oh sarjana..

Membaca opini Kompas hari ini bertajuk Dikti di Seberang Harapan, Romo Frans Magnis Suseno mempertanyakan obat bagi anemia output ilmiah bangsa Indonesia, karena keluarnya ketentuan Dirjen Dikti per Agustus 2012 mengenai peraturan untuk bisa lulus S1 harus dihasilkan makalah yang terbit pada sebuah jurnal imiah, untuk S2, makalah harus terbit dalam jurnal imiah nasional, dan untuk bisa lulus S3, harus menulis di jurnal internasional. Pertanyaannya adalah, siapa yang mau baca ribuan makalah di setiap jurnal-jurnal itu? Haloooo?? Baca tulisan yang agak panjang dan libet di blog-blog aja pasti kita langsung berpindah lapak hehe

Makin susah saja ya jadi sarjana di negeri ini (kasihan aku pada kalian-kalian yang masih kuliah adik-adikku), oleh karena itu, rajin-rajinlah kita berlatih menulis, mumpung sudah ada segala fasilitas modern dewasa ini seperti blog, media-media sosial di internet seperti Kompasiana, Facebook, dan lain-lain; jangan cuma nulis curhat-curhat yang ngga jelas melulu di Facebook atau puisi saja (bagus sih puisi sebenarnya untuk mengasah perasaan, tapi kalau itu-itu saja, nanti kalau disuruh nulis makalah jadinya puisi kan berabe hehehe…) sekali-sekali mengarang yang agak berbobot kan bolehlah karena mengarang dalam menulispun sebenarnya sudah bermain logika, dan menurut penelitian, banyak mahasiswa di Indonesia tidak bisa menulis, boro-boro menulis ilmiah, menulis yang populer pun katanya tidak bisa. Nah, apakah artinya jika menulis yang sederhana saja kita tidak bisa? Apakah berarti mahasiswa-mahasiswa kita banyak yang tidak mampu memakai logikanya? Oh my..my

Latihan menulis itu berguna lho, supaya pada waktu disuruh menulis makalah ilmiah dalam jurnal anda sudah terbiasa dan hasilnya pasti tidak memalukan deh, tinggal merunut alur dan sistem menulisnya saja yang dipelajari.

Oh ya, yang membuat saya semakin menarik membaca tulisan ini karena dalam tulisan selanjutnya Romo Frans membahas inti masalah sebenarnya terletak pada pola pendidikan sejak dini, yaitu dari sejak SD seharusnya polanya di ubah, dari pendekatan yg menjadikan anak obyek pasif menjadi memandang anak sebagai subjek aktif yang di hormati identitasnya (asik banget bahasanya nih, pro anak sekali). Anak perlu di rangsang semangatnya untuk ingin tahu, mencari tahu, mencari yang baru, berani bertanya mengapa…dan…berani mengemukakan pendapat sendiri (nah, akhirnya ketemu ya masalah utamanya apa)

Selain itu anak harus di rangsang kreativitasnya, anak-anak yang melawan trend harusnya dipuji (bukannya ditertawakan dan dimarahi), perbedaan pendapat di hormati, bahkan dihargai oleh guru. Anak juga dirangsang belajar berdebat. Anak tidak lagi diharapkan manut dan penurut melainkan menjadi anak yang percaya diri, terbuka, berani dan kreatif….tuuuuh dengerin tuh…guru, dosen, orangtua…😀

Ah, tetap masih ada harapan. Jangan takut. Yuuk, berlatih menulis🙂

 

bangga ngga bisa nulis?

 

@Hilda in Palu, 8/02/2012

Salam hangat dari Bumi Tadulako

 

 

posting for the first time here