Oke, SAYA MENGAKU!

bad poem?

 

 

Saya mengaku itu bukan puisi

Saya mengaku itu hanya coretan

Saya mengaku itu hanya curahan hati belaka

Puaskah?

Rindukah?

Bencanakah?

Jika kata-kata memalu dan menghantam

Bang bing bong…

Bum bom bim…

Pang ping pung…

Dan saya tak mampu menghentikannya

 

Para kata menjerit dan memerih dalam koma,

Saya tak tahu bagaimana menghentikan mereka

Berkeliaran, berlarian, mabuk sesuka hati pada jeda-jedanya

Mengacak-acak putihnya format A4 word microsoftku

Haaaaaaahhhhh…..!

 

Akhirnya kubiarkan saja sesukanya,

semoga karena kelelahan bermain, di satu masa mereka pasti berhenti

Kemudian istirahat dan tertidur dalam titik.

 

Lho, lalu tutstuts bermuram durja

Dan dunia tiktaktiktuk pun terhenti

Dan saya menghela nafas, hhhhhhhhhhhh……!

Serta mengaku padamu,

Itu bukan puisi…

 

 

 

puisi ini dipublish di beberapa group sastra dan puisi di facebook dan juga di kompasiana 😉

Palu, 14 Februari 2012 (tapi bukan dalam rangka hari Valentine lhooo)

Advertisements
Categories: Tags: , , ,

9 Comments

  1. puisi ini sebenarnya jawaban dari puisi seorang Balya Nur di group Bengkel Puisi Swadaya Mandiri (BPSM) di facebook. Seperti ini puisinya:

    MENGAKU PUISI

    Kau datang lagi
    Aku mulai mengerti
    Kau bukan puisi

    Kenapa kau datang setiap hari
    Kau ingin aku seperti Rois Ronaldi
    Posting tiga puisi setiap hari?

    Kenapa kau mengaku puisi?
    Puja Sutrisna tidak menulis puisi setiap hari
    Bukan tidak bisa.Bahasa kawi saja dia mengerti
    Aku tidak bisa lagi dibohongi

    Kau mengetuk kepalaku setiap hari
    Kau ingin masuk essai Hilda Rumambi ?
    Ingin dibedah oleh Usup Supriyadi?
    Tidak bisa, kau bukan puisi!
    Apa kata Luluk Andrayani nanti ?

    Kau datang lagi
    Aku hafal wajah puisi
    Aku taruh kau di status pribadi
    Jangan datang lagi!

    Pebr 2012

    hehhehe…keren kan?

  2. lalu puisiku di atas itu ditanggapi oleh bang Onald Anold di group yang sama
    seperti ini:

    Sahabat Keparat !

    celotehmu, itu bukan puisi
    bukan sajak, juga prosa
    aku tak peduli, tak perlu peduli
    yang kutahu hatimu berkelambu

    itu bukan stanza, atau gurindam
    bukan atau apapun, jeritmu !
    aku tak peduli, tak perlu peduli
    karena dosamu, mencumbu kata
    melupakan doa pada makna !

    itu yang membuatku peduli,
    menghalalkan darahmu,
    di mataku.

    Pamulang, 15 02 2012

    maka…semakin seru lah perseteruan puisi dan kata-kata mbeling ini hehehhe… 😉

  3. He he he,..

    Dan apakah hakmu menilai dosa, puisi, atau buruk rupa kekasihku
    bukan dengan doa, tapi dengan jubah munafik ajaran nenekmu
    sedang untuk ribuan laksa dosa dosa nenek kakek dan cucu cucu kita,
    Guru telah tersenyum dan mati,
    karenaNya.

    ….
    Salam Keparat !!

    1. majulah para keparat,
      dunia tdk lagi berselubung kemunafikan…

      sekali keparat dalam kata
      jangan menjamu kata dalam gelimang dosanya

      mati lebih baik daripada
      tak punya keberanian berujar jujur…

      untuk para keparat kata di ujung2 dunia kata 😉

    1. ini siapa lagi ya yang MENGAKU Balya Nur…?? nanti yg aslinya marah lhooooo
      ayo MENGAKU, ini yang asli atau pura-pura asli, atau pura pura MENGAKU, hayooo??
      😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s