happy anniversary

Kurcaci

Kata-kata adalah kurcaci yang muncul tengah malam

Dan ia bukan pertapa suci yang kebal terhadap godaan.

Kurcaci merubung tubuhnya yang berlumuran darah

Sementara pena yang dihunusnya belum mau patah.

(Jokpin, 1998)

Nombaca, sebuah komunitas literasi muda, masih kecil namun punya impian lahir tahun lalu (2010).  Setahun lalu, kami berlima berkumpul di sebuah kafe kecil, di salah satu sudut kota Palu, berkomitmen bersama untuk membantu kota ini dalam peningkatan literasi bagi warganya. Kegiatan-kegiatan apresiasi berkisar pada produk literasi: buku, film, musik, dan seni dalam pengertian yang luas. Setahun sudah terlampaui, ternyata komunitas yang anggota-anggotanya terdiri dari berbagai latar belakang yang sangat berbeda satu dengan yang lainnya, semakin hari semakin terlihat menggeliat dan bergerak bersama jejaring-jejaringnya dalam kegiatan literer kota Tadulako.

musikalisasi puisi bulan

Untuk merayakan hari istimewanya, komunitas ini dengan berkolaborasi dengan komunitas StepMagz, sebuah komunitas anak muda dan remaja yang mempunyai keinginan yang sama untuk membantu literasi terutama dalam dunia blogger, menggelar kegiatan sepanjang setengah bulan Desember 2011 yang dikemas dengan tema #membacapalu yang berisi kegiatan-kegiatan dongeng anak bersama Ade Syafaat; kegiatan launching buku-buku lokal dan diskusi TBM (Taman Bacaan Masyarakat) bersama Pemerintah dan Dinas terkait; Diskusi Sastra dan Poetry Jam Session bersama Jokpin; pameran foto-foto sejarah Midden Celebes, pameran buku, pemutaran film dan diskusi tematik; dan puncak acara akan di tutup pada tanggal 28 Desember dengan menampilkan konser musik Efek Rumah Kaca, sebuah band ber-genre underground dengan lirik-lirik sosialnya yang terkenal di kalangan anak muda dewasa ini.

Mengundang Jokpin (Joko Pinurbo) sendiri merupakan sebuah hal yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya dengan begitu ketat jadual yang mengungkungnya. Dan merupakan sebuah kehormatan bagi kami di Nombaca didatangi seorang penyair sederhana yang pendiam namun lugas juga rendah hati yang karya-karyanya dikenal dengan literasi humor yang cerdas, imajinasi yang liar dan berkesan parodi.

Jokpin dikenal juga karena telah beberapa kali mendapatkan penghargaan sastra terutama untuk puisi-puisinya. Buku kumpulan puisi pertamanya berjudul Celana, memperoleh hadiah sastra Lontar tahun 2001. Lalu puisi Celana 1, Celana 2 dan Celana 3, meraih penghargaan SIH award (penghargaan terbaik jurnal puisi) tahun 2001. Buku puisinya Di Bawah Kibaran Sarung, mendapatkan penghargaan Sastra dari Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional tahun 2002. Sebelumnya ditetapkan sebagai Tokoh Sastra pilihan Tempo tahun 2001. Tahun 2005 mendapatkan penghargaan sastra Khatulistiwa Literary Award untuk antologi puisinya, Kekasihku. Selain itu ia juga telah membukukan beberapa antologi puisinya seperti Pacar Kecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Pacar Senja (2005) dan Kepada Cium (2010).

Dalam acara diskusi sastra yang diadakan Sabtu 17/12, Jokpin di hadapan peminat puisi, mahasiswa-mahasiswa dan seniman kota Palu membagikan beberapa tipsnya untuk membuat puisi yang telah ia lakoni selama 25 tahun lebih. Selain memakai intuisi dalam proses melahirkan karya sastra, Jokpin juga terbiasa dengan membuat ringkasan dari setiap buku yang ia baca, dari ringkasan-ringksan itu ia kemudian membacanya ulang dan akhirnya ide-ide menulis buku meranggas dari hal-hal yang ia ringkas tersebut. Karena jika hanya mengandalkan intuisi, orang yang bukan penyair pun mampu melakukan hal itu.

Selain itu si Celana Senja membuat puisi-puisinya dari hal-hal yang sederhana, memilih kata-kata yang biasa kita jumpai sehari-hari seperti celana, senja, boneka, ranjang tanpa lupa juga memilah-milah variasi diksi yang digunakan. Ia mulai menulis puisi sejak tahun 1977 dengan model puisi lirik bernuansa romantis, dan membutuhkan waktu selama 15 tahun untuk terlahir sebagai penyair seperti saat ini dengan memakai warna baru dalam perpuisian modern Indonesia.

poetry jam session

Dalam puisi-puisinya, Jokpin lebih suka memakai model narasi (seperti bercerita) dibandingkan model lirik berbait-bait seperti penyair kebanyakan. Alasannya adalah karena orang Indonesia terlebih Jawa mempunyai kultur bertutur atau bercerita dan berkumpul sehingga untuknya puisi model narasi ini lebih mudah dicerna oleh pembacanya. Untuknya sendiri, dalam setiap puisi-puisi yang ia lahirkan, ending adalah yang terpenting, ia belajar khusus untuk menutup puisi-puisinya dengan hal-hal yang diluar dugaan dan terkesan kuat. Untuknya, mengakhiri sebuah puisi itu adalah hal yang paling sulit sehingga kadang memerlukan waktu berbulan-bulan bahkan tahun untuk melahirkan satu puisi.

Jika berbentuk narasi, bagaimana kemudian orang yang membaca tetap menganggap hal yang ia tuliskan itu sebuah puisi? Jokpin menegaskan, puisi yang kita tuliskan tetap sebagai puisi meskipun berbentuk narasi asalkan kita tidak meninggalkan sifat utama dari puisi yaitu metaphor atau symbol-simbol,perlambang. Contohnya tentang puisi Celana, di bait-bait awal celana masih berarti sebuah celana secara harfiah, namun di bait terakhir ia menjadi metaphor sebagai manusia yang lebih tertarik ke hal-hal materialistis/duniawi.

Celana, 1

si celana senja yang bersahaja

Ia ingin membeli celana baru

buat pergi ke pesta

supaya lebih tampan dan meyakinkan.

Ia telah mencoba seratus model celana

di berbagai toko busana

namun tak menemukan satu pun

yang cocok untuknya.

Bahkan di depan pramuniaga

yang merubung dan membujuk-bujuknya

ia malah mencopot celananya sendiri

dan mencapakannya.

“Kalian tidak tahu ya

aku sedang mencari celana

yang paling pas dan pantas

buat nampang di kuburan.”

Lalu ia ngacir

tanpa celana

dan berkelana

mencari kubur ibunya

hanya untuk menanyakan:

“Ibu, kau simpan di mana celana lucu

yang kupakai waktu bayi dulu?”

Jokpin mendorong para mahasiswa dan seniman untuk selalu mencari ide-ide baru, sederhana dari sekitar kita, mengolahnya dengan variasi diksi yang unik dan belum pernah dipakai sebelumnya. Ia juga menyarankan untuk menggunakan fasilitas media sosial seperti twitter yang mempunyai 140 karakter sebagai ajang latihan menulis puisi yang baik. “Tulislah puisi-puisi pendek, maka anda akan bisa membuat puisi-puisi panjang yang bagus”.

after workshop

Selain workshop dalam hal creative writing, malamnya, Jokpin juga berkesempatan melakukan poetry jam session (adu sajak) bersama penyair-penyair kota Palu. Dari yang termuda berusia tujuh tahun sampai penyair yang paling senior di kota Palu ikut larut dalam pembacaan puisi, diary, legenda, serta musikalisasi puisi Jokpin yang berjudul Bulan oleh anak muda kota Palu yang indah luar biasa penyajiannya, dan ditutup dengan Jokpin yang membacakan beberapa puisinya untuk kita. Sebagai hadiah ulang tahun kami, ia membacakan puisi yang berjudul Ibuku yang bisa diartikan: Ibu + ku, atau bisa juga Ibu + buku, atau juga Ibu+buku+aku.

Ibuku

in workshop

Ibu suka membacakan buku untuk menghantar tidurku.

Aku terbuai mendengarkan ibu dan buku, mendengarkan ibuku

Sambil membayangkan dan bertanya ini itu.

Akupun terlelap dalam mimpi, terbang ke tempat-tempat yang belum kukenali.

Ketika bangun kurasakan basah di celana.

Wah, beta telah ngompol dalam dekapan bunda.

Bila aku pamit sekolah, ibu tak pernah bilang jangan nakal

dan bodoh, jangan membantah guru dan menyanggah buku.

Ibu hanya mengecup jidatku: buka hidupmu dengan buku.

Pada saatnya, beta harus meninggalkan bunda sebab tak bisa

selamanya menyusu pada ibu. Aku harus mencari susu baru.

Sambil menahan airmata, ibu memeluk dan menciumku:

Pergilah. Terbanglah. Akupun terbang bersayapkan buku

ke antah berantah yang bagiku sendiri masih entah.

Ketika suatu saat aku pulang ke rumah ibu,

Ibu sudah menjadi buku yang tersimpan manis di rak buku.

(Jokpin, 2003)

 

Jokpin, penyair dengan puisi-puisi yang bertema sederhana namun mampu menyentuh sisi kemanusiaan kita, melampaui estetika, menyentuh wilayah peka manusia, kata Ayu Utami dalam apresiasi antologi Pacar Senja (2005).  Terima kasih banyak telah berbagi dengan anak-anak muda dan seniman kota Palu, jangan lupa janjimu untuk menggunakan kata-kata khas Palu seperti kase-lari, bunuh lampu dan hujan keras menjadi diksi dalam puisi-puisimu yang akan datang. Kau telah mencurinya dari kami, seperti yang kau sampaikan di malam itu, dan… kembalikanlah mereka dalam bentuk puisi-puisi berkarakter, lebih dari 140 karakter juga akan kami terima dengan senang hati.

Selamat ulang tahun Nombaca.

Menjelang dini hari di belahan Banteng Bumi Tadulako

19 December 2011

happy birthday nombacaners...