Melihat gelagat “cuaca yang semakin panas” saat ini. Kiranya seluruh rakyat Indonesia perlu maklum adanya, bahwa sebentar lagi, sesuatu yang besar akan terjadi di Indonesia, bermula tentunya dari Ibukota negara, Jakarta.

Ya, kenapa takut menyuarakannya disini? Revolusi…REVOLUSI!

Menurut definisi kata-nya, revolusi berarti:

perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan…” (wikipedia)

Suka tidak suka, nyaman tidak nyaman, ia akan mendatangi kita, jika keadaan negara tetap seperti saat ini. Perubahan secara cepat…dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Jika tetap keadilan tidak ditegakkan, korupsi merajalela dari tingkat pemerintahan tertinggi sampai akar rumput, sistem perekonomian hanya berpihak pada yang mampu dan para konglomerat serta pengusaha saja (menurut berita hari ini, orang kaya di Indonesia meningkat paling signifikan di kawasan Asia), dan rakyat masih kesulitan untuk mendapatkan fasilitas pendidikan, kesehatan yang memadai, malah banyak yang mati kelaparan ataupun mati karena sakit tidak mampu membayar pengobatannya. Semakin banyak anak-anak diterlantarkan di jalan, kekerasan semakin merajalela di mana-mana (tawuran, perang antar kampung/wilayah, maupun ‘perang dengan TNI, Polri seperti yang terjadi di Papua), dan lain-lain dan lain-lain yang daftarnya begitu panjang.

Semua ke-kaos-an ini akan mencapai klimaksnya di suatu masa dan kejadian, ya…Revolusi! Saat semua kekalutan dan kemurkaan sudah menjadi satu, dimana rakyat sudah tidak mampu lagi menerima tekanan-tekanan yang ada, mereka akan menyatukan diri dalam suatu amok besar…Revolusi! Saya sendiri tidak yakin, revolusi yang akan terjadi itu adalah revolusi damai, sepanjang sejarah yang terjadi di Indonesia dan di negara-negara lainpun, semuanya selalu dengan berdarah-darah…banyak korban yang diminta, entah itu teman, sahabat, keluarga, tetangga, bahkan mungkin suami, istri, anak?Juga korban finansial, harta benda dan lain-lain.

Saya jadi ingat tulisan Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Anak Semua Bangsa (Tetralogi Pulau Buru) tentang Amock (Amok) yang berbicara tentang “Petani Jawa” yang selalu ditekan dan dijajah, entah itu oleh Belanda maupun oleh bangsanya sendiri, mengingatkan saya pada revolusi…mungkin kita-kitalah petani Jawa itu saat kini:

 

.………….”ada titik dalam kehidupan mereka yang bernama ketakutan dan kecurigaan itu. Bila mereka sudah melewati titik dalam dari ketakutan dan kecurigaannya, satu golongan manusia di bawah matahari Tuhan ini yang tidak biasa berpikir rasionil, dia akan melambung dalam ledakan membabi buta yang dinamai Amock. Mereka bisa melancarkan amok secara sendiri-sendiri atau beramai-ramai, melawan siapa saja yang bukan petani…., maka setiap orang dari golongan apa saja yang tampil, dapat menghibur dan mengambil hatinya, akan mereka ikuti, baik dalam beribadah, berangkat ke medan perang, ataupun tumpas dari kehidupan…..mereka bisa membikin amock, bukan karena hendak membela diri, menyerang atau membalas dendam, hanya karena tak tahu apa lagi harus diperbuatnya setelah kesempatan hidupnya yang terakhir di rampas juga…..”

Nah, pertanyaannya, apakah kita sudah siap menghadapi revolusi ini? Siapkah kita benar-benar memperjuangkan inti dari revolusi itu? siapkah kita kehilangan orang-orang di sekeliling kita yang kita sayangi dan cintai? atau diri kita sendiri yang akan kita korbankan?

 

…”Tidak perlu sedu sedan itu,

aku ini binatang jalang,

dari kumpulannya terbuang…

demikian bait-bait Chairil Anwar, menginspirasinya dalam masa-masa perebutan kemerdekaan Indonesia.

Maukah kita mempunyai sikap dingin, sikap binatang jalang seperti dia, untuk sebuah cita-cita revolusi?

Siapkah kita melihat rumah-rumah kita hancur, perekonomian dan perdagangan lumpuh?

Untuk sebuah Revolusi, diperlukan satu tekad yang kuat, dan pengorbanan yang tinggi. Maukah kita?

Atau, kita hanya berani berteriak dan berkoar-koar tentang Revolusi di jejaring sosial lainnya?

 

“The revolution is not an apple that falls when it is ripe. You have to make it fall”. Che Guevara

 

*Selamat Malam untuk Para Revolusioner Sejati, dimanapun jiwa dan tubuhmu berada*