Kata orang, menonton teater bisa menjadi barang langka di negeri ini karena dianggap mewah ataupun mustahil (tidak ada pertunjukan teater di kota anda, sama seperti di kota saya); juga karena kurangnya pengetahuan orang awam tentang teater, sulit memilah pertunjukan teater yang indah dan artistic, atau menganggap teater sebagai seni yang terlalu tinggi, atau juga karena memang tidak tertarik sama sekali dengan teater. Padahal banyak anggapan orang-orang di negara-negara maju menonton teater atau opera merupakan kebutuhan batin yang wajib dipenuhi dan pengetahuan teater sudah diajarkan sejak di sekolah dasar.

let the story begin...

 

Tiga minggu lalu penulis menyempatkan diri sebelum pulang ke haribaan kota tercinta untuk menonton pergelarannya Teater Koma Sie Jin Kwie di Negeri Sihir di Graha Bhakti Budaya, Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki.

Untung saja pertunjukan mereka digelar sebulan penuh, dari tanggal 1-30 Maret 2012, sehingga saya setidaknya mempunyai sedikit waktu untuk menonton pertunjukan ini.

Dengan membayar minimal Rp. 75,000 kita sudah bisa mendapatkan tiket termurah. Kalau tidak salah sih, Teater Koma juga memberikan tiket gratis untuk mahasiswa, guru dan pekerja seni. Tapi saya tidak tahu prosedur mendapatkan tiket gratis itu, karena sudah pernah saya tanyakan via email tapi tidak dijawab oleh mereka. ..hehe maunya serba gratis juga ya?

 

Secara pribadi, menonton pertunjukan Sie Jin Kwie di Negeri Sihir sungguh merupakan pengalaman menarik karena baru kali ini sih nonton yang namanya teater. Biasanya kan cuma nonton film di bioskop-bioskop seperti Studio 21, itupun jarang sekali saya nonton film Indonesia. Tapi entah mengapa nekad aja waktu itu bela-belain nonton pertunjukan ini. Mungkin gara-gara ulasannya yang menarik di harian Kompas dan juga dorongan dari beberapa teman seniman yang bilang, rugi lho kalau kamu ada di Jakarta ngga nonton pertunjukan ini.

Tidak menyangka lho kalau menonton teater itu ternyata dua kali lebih lama waktunya dibandingkan menonton film. Jadi, kalau mulai nontonnya jam 19.30 paling-paling jam 21.30 sudah selesai. Eh ternyata tidak saudara-saudara. Pergelaran ini selesai pukul 12.00 tengah malam. Sekitar empat jam lebih pertunjukannya, sehingga dibagi menjadi dua babak. Ada sesi rehatnya segala, lucu ya?

Sinopsisnya ceritanya mengenai lika-liku kisah cinta Sie Teng San putra dari Sie Jin Kwie dari kekaisaran Tang, dengan Hwan Li Hoa, pahlawan pemberani, putri seorang jendral negeri See Liang, yang adalah musuh dari kekaisaran Tang. Ketika dua negara sedang berperang, perang hati dan batin juga melanda kedua insan, ada banyak tragedi terjadi, juga kelucuan-kelucuan yang dimunculkan. Seperti pertunjukan teater pada umumnya, seni pertunjukan adalah the stage of life, of love, banyak syair dan lagu-lagu cinta yang dilantunkan. Hanya pertunjukan kali ini berakhir happy ending. Saya mungkin terlalu terobsesi dengan karya-karya drama Shakespeare yang penuh tragedi ya? Jadi agak kecewa sedikit mendapatkan akhir yang bahagia ini.

tarian-tariannya memukau

Untuk babak pertama lumayan bisa menikmati dan merasa terbawa dan tersihir dengan lakon-lakon yang diperankan. Namun di babak kedua, saya merasa agak loose disini, mungkin karena intrik-intriknya sudah mulai bisa terbaca dan penonton mulai lelah menonton? Entahlah sepertinya begitu sih. Mungkin sebaiknya di babak kedua ini intens dan katastrofi-nya dibuat lebih tajam lagi sehingga penonton tidak bosan atau hilang fokus.

Menariknya dalam pertunjukan produksi ke 126 Teater Koma ini, pertunjukannya memperlihatkan keistimewaan dalam menampilkan wayang dan batik. Untuk wayang sendiri digunakan perbauran antara wayang tavip, wayang kulit cina-jawa yang sudah jarang dilakonkan, wayang gendong, wayang potehi, wayang beber, wayang wong, juga opera Cina. Disain batik yang digunakan adalah disain batik macan putih dan tiga naga. Hebat kan?

2 malaikat yg lucu memikat

Meskipun agak sedikit terpatah-patah dalam mencerna nama-nama tokoh yang semuanya memakai nama Cina karena kurang familiar, tapi penulis cukup terhibur dan setidaknya mampu mencerna 95% kalimat-kalimat yang diucapkan para pemain, karena dari tempat penulis yang bukan di tribun sepertinya suara-suara pemain sudah agak kurang jelas. Dalam hal tata music dan pencahayaan saya acungkan jempol, juga dekorasi set nya, keren punya deh. Saya merasa tidak rugi telah menonton pertunjukan sebuah teater yang telah berumur 35 tahun, setidaknya pengalaman dan keprofesionalitasan dalam membuat pertunjukan teater bagi masyarakat pecinta teater bukan hal yang sulit.

happy ending, full chinese culture

Selamat ulang tahun ya Teater Koma, dan selamat juga telah sukses menyelenggarakan pementasan selama sebulan penuh Sie Jin Kwie di negeri Sihir. Setidaknya teater ini telah memberikan sedikit pengetahuan seni dan budaya bagi masyarakat pecinta seni.

Selamat Hari Teater juga untuk teater-teater yang ada di Indonesia karena tanggal 27 Maret kemarin merupakan Hari Teater Sedunia. Semoga lebih banyak lagi orang-orang Indonesia yang akan tertarik dan datang menonton pertunjukan teater di Indonesia dan turut serta dalam mendukung kegiatan budaya di tanah air.

 

Salam Budaya @bumi tadulako 1 April 2012