cantik sekali tulisan ini…sehingga saya jatuh cinta untuk mengcopy nya (saya meminta ijin dari penulisnya) untuk mempostingkan tulisan ini di blog pribadi saya, sebagai pengetahuan bagi saya dan teman-teman lainnya. Silahkan dibaca dan disimak, pasti bermanfaat…pastiiiii deh😉

Salam Sastra

_____________________________________________________________________________________________

 

Estetika Ala Kundera

Raison d’etre sebuah novel, demikian tulis Milan Kundera, adalah untuk menemukan apa yang hanya dapat ditemukan oleh novel itu sendiri. Bila kata novel di atas kita ganti saja dengan kata “fiksi” dalam artian prosa yang juga mencakup cerita pendek, maka semangat dan spiritualitas sebuah fiksi adalah untuk menemukan apa yang hanya dapat ditemukan oleh fiksi itu sendiri.

Bersama Don Quixote-nya Miguel De Cervantes, lanjut Kundera, kita diajak menyelami dunia imaji petualangan, sebagai contohnya. Di samping untuk membangun dunia keunikannya sendiri, ikhtiar estetik sebuah fiksi adalah pencarian dan pergulatan yang membedakan dirinya dari keumuman, bukan sebuah jebakan moralisme sebagaimana yang menjamur dalam karya-karya yang menyebut dirinya fiksi Islami, yang acapkali terjebak pada sloganisme dan verbalisme yang dangkal dan tidak menggugah itu.

Seringkali sebuah fiksi, bila kita meminjam kembali jalan pikirnya Milan Kundera, merupakan sebuah dunia imajinasi yang mampu meledak seperti mimpi yang tak terduga, atau dapat menghancurkan dan mementahkan kebenaran imperatif yang umum dan mutlak, yang selama ini seakan tak terbantahkan.

Demikian, ikhtiar estetik sebuah fiksi dalam pandangan Milan Kundera adalah sebuah upaya terus-menerus untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan.

Dan bila fiksi tersebut ingin setia pada standard-standard realisme psikologis, maka seorang penulis mestilah mampu memberikan informasi yang maksimum tentang sebuah karakter, tentang penampilan fisiknya, caranya bertingkahlaku dan berbicara.

Kedua, seorang penulis mestilah membiarkan pembaca mengetahui sebuah karakter di masa lalu, dan ketiga, seorang penulis mestilah tidak menghadirkan dirinya dalam sebuah karya yang ditulisnya agar tidak mengganggu pembaca yang ingin mendapatkan seluruh imajinasi dan menghadirkan karya yang ditulisnya ke dunia nyata.

Tetapi, menurut Milan Kundera karakter bukanlah stimulasi dari keberadaan kehidupan, ia lebih merupakan eksistensi keberadaan yang imajinatif, sebuah eksperimental diri.

Setiap penulis yang berhasil, bila kita lagi-lagi sepakat dengan pendapatnya Milan Kundera, adalah para penulis yang mampu membangun dunia dan keunikan karya mereka tanpa harus terjebak pada sikap moral yang verbal dan menggurui pembacanya, tetapi lebih mengajak pembacanya untuk menyelidiki dan memasuki dunia-dunia dan karakter-karakter sebuah karya fiksi.

Sebagai contoh-contohnya, ujar Kundera, bersama Miguel De Cervantes, estetika novel menyelidiki dunia petualangan. Bersama Richardson kita diajak untuk menyingkap rahasia kehidupan perasaan. Menemukan keberakaran manusia dalam sejarah bersama Gustave Flaubert. Membuka kedok-kedok kekacauan irasional dan keputusan-keputusan yang dipilih manusia bersama Anna Karenina-nya Leo Tolstoy. Menyelidiki waktu dan masa lalu yang sukar dipahami bersama Marcel Proust, kekinian yang membingungkan bersama James Joyce. Dan bersama Thomas Mann kita mempelajari mitos dari masa lalu mempengaruhi perilaku kita saat ini.

Meski Milan Kundera berbicara dalam kadar dan konteks kesejarahan Eropa, kita perlu menyimak, setidak-tidaknya untuk kita yang ingin memahami apa itu estetika fiksi, adalah pembacaannya yang cermat dan cerdas atas karya-karya yang ditulis sebelum dia. Pada konteks ini ia mengemukakan beberapa daya tarik yang dapat diberikan oleh karya-karya yang berhasil.

Pertama, daya tarik permainan, yang ia contohkan dengan Tristram Shandy-nya Laurence Sterne dan Jacques Le Fataliste-nya Denis Diderot, yang menurutnya merupakan karya-karya yang berhasil memberikan puncak kelucuan, ringan, dan mengusik pembaca.

Kedua, daya tarik mimpi yang puncak keberhasilannya ada dalam karya-karya Franz Kafka, di mana sebuah novel adalah sebuah dunia imajinasi yang bisa meledak seperti mimpi-mimpi tak terduga dan menghancurkan kebenaran imperatif yang sebelumnya seakan tak tergugat dan diterima begitu saja.

Selanjutnya adalah daya tarik pikiran, yang oleh Kundera dicontohkan dengan karya-karya Musil dan Broch, di mana sebuah novel mampu menjelaskan eksistensi manusia dalam artiannya yang rasional dan irasional, naratif sekaligus kontemplatif.

Sementara itu, dalam wawancaranya dengan Christian Salmon seputar apa yang dapat ditawarkan sebuah karya fiksi novel dan prosa pada umumnya, Kundera menuturkan bahwa sebuah novel tidak untuk mempelajari realitas, melainkan eksistensi, tetapi eksistensi itu sendiri menurutnya bukanlah tentang apa yang terjadi, ia lebih merupakan dunia kemungkinan-kemungkinan manusia.

Dalam karya Franz Kafka, misalnya, dunia-dunia tersebut tidak menyerupai realitas yang dikenal. Dunia dalam karya-karya Franz Kafka lebih merupakan dunia-dunia kemungkinan yang ekstrem. Begitu pun karakter-karakter dan tokoh-tokohnya adalah individu-individu yang tersedot oleh situasi-situasi yang menjeratnya, orang-orang yang terjebak dalam impersonalitas yang tak mereka pahami, tokoh-tokoh yang terperangkap dan terjebak dalam dunia, yang meskipun mereka tidak menginginkannya, tapi pada saat yang sama mereka juga tak mampu melepaskan diri darinya.

Apa yang bisa ditimba dari pengalaman pembacaan dan proses kreatif Milan Kundera tak lain bahwa menulis sebagai kerja estetik dan intelektual adalah ikthiar pencarian untuk menemukan dan mengeksplorasi benua-benua baru yang hanya dimungkinkan oleh semangat satiris, ironis, parodis, dan komedis kesusasteraan, yang seringkali mengejek klaim-klaim kebenaran mutlak.

Di tangan Milan Kundera sendiri, misalnya, kesusasteraan prosa dilahirkan dari spirit humor dan tugas seorang penulis menurutnya tak lain untuk mengganggu para pembacanya agar melihat dunia lebih sebagai medan kemungkinan dan pertanyaan, bukannya dogmatika yang diterima tanpa penyelidikan dan pemeriksaan.

Semangat kesusasteraan dalam pandangan Milan Kundera itu dimaksudkan untuk melawan kaum agelaste alias orang-orang yang tak bisa tertawa, mereka yang tak mampu menerima kemungkinan, menolak pencarian, dan mengharamkan pertanyaan. Yang kedua, untuk melawan mereka yang menerima ide-ide dan gagasan tanpa berpikir. Dan yang ketiga adalah untuk melawan kitsch, yaitu mereka yang menyalin kebodohan setelah menerima ide dan gagasan tanpa berpikir ke dalam bahasa keindahan dan perasaan.

Cervantes dan Flaubert, contohnya, adalah dua penulis yang telah menemukan kekonyolan dan kebodohan sebagai dimensi tak terlupakan dari eksistensi manusia. Kebodohan, yang dalam bahasa Milan Kundera, juga mengiringi perkembangan kemajuan. Dalam Madame Bovary-nya Gustave Flaubert, kebodohan itu mengiringi Emma yang malang melintasi hari-hari di atas ranjang cinta dan kematiannya, di atas dua agelaste yang mematikan, Homais dan Bournissien, yang tak henti-henti menjula kebodohan mereka seperti penjual obat.

Dan bersama Rabelais, demikian ungkap Kundera ketika menerima anugerah Jerusalem, estetika penulisan lahir dari semangat humor dan satirisasi diri sang manusia. []

Sulaiman Djaya,
Dipresentasikan pada Workshop Penulisan di Auditorium Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, 12 September 2009.

 

_______________________________________________________________________________________

 

 

di copas dari blognya bang Sulaiman Djaya disini