanya, apakah maksud anda penyair sekarang ini tidak mempunyai orisinalitas dan prioritas?? Atau mungkin saking banyaknya pakem-pakem yang ada, akhirnya para penyair malah terjebak di dalamnya dan malah ikut-ikutan dan mengikuti gaya-gaya si penyair-penyair top ini dan itu, dan tidak bisa menemukan jatidirinya dalam penciptaan puisi-puisi mereka sendiri?

Komentar lainpun masuk dengan mengatakan bahwa kebanyakan penulis lebih suka menjadi burung yang manis di dalam sebuah sangkar yang indah. Dia dipuja, tetapi kehilangan kebebasan. Mempunyai sayap, tetapi sudah lupa caranya mengepakkan sayap di udara. Tidak banyak penulis yang mau menjadi burung gagak. Burung gagak tidaklah manis dan menawan hati. Suara gagak jelas kalah jauh dibanding kicauan cucak hijau di Pasar Ngasem Yogyakarta, walaupun begitu ada satu hal penting yang dimiliki burung gagak dan hanya mampu dikhayalkan oleh burung-burung dalam sangkar: kebebasan. Burung-burung sangkar tidak dapat jujur sepenuh hati. Kembali saya berdehem dalam hati..betapa benarnya kalimat ini, mungkin saya sendiri sering melakukan ini. Kalimat ini menurut saya dimaksudkan sebagai kebohongan nurani yang sebenarnya dari para penyair yang senantiasa ingin puisinya manis dan indah demi untuk pemujaan atau citra diri?

Banyak pertanyaan yang masih berkecamuk, namun hati senang bukan main, ternyata hari ini saya belajar banyak tentang makna puisi dan hakekatnya dari para kritikus ini. Itulah gunanya saling belajar kepada yang lebih tahu kan?

Pertanyaan-pertanyaan lain masih harus kucari jawabnya, seperti: haruskah diangkat “kebohongan” itu sebagai satu-satunya kreativitas dalam berpuisi? Makna diatas kata, apakah hanya untuk mempercantik puisi? Saya jadi ingat satu kalimat yg pernah saya baca: kebohongan tentang suatu hal yang diucapkan terus menerus, suatu saat akan diterima menjadi kebenaran, bisakah hal ini berlaku dalam puisi? Atau dalam puisi kita memang perlu ‘berbohong’ untuk mengatakan ‘kebenaran’ itu?

Nah, bagaimana dengan para penyair dan puisi-puisi mereka di Kompasiana? Sudah jadi

Pembohong?

Pen-Jujur?

Burung dalam Sangkar Emas?

Burung Gagak?

Silahkan kita menilai diri kita masing-masing dengan kejujuran yang kita miliki, kita yang merasa menjadi ‘penyair’ di Kompasiana tercinta ini.

“inspired by my dear fellows on poetry’s comments in other site”

http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/10/12/para-penyair-di-kompasiana-adalah-sekumpulan-pembohong/