review

Inilah kritikan saya untuk cerpen-cerpen yang bertebaran di Kompasiana, jurnalisme warga nasional. Bukan untuk sok jago atau sok-sok kritis, namun lebih kepada keinginan saya supaya para cerpenis kembali mengasah kreativitas mereka dan memberi contoh cerpen yang baik bagi penulis baru, tidak lebih.

Jika saja kita mau menerima kritik dengan lapang dada dan menjadikan kritikan ini menjadi pemicu tulisan-tulisan yang lebih baik ke depannya, alangkah indahnya. Hanya kadang, kebalikan yang terjadi, mengapa kita kadang sangat rentan terhadap kritik dan maunya dipuji saja? No wonder kritik sastra di tanah air tidak berjalan dengan baik bahkan cenderung mati, saya berpikir mungkin karena kritikus-nya dimusuhi secara personal dan bukan mendiskusikan atau mendebat karya-karya mereka secara matang dan dewasa seperti yang terjadi di negara-negara yang sastra-nya sudah maju pesat.

Tapi saya pantang mundur…setahap demi setahap, kita sampaikan pada mereka bahwa kritik sastra tidak mati, telaah dan kajian-kajiannya tetap hidup dan tetap akan selalu hadir ‘menghantui’ karya-karya sastra yang ada, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau…

Untuk saya, latihan dimulai dari sini….

Viva Sastra!

___________________________________________________________________________________________

Cerpen di Kompasiana rata-rata di buat asal tulis, hasil akhirnya garing dan basi…

Demikianlah kesimpulan sementara setelah saya membaca limapuluhan, bakan lebih cerpen dan cermin yang ada, baik yang terekomendasi maupun yang keberadaannya cukup sering hadir di jurnalisme warga ini. Entah yang banyak pembacanya maupun yang sedikit dibaca, bahkan ada yang nol pembaca! Kadang saya berpikir apakah kita para Kompasianer ini mengerti dan memahami sebenarnya apa arti CERPEN?

Tentu semua pasti tahu, Cerpen adalah singkatan dari Cerita Pendek, Short Story atau bisa juga disebut Prosa Pendek. Namun apakah kita mengerti sebenarnya bagaimana kaidah menuliskan Cerpen yang tentunya ada juga standard penulisan dalam karya sastra?

Saya semakin percaya, bahwa kita semua disini seringkali menjadi ‘sewenang-wenang’ dalam membuat dan menuliskan sebuah karya terutama dalam hal ini fiksi (yang suka tidak suka, mau tidak mau berada dalam ranah sastra, yang tentunya membuka ruang-ruang yang lebar untuk dikritisi dalam kajian sastra). Bagaimana tidak menjadi ‘sewenang-wenang’, jika beberapa kaidah dasar juga tidak dipakai atau dilupakan dalam membuat Cerpen.

Untuk saya, sebuah Cerpen haruslah mempunyai sebuah suspense, sebuah daya tarik yang luar biasa, kejadian-kejadian yang tidak diduga-duga, ketegangan yang terjadi dan peristiwa diluar pemikiran pembaca, alur cerita yang terjadi cepat, singkat namun padat (tidak ada tuh to be continued, itu sih bukan Cerpen namanya tapi Cerber alias Cerita Bersambung).

Jadi, jika sebuah Cerpen hanya menampilkan cerita-cerita yang biasa terjadi di luar dan di lingkungan kita, saya menyebutnya itu Cerpen Basi! Mengapa? Karena seorang Cerpenis seharusnya dia mampu menciptakan suatu karya cerita imajinasi baru yang membuat pembacanya benar-benar merasakan hal-hal yang begitu dalam dan menyentuh dasar hatinya. Sementara yang saya temukan benar-benar luar biasa, dalam arti, cerpen-cerpen yang membanjiri Kompasiana ini, kering kreativitas (creative writing), plotnya flat atau datar-datar saja, curhat biasa dan hanya mengambil tema kisah-kisah seputaran lingkungan kita (tema yang banyak diambil tentu saja percintaan dan moralitas) yang sudah banyak ditulis atau sudah biasa terjadi ditambah racikan nama-nama teman-teman gank dan untuk lebih mempermanis, ditambah dengan bumbu musik-musik romantis yang menambah suasana haru dan syahdu cerpen tersebut. Terus terang pada saat saya membaca cerpen-cerpen yang ada disini seakan-akan sedang menonton sinetron-sinetron di TV kita yang tema, karakter dan plotnya hampir sama.

Begitulah, cerpen-cerpen yang saya baca biasanya kelihatan sekali ada ketidakseimbangan dalam struktur cerita dan biasanya lemah dalam penyelesaian cerita sehingga terkesan ada penggalan cerita yang hilang, patah atau ingin cepat selesai dan akhirnya gagal menjadi sebuah cerpen yang indah.

Apakah teman-teman pernah membaca cerpen-cerpen pemenang literary award khusus Cerpen di Indonesia, contohnya karya Linda Christanty dalam kumpulan cerpen Kuda Terbang Maria Pinto; Agus Noor (bacalah cerpen Kunang-Kunang dalam Bir, karya kolaborasi antara Agus Noor dan Djenar Maesa Ayu) ataupun Benny Arnas dalam kumpulan cerpen Jatuh dari Cinta, atau kalau mau lebih jauh melangkah ke cerpenis luar negeri, bacalah karya-karya rajanya Cerpen seperti Edgar Allan Poe ataupun Anton Checkov. Nah, disana kita akan mendapatkan contoh-contoh bagaimana thriller yang terjalin melalui karakter-karakter yang kuat, plot-plot yang keras, lembut, meledak, atau lembut dan meledak; yang sejak awal membawa pembaca benar-benar masuk ke alam penulisan cerita tersebut, yang menghentak-hentak, berdebar-debar, pemilihan kata yang sastrawi, maupun ending yang sangat tidak diduga oleh pembacanya.

Cerpen dan Cermin sebagai prosa pendek, selain memiliki bagian perkenalan, pertikaian dan penyelesaian (menurut HB. Jassin) dia juga selayaknya sangat kuat dalam hal plot/alur cerita, watak/karakter, serta kesan yang ditimbulkan setelah pembaca selesai membaca cerpen kita. Setelah itu kita juga harus mampu mengembangkan anatomi cerpen kita dalam sisi situasi, peristiwa yang terjadi, klimaks dan anti klimaks dalam untaian kata-kata bermakna yang terjalin menyatu.

Namun, saya tidak berkecil hati karena beberapa bulan lalu, saya pernah membaca, ya bolehlah, ada 1-2 Kompasianer yang Cerpen-nya yang amat lumayan menurut saya. Salah satunya yang saya ingat baik adalah Alam Panrita. Puisi dan cerpen-cerpen-nya untuk saya sangat berbeda dibanding karya-karya yang lainnya. Dengan memakai pendekatan atau gaya bahasa nihilisme dan naturalisme dalam tulisan-tulisannya, ia mampu menyihir saya ke dalam ceritanya yang pilihan kata-katanya begitu menggugah dan berbeda. Salah satu yang saya sangat suka adalah pada Cerpen-nya yang ini dan ini. Semoga karya-karyanya yang luar biasa ini memang benar orisinil adanya (bukan copas atau saduran). Sayangnya, dia jarang menulis lagi disini kelihatannya sekarang ya? Ada beberapa juga Kompasianers yang cerpen-nya menurut saya secara subyektif menarik untuk saya sharing seperti inu, ini dan uni. Yang terakhir ini sayang sekali dia sudah menghapus semua cerpen-cerpennya berikut seluruh tulisannya yang bagus itu.

Menurut saya supaya cerpen kita tidak garing dan basi, sebaiknya sering-sering membaca Cerpen karya pengarang-pengarang Indonesia yang sudah dikenal itu (bagus-bagus lho..) atau pengarang luar lainnya untuk melihat cara mereka mengolah karakter dan cerita, latihlah creative writing dengan mencari ide-ide segar lainnya dan yang belum pernah ditulis sebelumnya (jangan ikut-ikutan dengan tema-tema orang lain yang sudah pernah di angkat) dan sekali lagi, janganlah terbuai dengan puja puji semu dari sesama teman yang nantinya membuat kita lebih kering lagi dalam berkreativitas. Banyak hal baru bisa kita gali, dari berbagai sudut dan angle, sehingga menjadikan cerpen kita unik dan tidak ada duanya.

Admin Kompasiana bagian Fiksi sebaiknya juga lebih memperhatikan cerpen-cerpen yang masuk di kanal Fiksi apakah memang sudah tepat disebut Cerpen atau hanya Curhat belaka, terutama juga untuk yang HL dan terekomendasi. Kriteria seperti apa yang digunakan admin untuk menilai suatu karya cerpen sehingga disebut terekomendasi? Just wonder

Untuk uji sahih, anda sebaiknya mengikutsertakan karya-karya anda di blog-blog selain Kompasiana atau meminta para kritikus sastra menilai karya anda.

Selamat malam dan selamat bercinta dengan imajinasimu, Fiksianers😉

di posting awal tgl 5 Desember 2011 di Kompasiana