13310201241519691791

Sangatlah sulit untuk dapat menyelesaikan tulisan yang kita tulis dan merasakan perasaan puas yang sangat istimewa dan berbeda pada saat kita selesai menulis, kecuali….jika kita menulis asal tabrak saja dari awal sampai akhir sehingga menghasilkan karya yang amburadul.

…’Saat-saat akhir setelah menyelesaikan karya yang asal jadi seperti itu tidak akan membawa kepuasan batin bagi kita. Namun sebaliknya, kita akan merasakan kegembiraan yang luar biasa dan juga bangga setelah mampu menyelesaikan atau menulis sebuah karya yang berbobot….” (David Kaplan)

Nah, sekarang pertanyaannya pada kita. Apakah kita benar-benar menulis dengan sepenuh hati dan kemampuan sehingga tulisan kita tidak asal jadi alias astul (asal tulis)? Tulisan yang berkualitas entah itu opini, reportase ataupun fiksi pasti akan disukai oleh banyak orang (bukan disukai hanya karena pertemanan saja lho, tapi memang karena bobot tulisannya). Inilah yang akan terus terjadi dan terjadi. Hati nurani tidak bisa dibohongi, kita juga akan merasakan sendiri setelah kita menyelesaikan tulisan kita dan membacanya kembali. Benarkah tulisan kita sudah berbobot atau sebaliknya.

Yakinlah, bahwa setiap orang sebenarnya memiliki bakat menulis. Namun jarang bakat itu disertai keberanian untuk mengeksplorasi bakat tersebut semaksimal mungkin. Seperti Pram pernah menuliskan bahwa menulis adalah sebuah keberanian. Keberanian untuk menuliskan kepedulian kita akan hidup. Keberanian menulis untuk merasakan lagi kehidupan kita. Keberanian menulis untuk kita mampu meraih hidup yang lebih bermakna, meraih apa yang ada dibalik makna itu dan mengajarkan kita bagaimana berbicara pada orang lain dengan tulisan kita.

Beranikah kita? Sudahkah kita ‘telanjang’ dalam menulis? Liarkah kita dalam menuangkan imajinasi kita dalam puisi/fiksi kita?

Jika sudah, tentunya kita akan merasakan kebahagiaan luar biasa itu! The desire has been fulfilled!

Selamat berani dalam karyamu!

di posting juga disini