«I learned from Hussain how to be wronged and be a winner, I learnt from Hussain how to attain victory while being oppressed» — Mahatma Gandhi

 

 

in front of rektorat office

Tentu saja menyenangkan sekali bisa berlibur ke Yogyakarta, suatu kota seni (termasuk sastra) yang begitu di kenal di Indonesia. Selain bisa menikmati kotanya, makanannya yang murah meriah lagi sedap, jjs (jalan jalan sore) di Malioboro yang terkenal itu (oh KLA Project, gara-gara lagumu itu aku terobsesi dengan Malioboro…ternyata tidak seindah lagunya hiks..)

Mumpung di Yogya, selain say hello dengan teman-teman komunitas literasi dan sastra, tentunya berkesempatan untuk bertemu dengan sahabat-sahabat di dunia maya, salah duanya adalah Mbahwo dan mas Odi Salahuddin.

Mbahwo yang kukenal di dunia maya, merupakan satu sosok yang nyeleneh dengan fotonya yang unik abis (saya sempat protes pada Mbahwo pada saat ia mengganti foto kakeknya yg culun itu). Dari awal tulisan-tulisannya yang unik, berciri humanis, juga sekali-sekali menyentuh dunia blogging dengan halus itu sudah banyak penggemarnya termasuk saya. Kemudian pernah juga saya bertanya pada Mbahwo siapa beliau itu sebenarnya, karena dari tulisannya saya bisa meraba beliau pasti seseorang yang biasa menulis dan malang melintang di dunia penulisan dan blogging. Nah, pertanyaan saya dijawab dengan nama dan sedikit CV yang menerangkan siapa beliau. Juga dengan wanti-wanti yang amat sangat pada saya untuk tidak memberitahu pada siapapun siapa beliau ini sebenarnya. Dan memang, menurut Mbah, hanya saya yang beliau beritahu siapa sebenarnya beliau di alam nyata di Kompasiana. Okelah kalau begitu, Mbah, sampai detik ini saya juga tidak akan memberitahukan kepada yang lainnya siapa mbah’e sebenarnya.

Untuk mas Odi sendiri, sebenarnya kami berdua sudah saling mengenal sebelumnya ya mas? Hanya mungkin keterbatasan memori yang ada di otak saya sampai saya lupa kalau mas Odi pernah ke Palu juga dan bergerak dalam kegiatan yang sama dengan saya, duhhhh Hilda..hahaha, sorry ya mas Odi. Siapa sih yang tidak kenal dengan mas Odi ini di Kompasiana? Tulisan-tulisannya yang nyastra banget dan kajian-kajiannya tentang isu perlindungan anak banyak menyentuh hati pembaca. Bukan hanya di Kompasiana. Kanal Kumpulan Fiksi-nya juga sudah sangat dikenal dan menjadi salah satu ikon sastra di dunia blogging Indonesia.

Kebetulan juga, dalam dunia yang nyata kami bertiga bisa berkumpul di satu kota dan akhirnya bisa ketemuan di satu tempat yang nyaman dan sejuk. Dimana lagi kalau bukan di kantornya Mbahwo di salah satu kampus keren di Yogya ini.

Saya datang belakangan (maaf nih terlambat) setelah sekian lama beliau berdua berbincang-bincang. Wah, sama sekali di luar dugaan, saya pikir saya akan di ajak bertemu di satu kafe atau resto yang ada di kampus, ngga taunya di ruang Rektorat pula. Asri untuk yang merokok, tapi untuk yang tidak karena ventilasinya banyak tidak juga mengganggu, dengan jamuan kopi yang enak ditambah gorengan (si Mbah tau aja aku suka gorengan hehe) plus makan siang yang sedaaaap sekali, kami bisa berbincang-bincang tidak terasa sampai sore ya?

Wah, sayang sekali, sebenarnya kami bisa bertemu dengan Pak Rektor siang itu, namun karena beliau sedang agak kurang sehat, terpaksa beliau pulang lebih dahulu. Salam saya untuk Pak Rektor ya Mbah?

from side to side haha

Mbahwo bercerita tentang beberapa sisi kehidupannya dan juga kiprahnya di kampus dan di luar kampus. Saya dengan mas Odi menyimak sekaligus mengagumi sosoknya yang di mata saya kebapakan, pintar, dan juga humble. Dia sih ketawa-ketawa saja menghadapi tantangan-tantangan yang ada di dalam hidupnya, sudah sejak lahir susah sih, katanya, jadi beliau sangat mengerti keberadaan orang-orang yang hidupnya tidak seberuntung yang lainnya. Jemaah Perbambungannya itu (aduh si Mbahwo ketawa terbahak waktu saya bilang saya pikir Jemaahnya si Mbahwo itu dulu adalah sebuah komunitas keagamaan semacam itu). Ternyata oh ternyata, Jemaahnya si Mbah ini setiap angkatannya ada 2000an orang wah..wah..

Tapi sekali lagi seorang Mbahwo mampu membuktikan dirinya dimana ia harus menjadi panutan orang-orang yang beliau dampingi. Tentunya kearifan, mampu mengalah, mampu melihat jauh ke depan, dan bukan karena arogansi dan egoisme diri untuk menjadi pemenang di dalam segala hal apalagi sampai harus menyudutkan orang-orang lain, menjadikan beliau dan tentunya para akademisi di belakangnya lebih bijak menyikapi hal-hal yang terjadi di dunia maya. Kan malu ya, kalau nanti ketemu seseorang, yang sebelumnya kita anggap sangat rendah, penipu, penjahat, ternyata dia yang sebenarnya itu adalah sesorang yang sangat di hormati oleh orang-orang lain dan berkelas dunia?

Waduuuh jangan sampai deh saya seperti itu..

Saya juga terkejut menyadari bahwa dibalik Mbahwo.com, banyak juga terlibat orang-orang yang cukup di segani di kalangan dunia pendidikan dan politik di level nasional dan internasional yang kemudian mereka banyak bergabung menjadi penulis di Kompasiana, namun kini mereka mundur dan memilih blog-blog lain karena beberapa alasan prinsipil. Kami kebetulan dikenalkan ke beberapa orang tersebut (waduuuuh makasih ya, jadi malu nih soalnya bukan siapa-siapa sih, tapi senangnya mereka itu sangat sopan dan ramah, tidak memandang gelar sebagai sesuatu yang kelasnya tinggi, hahaha..benar juga yang dibilang orang ya, semakin tinggi ilmunya, ya semakin merunduk orangnya –> Ilmu Padi)

Belajar banyak dari pertemuan ini, terutama bagi kami berdua ini; yaitu:

– Dunia maya bukan dunia nyata, bisa saja orang yang tidak begitu eksis di dunia nyata ternyata mampu menggegerkan dunia maya dengan tulisannya, demikian juga sebaliknya, jangan terkecoh deh…

– Keprofesionalitasan jabatan, tidak untuk diumbar di depan umum terlebih orang-orang yang mempunyai link-link tertentu dalam hal menjaga kode etik keprofesionalitasan

– Diberikan link-link kelas dunia dan tips-tips blogging yang menghasilkan keuntungan (lumayan untuk bekal di hari tua hehe)

– Gelar bukan sesuatu yang perlu dibangga-banggakan, tapi implementasinya bagi masyarakat dan sesama serta tanggung jawab dalam membawa gelar yang berat itulah yang terpenting

Terima kasih ya Mbahwo dan juga mas Odi untuk pertemuannya yang bernas dan bermanfaat sangat ini. Saya seperti mendapat kuliah gratis untuk 2 SKS malah hehe. Liburan yang menyenangkan dan menjadi pengalaman yang berharga.

in front of UTY campus

 

 

Bilangan Kaliurang YK, 03012012

tulisan awal di posting disini