Tak ada tetapi saat kita hidup dalam saat. Tak ada kuasa yang bermain dalam semesta,
tiada yang jadi puisi, jadi drama, tanpa cinta.
Manusia senantiasa merasa memiliki daya untuk mencipta dan melenyapkan,
sementara ia sesungguhnya tercipta dan terlenyapkan.
(“Maka Berkatalah“, pengantar buku sekumpulan Puisi ‘Lalu Aku’)

 

Di penghujung tahun 2011, penulis sempat menikmati masa liburan yang terasa bereflektif sastra. Pada satu kesempatan langka, saya bisa bertemu dengan budayawan nasional Indonesia yang saat ini sedang naik daun, siapa lagi kalau bukan mas Radhar yang punya nama lengkap Radhar Panca Dahana, tulisan-tulisannya yang aktual sering kita baca dalam kolom opini Kompas dan Gatra. Selain menulis di harian dan majalah-majalah nasional itu, beliau juga telah membukukan puisi, prosa, komik, teater dan esai sejak tahun 1980an. Beruntung saya bisa mendapatkan satu buku antologi puisinya yang berjudul ‘Lalu Aku’.

Buku yang sudah lama tergeletak di meja saya itu baru terbaca pada bulan Desember tahun lalu. Awalnya saya pikir buku puisi biasa-biasa saja, dan bertapa terkejut saya mendapati puisi-puisi yang ada dalam buku ini  begitu cerdas, dalam dan mempesona dengan diksi-diksi baru yang jarang digunakan penyair-penyair lainnya. Menjadikan saya penasaran siapa sih sosok seorang Radhar ini, karena dari guratan-guratan puisinya orang awam juga mampu membaca bahwa seseorang ini pastinya sangat luar biasa otak kanan maupun otak kirinya. Nah, itulah gunanya google, dengan berselancar ke kanan dan kiri, informasi terkumpulkan dan tersimpulkan bahwa seseorang ini selain sastrawan, seniman juga pendidik.

Demikianlah akhirnya waktu membawaku bisa bertemu dengan sosok budayawan yang sekarang sering di undang juga di stasiun-stasiun TV nasional untuk membahas fenomena-fenomena sosial di negara kita ini ditinjau dari sudut budaya kita. Yang teranyar kalau tidak salah tentang istilah pemerintahan auto pilot. Saya diundang ke markas Federasi Teater Indonesia miliknya di bilangan Lebak Bulus-Jakarta. Kebetulan dekat dengan kediamanku. Berbincang-bincang selama 2 jam lebih bersama mas Radhar, memberikanku beberapa pencerahan tentang sastra Indonesia dan seni budaya pada umumnya.

bersama si budayawan nasional kita

 

Tentu saya tidak menyia-nyiakan kesempatan langka ini untuk menanyakan tentang keberadaan sastra terutama di dunia maya dewasa ini. Menarik sekali, mas Radhar memberikan beberapa pendapatnya tentang fenomena sastra di media berbagai sosial seperti di  facebook, twitter dan jurnalisme warga lainnya.

Mas Radhar, memangnya bisa ya karya-karya yang di posting disana itu disebut karya sastra? Bukankah sastra itu seharusnya yang indah, elegan, menyentuh hati dan tidak cepat hilang ditelan karya lain dan terlupakan? Nah, menurutnya, bisa saja karya-karya disana disebut karya sastra, itulah sastra yang demokrasi. Saat ini, semua bisa membuat dan menikmati sastra, sastra demokratisasi yang bisa dinikmati semua lapisan, yang akhirnya mendegradasi nilai sastra itu sendiri.

Kok bisa tergedradasi? Karena sebenarnya yang ada saat ini adalah tingkatan dalam sastra ibarat air, yang terlihat hanya yang dipermukaan saja, tergeneralisasi. Semua orang bisa membacanya, mengerti dan merasakan indahnya, namun jika ingin memperdalamnya, menguak misteri dan keindahan sastra, kita harus menyelam lebih dalam lagi. Itulah kedalaman sastra, semakin mendalami akan semakin mendapat kemurniannya. Tapi saat ini, yang terlihat hanya yang ada di permukaan saja.

Sastra itu ada kaidah-kaidahnya, ada tingkatan-tingkatannya, kalau dia mudah itu bukan sastra tapi ungkapan perasaan, nah akhirnya munculah dari sana terbentuk tingkatan sastra. Ada sastra murahan dan picisan dan ada pula sastra murni (mungkin yang terakhir ini yang akan abadi, tidak tergerus oleh jaman) yang karya-karya itu bisa dinilai oleh para pecinta, apresiator sastra, kritikus sastra dari bahasa yang dipakai, diksi yang digunakan, faktor estetika dan ungkapan-ungkapan (symbol/metafora)  yang bisa diukur kedalamannya.

Radhar Dahana

Selama pembicaraan bersama mas Radhar, saya serasa mendapatkan siraman rohani sastra. Kagum saya dengan sosok budayawan satu ini, yang menulis sejak umur 10 tahun dan pada saat ini untuk menjaga kualitas tulisannya, ia hanya menulis di dua media nasional saja, yaitu Kompas dan Gatra. Selain itu, beliau juga menjadi pendiri beberapa komunitas sastra dan seni seperti Mufakat Budaya, Balai Sastra Kecapi, Federasi Teater Indonesia dan Teater Kosong.

Mengapa hanya fokus menulis di dua harian dan majalah itu mas?  Bukankah akan lebih baik jika banyak menulis di berbagai media malah lebih bagus? Menurutnya, jika kita terlalu sering menulis, selain akan membuat pembaca kita bosan dengan tulisan-tulisan kita, kadang kita sulit untuk menjaga kualitas tulisan kita.

Ah, saya jadi ingat dengan tulisan-tulisannya Goenawan Muhammad dalam Caping (di Tempo) yang sangat terkenal itu. Terus terang dulu saya mengagumi dan menyukai tulisan-tulisan beliau yang sangat cerdas, filosofis dan kita jadi merasa pintar juga setelah membacanya. Tapi lama kelamaan, dalam beberapa tulisan GM seperti  kehilangan kontrol dalam tulisan-tulisannya dan mengulang-ulang kembali apa yang telah pernah ditulisnya. Sekarang saya jadi jarang membacanya lagi deh. Mungkin seperti itu ya maksudnya?

(bisa jadi sih kalau sudah ahlinya menulis seperti beliau seperti ini ya? Kalau masih junior seperti saya ini sih, kayaknya masih harus banyak latihan menulis deh..)

Ternyata, menjadi sastrawan atau pelaku sastra, membutuhkan proses yang panjang dan ekstra kerja keras untuk mengasah dan mendalaminya ya?

Sekarang tinggal di kembalikan kepada kita semua dalam mencipta, mengkarsa, menilai dan mendedah karya kita itu, mau masuk yang mana? Sastra murahan, picisan atau sastra yang benar-benar sastra bukan sebagai curahan hati saja?

Terima kasih mas Radhar untuk sharing yang menarik ini, hal lain yang menggembirakanku adalah kesediaan beliau untuk bertandang ke kota Palu jika di undang oleh Nombaca (woow…). Sebagai ungkapan senangnya diriku, ijinkan aku menuliskan salah satu puisimu disini ya..

 

RAGUKAN AKU TANPA RAGU

                : cahaya

 

tidak seberat itu, anakku

pikul yang kau pundak

di berat tubuhmu.

itu semata beban sejarahku

ego-obsesi buruk ayahmu

membuat pikirmu tunduk

tawamu suntuk dan sekujur

tubuhmu takluk.

 

semua itu salah, salahku

tak menangkap lapang

ruang di dadamu

langit tak berwarna di benakmu.

aku mensyukurinya dengan dusta

semua kata yang kuwariskan

ke diriku sendiri,

ke pantulan matamu.

ke cerobohku menata kasihmu.

 

seberat semesta yakinku

pada duniamu, pada semua

enerji yang percaya padamu.

namun untukmu, nak

pilihlah semua ragu

untuk semua yakinku.

sebab tinggal haru tinggal biru

menggenang di langitku

tinggal gelombang dan karang

di laut kembaraku.

 

laut di mana semua tetesnya

adalah cinta, untukmu semata.

tapi, lagi sekali, ragukan aku

bila tetap tersedu, tetap jadi aku.

ragukan semua

tanpa ragu

(Radhar, Lalu Aku, 2009)

 

 

Untuk Nombaca tercinta.

Palu, 9 Februari 2012