Menyimak berbagai puisi yang malang melintang di dunia fiksiana-kompasiana sekian lama, baik yang ditulis sambil lalu, sekedar curhat, maupun secara professional oleh para penulis di Kompasiana, saya tidak bisa tidak mengagumi karya-karya dan persistensi dan kegigihan para Kompasianers dalam berkarya. Ada beberapa yang kulihat sangat memikat dan tiga diantara para penyair maya Kompasianer ini membuatku teringat kepada 3 serangkai penyair muda yang memberontak terhadap aturan dan titah sastra baku jaman pujangga-pujangga yang mengalun syahdu penuh rindu dendam di era tahun 1940-1950an.

Ya, orang-orang yang menyenangi sastra dan karya-karya puisi di Indonesia tentunya kenal sangat dengan kumpulan puisi Tiga Menguak Takdir, yang ditulis oleh Chairil Anwar, Asrul Sani dan Rivai Apin.

Dengan tidak bermaksud menyamakan tiga penyair legendaris tersebut dengan tiga penyair ala Kompasiana yang akan saya bahas lebih lanjut, setidaknya saya meyakini bahwa di rongga-rongga fiksiana kompasiana, ternyata terselip 3 (mungkin lebih karena saya belum lihat saja yang lainnya) penyair yang menebar pesona dengan karya-karya ‘renegade’ mereka. Akankah karya-karya mereka mampu mendobrak dan pintu sastra angkatan baru yang terkini di negeri ini, terbebas dari beban struktur lama sastra angkatan per angkatan. Puisi yang kaya rasa, kaya makna? Hmmm…siapa tahu?

Inilah Tiga Penyair Naga tersebut:

 

Penyair Pertama, Si Burung Elang

Karya-karyanya beberapa minggu terakhir ini begitu menggelora, penuh semangat menggalang rasa terhadap carut marut perpolitikan terutama berbagai isu yang melanda rumah rakyat. Dunia seni tidak asing baginya. Dalam memperdalam sastra, ia belajar secara otodidak dan alami, meskipun salah satu Suhunya juga bukan sembarang penyair.

Karyanya yang orisinil, kadang terkesan mbeling dan nyeleneh membuat para pembaca puisinya berkobar-kobar dalam rasa yang teraduk-aduk di sanubari. Lihatlah kegilaan dan keliaran puisi si Burung Elang ini pada puisi “Akulah Tuhan tanpa Tanda Baca”, “Celoteh Pelacur-Pelacur Negeri Bingung” dan dalam puisi Aku Pamit Saudara ada larik-larik yang menurut saya istimewa seperti ini:

 

dunia yang kau punyai adalah dunia sebagaimana milikmu

sedangkan aku tidak mau mempersoalkan apa yang kau punyai

tidak demikian adanya aku

seperti kau adamu

bagaimana mungkin kau mesti melemparkan kotoran kemukaku

sedangkan aku hampir setiap hari melukiskan kata-kata indah di dinding rumahmu

apa masalahmu

ganjalan apa yang sedang bersemayam dihatimu, saudara

 

Larik-larik puisi ini membiaskan sebuah sikap dan harga diri serta kehormatan seorang laki-laki dan harga diri itu lebih mahal daripada ukuran segepok uang.

Sekali waktu ia pernah memberi wejangan padaku, “dhek, jadilah dirimu sendiri dalam menulis puisi, temukan keunikanmu sendiri, jangan meniru penyair lain meskipun dia sangat tersohor..lihat sekarang, banyak sekali para penulis puisi di dunia maya mengekor bahkan mengkopas atau meniru puisi-puisinya Kahlil Gibran, Chairil Anwar, atau yg lainnya..Meskipun saya membaca banyak puisi dari banyak penyair hebat, tapi tidak menjadikan saya meniru gaya mereka…”

Dalam beberapa hal tentang dunia sastra, saya masih berseberangan dengan si penyair ini, namun tidak mengurangi rasa kagum saya atas karya-karyanya yang fenomenal itu. Meskipun saya perlu juga mengatakan bahwa karya-karya penyair ini ada juga yang masih ‘terperangkap’ dalam tema yang umum ditemui di media perpuisian Indonesia yaitu isu sosial dan romantisme.

Meskipun penyajian karyanya menggunakan cara yang berbeda dari penulisan puisi-puisi di kanal fiksiana dan menjadikan sangat menggoda untuk dinikmati, demikian juga kualitas estetis dalam puisinya boleh dikata mampu menyamai penyair besar di Indonesia seperti om Willy (W.S Rendra), ataupun Soetarji Calzoum Bachri, bahkan ada yang menjulukinya Si Burung Elang, saking fokus dan tajamnya puisi-puisinya menembak masalah sosial yang terjadi saat ini. Karya-karyanya yang begitu ‘telanjang’ mengingatkan saya akan pengaruh eksistensialisme dalam puisi-puisi Chairil Anwar.

Lihatlah bait-bait yang sangat ‘gue banget’ dari si Penyair:

aku puisi yang tetap pada puisi
karena aku belati, aku pedang, aku kampak
tak sejengkalpun kubiarkan kau untuk menghinaku
kukatakan kepadamu wahai kepala-kepala yang berkata-kata
“kupastikan bahwa aku tak dapat kau sentuh sebagaimana teori semau gue yang ada dikepalamu”

………………….

(Aku Puisi yang Hina Dina)

 

Siapa nyana sebenarnya puisi ini sedang berbicara tentang kanal Fiksiana yang baru di umumkan pada saat itu, sebagai pengelompokan genre sastra yang terpisahkan dari kanal-kanal lainnya sesuai dengan standard Kompasiana?

Puisi protes tersebut, entah disadari oleh media ini atau tidak, dan juga oleh pembacanya, mendapatkan tempat di hati para pecinta puisi Kompasiana, karena faktanya, hubungan antara pengarang dan pembaca selalu hanya ada satu macam, yaitu komunikasi spiritual, ini merupakan komunikasi sederhana dengan perantara karya. Inilah yang menjadi kekuatan si penyair yang unik ini.

Jika kita menilik lebih dalam pada karya-karyanya, kelihatan sang penyair benar-benar mencintai bait-bait bernyawa yang mengalir dalam darahnya seperti yang ia tuliskan dalam salah satu karyanya: “…darah yang mengalir pada nadi-nadiku; pada tarikan dan hembusan nafasku; pada keterbatasan intuisiku; pada pancaindra disegenap tubuhku adalah puisi..”

 

 

Penyair Kedua, Si Wanita Kontemporer

Seorang penyair dan penulis professional, yang kaya pengetahuan sastra kontemporer dan dengan begitu baik hati membagikan ilmu sastra yang ia punya untuk sahabat-sahabat setianya di kompasiana melalui tulisan-tulisannya yang mengupas dalam dan begitu ‘menyanjung’ puisi kontemporer.

Sejauh yang saya tahu, ia adalah seorang dosen sastra dan juga penulis pro (correct me if I am wrong, ma’am). Dari tulisan-tulisannya yang saya baca, ia pun pernah mengalami beberapa kali penolakan dalam dunia tulis-menulis, namun usahanya yang gigih menjadikan ia seperti saat ini.

Seorang penyair wanita berkarakter kuat, dengan karya-karya orisinil bertema kontemporer. Sangat mempesona! Membaca puisi-puisinya yang terakhir begitu mengingatkan saya akan karya Djenar Masayu yang tersohor itu, yang pernah di cemooh seorang Pram (Pramoedya Ananta Toer) sebagai karya yang bukan sastra karena hanya mengeksploitasi kelamin, namun mendapatkan penghargaan Sastra dan menjadi best seller di Indonesia pada dekade lalu.

Saya sangat suka dengan karyanya yang ini :

aku sang pelacur tulisanku

lacurkan hidupku dalam karya tulisanku

ku godai kau, dia, mereka dan lainnya dengan skandal liar tulisan

kepuasanku saat ku lihat kau terseok-seok di selangkangan tulisanku

kepuasanku saat ku nikmati oral seks tulisanku

hingga buih-buih bibirmu liurkan ludah beraroma cumbu dan rayuku

aku lacurkan tubuhku untuk tulisanku

aku hancurkan hargaku untuk tulisanku

kubakar sendiri sayap-sayap kontemporerku

…………………..

(Lacurkan Tulisanku)


Inilah penyair kontemporer wanita pertama di Kompasiana, yang melawan arus, melawan genre lama perpuisian di kanal fiksi-puisi, tak ada penyair wanita yang segigih dan sekuat penyair ini dalam menyuarakan kontemporerisasi puisi bagi pecinta dan penulis puisi di Kompasiana.

Dalam puisinya yang lain, ia menulis:

 

Dan ketika manusia merasa

Tuhan adalah pengetahuannya

Dan ketika manusia menganggap agama adalah segalanya

ketika agama dituhankan,

aku bersyukur, “Alhamdulillah aku seorang atheis…”

(Alhamdulilah aku seorang Atheis)

 

Meskipun dalam segi infantilism (egoisme yang tak terkendali) masih terasa mencuat disana sini dalam bait-bait puisi kontemporernya, namun jika banyak penyair muda mengikuti jejak si wanita kontemporer ini, maka masa depan puisi kontemporer Indonesia tentunya tidak akan sesuram saat ini. Semoga hujan kontemporermu mampu membasahi khasanah sastra tanah air kita seperti yang kau lukis dalam larikmu ini:

aku melukis diatas sebuah hati

kugoreskan secara perlahan

agar tak ada kabur warna-warna yang ku tuangkan

hingga tercipta sebuah warna baru meski terlihat asing

pagi ini dengan deras air hujan

aku terpasung dalam semua penghambaan fikirku

hujan membelengku hingga saraf-saraf nadiku

menyayat tak tinggalkan setetes darah

tak ada yang tak sedikitpun tentang hujan

(Menari di atas Hujan)

 

 

 

Penyair Ketiga, Nietze-nya Indonesia

Siapa yang tidak kenal dengan penyair ini, yang tulisannya penuh makna filsafat di dalamnya? Meskipun seperti Gao Xinjian (Pemenang Nobel Sastra 2000) mengatakan ”…Penulis bukanlah pahlawan yang bertindak saat diminta oleh orang-orang, ia juga tidak patut dipuja laiknya bintang, dan pastilah ia bukan seorang penjahat atau musuh orang-orang. Ia kadang menjadi korban bersama dengan tulisannya…”

Dengan tulisan-tulisannya entah itu puisi maupun tulisan-tulisan kontroversinya dalam kolom filsafat dan agama (dulunya) sehingga akhirnya dia pun di singkirkan dengan paksa dari dunia kepenulisan di Kompasiana, namun orang tidak mudah melupakannya, ambil contoh puisinya ini tentang apa itu Puisi menurutnya dan bagaimana ia merasa bahwa Allah itu adalah Penyair yang paling Jenius, ia sangat kaget saat membaca puisi Sitor Situmorang yang berjudul Malam Lebaran yang hanya berisi satu bait…Bulan di atas Kuburan, akhirnya ia mengerti bahwa:

Dan sejak saat itu sadarlah saya,
Kenapa Kitab Suci ditulis dengan kalimat sastra.
Teryata para Nabi, para Spiritualis juga seorang penyair.
Dan lebih mengagumkan lagi
Ternyata Tuhan adalah Penyair paling jenius


Saya pun tak pernah menyangka, ternyata penulis ini merupakan penyair pula dengan karya-karyanya yang berbeda sangat dengan tulisan-tulisannya yang antagonis terutama dalam hal filsafat dan keagamaan.

Dalam menuliskan puisi-puisinya, penulis ini terlihat sangat apik memilih kata-kata, penuh symbol dan makna, kadang ironis dan juga menggelikan. Menurutnya Karya sastra adalah karya protes. Eksperesi pembangkangan dari ritual hidup yang rutin. Sehingga…

Hukum alam tak pernah menolak matahari terbit
Tak pernah membuat manusia bisa terbang.
Tapi sastra, bisa membuat Erianto Anas membakar matahari
Sastra bisa membuat saya terbang ke kamar pelacur
Sastra bisa membuat malaikat cemburu kenapa saya bisa membunuh Tuhan

 

Puisinya ini sangat menonjolkan sisi keunikan sang Penyair sendiri dan bagaimana ia mendefinisikan sastra dalam hal ini puisi. Ini juga salah satu puisinya yang menggugahku dan sangat menunjukan kecintaannya pada sastra:

Sastra, syair, puisi, bukan ditulis, tapi lahir
Dari kubangan lumpur hati
Dari gemercik nyanyian hati
Dari keterasingan yang sunyi
Dari kegilaan yang tak dimengerti dunia!

(Sastra Raksasa Hanya ditulis Orang Gila)

 

 

Sulitlah menyamaratakan isi dan cara ketiga penyair ini mengolah karya-karya mereka. Semua mempunyai ciri khas masing-masing yang tidak bisa disamakan dan diseragamkan oleh para pembacanya. Namun dari kita membaca karya-karya mereka yang di luar kebiasaan penulisan puisi yang ‘biasanya’ kita baca, kita akan menemukan betapa kuatnya kata-kata mereka, dalamnya makna yang terkandung dan kokohnya diksi-diksi yang ‘menelanjangi, mendobrak dan membohongi’ pembacanya.

Saya sendiri melihat karya-karya tiga penyair ini mempunyai kesamaan dalam sifat ‘pemberontakan’ mereka terhadap genre atau tema-tema lama yang masih mendominasi puisi-puisi entah itu di Kompasiana maupun di media-media sosial ataupun Koran lainnya.

Mengingatkan pada diskusi beberapa malam yang lalu bersama teman-teman budayawan, seseorang mengatakan pada saya, “ mbak, di Indonesia ini hanya ada tiga macam model puisi yang biasa diterima oleh media. Puisi CAG: yaitu puisi tentang Cinta yang lemah gemulai, Agama yang mendayu-dayu dan…puisi yang isinya Geram, alias marah-marah melulu tidak tahu juntrungannya bisa kemana saja….di luar dari ketiga tema itu, dia katakan tidak ada media yang mau terima…” Benarkah demikian? Bisa ya bisa tidak…

Sekedar catatan saja bagi Fiksiana-Kompasiana, salah satu puisi Si Burung Elang yang berjudul:

Bibir Mungil Perempuan Kecil Berusia Lima Tahun Itu Hanya Bisa Mengeluarkan Dua Patah Kata Ketika Melihat Ibunya Tidur Dengan Pria Lain Di Kamar Bapaknya Kemarin Sore; isinya hanya 2 kata

“Mama nakal!”

 

 

Puisi ini entah mengapa di hapus oleh admin fiksiana, entah karena alasan kenyelenehannya, atau karena keabsurditasannya atau karena kemoralitasannya? Kembali ke ulasan saya tentang puisi CAG itu, nah kelihatannya media ini masih menganut model seperti itu. Kalau Sitor, Sutardji atau Om Willy almarhum berkumpul disini dan mengetahui alasan penghapusan puisi ini, tentunya mereka akan tertawa terbahak-bahak.

Akankah 3 penyair ini menjadi barometer bangkitnya nuansa baru dalam perpuisian-fiksiana di Kompasiana, atau menjadi 3 pendobrak dunia kepenyairan cyber di negeri ini seperti pendahulu mereka di Tiga Menguak Takdir? Dan menjadi 3 Naga Penyair Indonesia? Saya serahkan kepada pembaca untuk menilainya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

@Coretan dini hari dari Bumi Tadulako, 25 Oktober 2011