“…. Ketika Sastra tidak lagi dimasuki lewat pergulatan jalan sunyi yang penuh kesabaran, pergulatan kreatif yang merupakan sebuah jalan sunyi, ia akan menjadi sastra instan….”


Demikian beberapa penggalan tulisan yang saya kutip dari sebuah artikel laporan tentang penyelenggaraan Temu Sastra beberapa tahun yang lalu yang menyoal fenomena Sastra Instan (oleh penyair Joko Pinurbo).

Isu Sastra Instan ini semakin hari semakin merebak saja, terutama di wilayah perkotaan yang dilakukan oleh pelaku-pelaku sastra kini, entah itu di jejaring sosial semacam Facebook maupun Kompasiana dan blog-blog sosialita lainnya.

Mengapa dinamakan sastra instan? Karena karya-karya yang dihasilkan tidak lagi dilewati dengan pergulatan jalan sunyi yang penuh kesabaran itu. Namun dikarenakan tuntutan kepentingan-kepentingan yang pragmatis di lingkungan kita yang akhirnya menelurkan budaya instan (cepat saji) dalam melahirkan kesusastraan.

Kualitas sastra yang dilahirkan dalam pergulatan jalan sunyi itu akhirnya disisihkan oleh banyak kepentingan termasuk untuk tuntutan industri korporasi, eksistensi dan popularitas. Karya-karya baru banyak yang dihasilkan namun sangat sedikit yang bertahan, dan dengan cepat pudar dan hilang alias tidak diingat orang lagi, hanya sedikit sekali yang akan mengendap di hati para pembaca dan penikmat sastra.

Sastra Instan, ya..fenomena sastra yang terjadi belakangan ini di negeri Kompasiana kelihatannya telah merebak dan melebur ke dalam penciptaan karya-karya sastra (dalam genre puisi, cerpen, novel, cermin…name it, semuanya menyatupadukan diri di kolom Fiksiana tercinta kita). Setiap hari kita disuguhi karya-karya sastra baru (entah itu yang benar-benar orisinil ataupun kutip sana kutip sini atau malah ada yang saduran langsung ataupun kopas langsung), entah sudah puluhan atau ratusan ribu karya sastra lahir di Kompasiana ini, dan apakah para Kompasianers ada yang benar-benar ingat katakanlah, 10 karya sastra Kompasianers lainnya dengan jelas dan penuh makna? Setidaknya nyantol 5 karya saja sudah lumayanlah…tapi saya sangat khawatir jawabannya tidak

Kecemasan yang akhirnya muncul, akhirnya aktivitas-aktivitas lanjutan dari sastra instan yang berkembang seperti launching buku kolaborasi atau penulisan kolaborasi sastra (berbagai genre) bermunculan dan membludak dengan peserta yang ada dan kerap hanya menjadi tradisi seremonial untuk eksistensi yang tujuannya karena kepentingan-kepentingan di luar sastra, bukannya menggali lebih dalam dengan berdiskusi dan menghadirkan pembacaan secara kritis pada buku atau karya sastra tersebut.

Lalu ditengah-tengah fenomena eksistensi dan popularitas macam ini, adakah individu, lembaga ataupun kelompok pecinta sastra yang benar-benar terpanggil dan mengkritik karya-karya itu sesuai dengan kaidah-kaidah sastra yang ada? Ataukah kritik yang muncul kemudian juga akhirnya tidak mampu melepaskan diri dari hal-hal pragmatis, eksistensi dan popularitas yang terjadi saat ini?

Mari kita refleksikan saja, secara jujur dan kritis, apa yang terjadi sebenarnya dengan karya-karya sastra kita saat ini, minimal di dunia Kompasiana?

Apa refleksimu wahai para pecinta dan pelaku Sastra?

 

 

**di publish disini tgl 5 November 2011, menggelitik banyak ketiak hehehe…

eh sama temen2 dibuatin e-pub nya disini, thanks guys😉