Pada waktu kita kecil, tentu kita familiar dengan dongeng yang biasanya diceritakan atau dibacakan oleh orang tua kita, entah itu ayah atau ibu kita. Saya ingat pada masa kecil dulu, ayahanda lah yang selalu menceritakan dongeng-dongeng sebelum kami tidur. Meskipun dongengnya kadang sering di ulang-ulang, tapi entah kenapa kami senang sekali mendengarkannya. Mungkin karena cara mendongengnya menarik (kadang-kadang dengan gerakan, mimik muka yang menyeramkan atau lucu) sehingga kami merasa belum lengkap tidur jika belum mendengarkan dongeng. Dongeng-dongeng itu untuk kami pastinya tidak pernah basi meskipun sering di ulang-ulang.

Saya sendiri masih agak heran dan sedikit takjub (jarang lho ada civil journalism memasukkan kolom dongeng dalam fiksi mereka, salut juga), ada kolom Dongeng di Fiksiana. Apakah mungkin kolom ini bertujuan untuk memudahkan orangtua-orang tua jaman sekarang yang super sibuk, jadi kalau mau membacakan dongeng pada anak-anaknya, mereka dengan mudah akan mendapatkannya di situs Kompasiana? Atau apakah untuk meningkatkan kreatifitas Kompasianer untuk membuat dongeng-dongeng yang baik dan dibagikan untuk anak-anak kita. Atau…apakah kolom dongeng ini ditujukan bagi anak-anak yang suka pada dongeng untuk mereka baca? Hehe…sepertinya alasan yang ketiga ini terlalu absurd ya? Selain anak-anak yang menyukai dongeng ini biasanya balita, saya berasumsi dari umur 12 tahun ke bawah deh. Jadi, mungkin ngga ya anak-anak kita membaca kolom dongeng di Kompasiana?

Mari kita lihat dulu definisi atau teori-teori tentang dongeng yang kita bisa temukan dalam teori Sastra yang sudah ada selama ini. Jika memang kita mau membuat teori baru tentang dongeng, ya silahkan saja. Mungkin itu bagus untuk meng-sahih-kan (yang katanya) dongeng-dongeng yang ada di Kompasiana saat ini.

Dongeng adalah cerita fiktif atau cerita imajinatif. Oleh karena itu, di dalam dongeng ada tokoh, watak tokoh, alur, latar dan unsur cerita lainnya. Perbedaan yang signifkian dengan fiksi lainnya adalah pada daya khayali-nya. Di dalam dongeng kita akan menemukan manusia bisa terbang atau binatang bisa bicara. Dari situlah dongeng memiliki daya tarik tersendiri khususnya bagi anak – anak, selain itu dongeng juga menyimpan moral value apa yang menjadi pesan dongeng tersebut. Dan ini menjadi daya tarik bagi orang tua untuk memberikan pembelajaran melalui dongeng bagi anaknya.

Menurut teorinya, dongeng dapat digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu: 1. Fabel (cerita binatang) seperti : cerita Si Kancil, Kera dan Kura-Kura, Si Kelinci Putih dll; 2. Cerita jenaka (cerita yang lucu): contoh: ‘Si Kabayan’, ‘Lebai Malang’, dll; 3. Legenda (cerita berkaitan dengan asal – usul tempat) contoh: ‘Tangkuban Perahu’, Roro Mendut’, ‘Danau Toba’ dan lain sebagainya; 4. Mite (Mythe)- (cerita dewa – dewi, makhluk halus, dan hal – hal goib) contohnya: ‘Nyi Roro Kidul’, ‘Roro Jongrang’ dan lain sebagainya; 5. Sage (cerita dongeng yang mengandung unsur sejarah) contoh: ‘Tutur Tinular’, ‘Pararaton’; 6. Parabel (cerita yang berisi unsur pedidikan atau keagamaan) contoh: ‘Damarwulan’, ‘cerita sepasang selop putih’ dan lain sebagainya

Nah sekarang, mari kita membaca dongeng-dongeng di Kompasiana, sebagian besar alias kebanyakan saya baca isinya diluar yang ditulis di atas itu. Kebanyakan tuh ya isinya ya ada yang curhat, cerita mini, cerita pendek, cerita amburadul, ngawur yang ngga tahu mau masuk kemana mungkin ya, jadi akhirnya memilih dongeng sebagai pilihan terakhir. Tidak tahu ya, apakah Kompasianers itu mengerti tentang apa itu istilah “dongeng” atau tidak. Atau menyangka apa saja bisa dimasukkan dalam kolom dongeng..duuuh…sedih ngga nih kalau anak-anak kita membaca ‘dongeng-dongeng’ seperti ini?

Oke deh, mari kita lihat seperti apa sebagian besar dongeng-dongeng di Kompasiana itu, dan baca dengan hati nurani, ini termasuk dongeng atau ‘dongeng’ sih sebenernya? Ini beberapa contoh saja (mohon maaf ya sebelumnya yang saya masukkan contoh-contohnya disini)

http://fiksi.kompasiana.com/dongeng/2012/03/22/siapa-kau/

halooo…beneran ini dongeng atau cerita asal-asalan sebenarnya, mas? Saya kalau jadi anak-anak bingung pastinya dengan isi dongeng ini, tapi pastinya ketawa sih kalau ngeliat gambarnya yang lucu hehe…

http://fiksi.kompasiana.com/dongeng/2012/03/21/nyanyian-sunyi-diujung-malam/

mbak’e menurut saya ini sih bukan dongeng tapi puisi, atau apakah dirimu sudah mendefinisikan dongeng itu sama dengan puisi? mengkerutdahi.com deh…

http://fiksi.kompasiana.com/dongeng/2012/03/21/ppd-03-ketakutan-yang-menjalar/

saya kutip beberapa kalimat artikel dongeng itu disini:

“Kenapa sich pake harus cerita yang seram-seram?!” X-(

“Ableh cuma denger apa kata orang…” T_T

“Plak!!” Kali ini botak Pak Ogah yang diteplak tanpa sengaja.

“Lu ngajakin berantem ya?!”

 

Kalau saya jadi anak-anak balita, pasti bingung nih waktu dibacain cerita ini…kok galak amat ya orang-orangnya. Lama-lama kalau anak-anak kita dicekokin cerita-cerita seperti ini menurut saya berbahaya bagi perkembangan jiwa mereka karena penuh dengan kekerasan verbal.

http://fiksi.kompasiana.com/dongeng/2012/03/20/kura-kura-dan-kelinci/

sebenarnya waktu baca judulnya saya sudah senang saja, karena menyangka akan menemukan yang ‘the real’ dongeng disini, tapi oh tapi…baca aja sendiri, pasti bingung kenapa ini bisa disebut dongeng. Yang mendekati dongeng ya judulnya aja sih menurutku.

http://fiksi.kompasiana.com/dongeng/2011/12/27/cerita-negeri-dongeng-menjelang-akhir-tahun/

yang bener aja nih admin, dari bulan Desember tahun lalu ini artikel yang dibilang dongeng ini kok ngga turun-turun ya, isinya pun jauh banget dari yang namanya dongeng. Lebih dekat ke curhat politik tanah air? Mungkin judulnya saja yang menyisipkan kata ‘dongeng’ disana menjadikan artikel ini ada terus disitu?

http://fiksi.kompasiana.com/dongeng/2012/03/09/pantaskah-negeriku-di-franchise-kan/

yang ini lebih aneh lagi, masa curhat dan cerita tentang franchise negeri dimasukkan menjadi dongeng, tuh gimana ngga amburadul…negeri dongeng kompasiana? Anak-anak pastinya akan terbengong-bengong kalau diceritakan ‘dongeng’ politik seperti ini hehehe

http://fiksi.kompasiana.com/dongeng/2012/02/23/cergam-api-masehi-08/

ini artikel yang sudah lama dituliskan dalam kolom dongeng. Coba simak, orang dewasa saja akan berkerut waktu membaca ‘dongeng’ ini. Untuk saya sih malah agak-agak menakutkan…

_________________________________________________________________________________________________

Tapi dari kebanyakan dongeng-dongeng yang kacau seperti itu di Kompasiana, ternyata saya menemukan juga terselip intan-intan juwita yang menurut saya bener-bener dongeng dan kalau saya anak-anak saya pastinya akan meminta mama/papa untuk membacakannya berulang-ulang

http://fiksi.kompasiana.com/dongeng/2012/02/04/pohon-kecil-yang-kesepian/

untuk kali ini, saya salut pada admin karena memilih dongeng yang benar-benar dongeng sebagai HL di kolom dongeng.

http://fiksi.kompasiana.com/dongeng/2011/10/07/buluh-perindu/

senang sekali melihat orang-orang muda yang mau bersusah payah mengumpulkan cerita-cerita dongeng di tanah air kemudian menuliskan ulang di blog-blog mereka termasuk Kompasiana.

Seorang Kompasianer juga menuliskan tentang dongeng-dongeng dari Kapuas:

http://fiksi.kompasiana.com/dongeng/2011/12/01/prahara-buaya-di-desa-batanjung-%E2%80%93-lupak/

tulisan ini juga menarik, selain ada dongengnya, ada juga pembelajaran yang dituliskan oleh si penulis

http://fiksi.kompasiana.com/dongeng/2011/11/29/kisah-monyet-dan-angin/

ini ada lagi:

http://fiksi.kompasiana.com/dongeng/2011/11/29/si-fakir-dan-tuan-berpendidikan/

 

**

Dongeng memang banyak mengandung khayalan. Di dalam dongeng, khayalan manusia memperoleh kebebasan yang mutlak karena di situ ditemukan hal-hal yang tidak masuk akal dan tidak mungkin ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Khayalan inilah yang secara psikologis akan membuat anak-anak tertarik mendengarkannya dan kedepannya menjadikan dongeng alat yang ampuh untuk mematangkan imajinasi anak, juga efektif untuk menanamkan kecerdasan moral serta meningkatkan prestasi anak. Sisi negatifnya, dongeng juga bisa menanamkan hal-hal yang buruk, kekerasan, licik, tidak bermoral, korupsi dll.yang akan dibawa anak sampai dia dewasa.

Yuuk, kita buat dongeng yang bermutu dan tidak amburadul dan ngawur lagi. Untuk anak-anak kita juga lho nantinya.

Salam mendongeng dari negeri dongeng @hammer city

 

 

**hehe jadi gatel sih tangan ini mau kritik2 lagi ah disini