Mencari Bentuk Ruang Kegelisahan dan Kerinduan Sastra (Travel Sastra)

Dialog Sastrawan Palu-Jogja

 

SAJAK PASAK BUMI

hujan turun di padang perdu
angin santer di padang perdu
hujan berakhir dengan reda
atau gerimis lagi, dan berawal dari tiada
atau gerimis juga; angin bangkit sesuka hati
atau tidur lagi, tergantung pada cuaca
tak ada yang mengerti
kecuali sajakku
tegak berjaga
menjadi pasak bumi
bagi ketakutan
lemah hayatmu!

/Pleihari, 2007 (Raudal Tanjung Banua)

Dua minggu lalu komunitas membaca kami kedatangan tamu penyair dari seberang. Raudal Tanjung Banua,  ia datang berkunjung untuk berdiskusi menyoal isu-isu sastra lokal dan berbincang tentang travel sastra-nya  beberapa minggu ini di tanah Sulawesi.

Perjalanannya ini adalah dalam rangka festival teater dan sastra (bekerjasama dengan Lembaga Bahasa untuk bulan bahasa yang sadah lewat) sastrawan asal Yogyakarta, Raudal Tanjung Banua dan Andika mengadakan travel sastra ke daerah-daerah.

Kehadirannya adalah untuk mencari bentuk ruang kegelisahan dan kerinduan yang ada di tempat yang dikunjungi, menurutnya setiap tempat akan bermakna apabila ada Kantong Budaya-nya, jika ada tempat yang tadak ada kantong budaya akan tampak abnormal kalau sebuah kota hanya dibangun dari gedung-gedung modern dan birokrasi. “Harus ada penyeimbang dari kawan-kawan di suatu tempat untuk kantong-kantong budaya, komunitas sekecil apapun yang mempertemukan kegelisahan tersebut untuk mengimbangi kota-kota yang cenderung rakus dan merebaknya kebijakan yamg tidak bijak,” papar Raudal di Café Nemu Buku milik Neni Muhidin seorang aktivis budaya di Kota Palu, pekan lalu.

Dalam pertemuan dan dialog dengan sastrawan Yogyakarta itu hadir pula beberapa sastrawan Kota Palu, Ts. Atjat, Mas’amah M. Syam, Satries, Ashar Yotomaruangi dan sejumlah pemerhati dan peminat sastra yang tergabung dalam Komunitas Nombaca. Berbagai masalah dan saling tukar informasi terjadi dalam pertemuan tersebut, sebagai bentuk apresiasi terhadap perkembangan sastra Indonesia yang makin terbuka.

Menurut cerpenis dan penyair Raudal Tanjung Banua yang pertama kali hadir di Kota Palu dalam rangkaian travel-nya dari Talaud, Sulawesi Utara itu, kesenian adalah dunia yang sunyi, bunyi yang dikeluarkan tidak terlalu banyak aplaus dari publik. Namun sedikit demi sedikit jaringan tersebut akan menjadi dasar yang potensial untuk membangun karakter dan budaya di berbagai kota.

Menurut Raudal, ketika berkunjung ke suatu kota, ia menemukan jejaring, jalur-jalur sastra yang progresif menjalankan misi keseniannya, yang menjadi alternatif komunitas yang keras kepala bertahan. Tanpa harus menunggu lembaga negara yang seharusnya mengayomi dan melirik mereka, mereka tidak ambil pusing dengan kondisi yang ada dan tetap berjalan terus.

Raudal juga menceritakan tentang komunitas di kota lain yang pernah didatanginya. Ia mencontohkan, di Kendari ada Komunitas Arus yang diasuh oleh dosen sastra, dan sangat tidak formal, kios buahnya yang dijadikan perpustakaan untuk Oase Sastra. “Mereka bergabung bukan hanya sastrawan dan budaya, juga kalangan dari politikus lokal, agendanya diskusi rutin dan pertemuan informal yang dilakukan.”

Selain Kendari, Raudal telah berkunjung ke Talaud, Manado (berdiskusi dengan teater-teater religi dan Teater Kronis-Universitas Sam Ratulangi), di Bau-Bau Buton ada Komunitas Fantastik yang mengambil alih pantai Kamali untuk menjadi ruang public untuk performance Sastra.

Raudal sendiri dikenal sebagai sastrawan yang produktif menulis cerpen dan puisi, serta esai di berbagai media nasional dan mengasuh komunitas Rumah Lebah-nya di kota Yogjakarta.

Dialog yang berlangsung sederhana itu sekaligus sastrawan Palu banyak memberi masukan dan mengangkat perkembangan sastra di Kota Palu dalam beberapa tahun terakhir. Termasuk mengenai geliat berbagai kegiatan kesenian yang bertalian dengan sastra sebagai bagian perkembangan kesenian umumnya di Kota Palu. Di satu sisi, Ts. Atjat dan Ashar Yotomaruangi, juga tidak menutupi soal adanya keterbatasan-keterbatasan dalam berbagai aktivitas kesenian, namun menurutnya itulah sebuah dinamika perkembangan kesenian di Kota Palu.

Setelah Palu, Raudal akan melanjutkan travel-sastra nya ke daerah Morowali, Polewali, Makassar, dan daerah lainnya.

(hilda/jamrin Nov 2011)

 

the discussion