anak berdemo?

Ramainya demonstrasi menentang kenaikan BBM ataupun demonstrasi menentang hal-hal lain di negeri ini membuat semua lapisan masyarakat merasa terpanggil untuk berpartisipasi bagi kemaslahatan negeri dan menentang rezim yang ada. Setiap hari kita disuguhi berita tentang demonstrasi oleh mahasiswa, buruh, dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya. Setiap hari juga kita melihat demo-demo tersebut kemudian berakhir dengan kekisruhan alias menjadi ajang perang batu, bom molotov dan gas air mata serta segala macam senjata-senjata buatan sendiri dari masyarakat.

Berkali-kali saya melihat di televisi maupun dengan mata kepala sendiri di daerah saya, anak-anak (ada yang sepertinya masih balita) di ajak dan dibawa untuk berdemo (coba lihat gambar yang ada). Terakhir saya lihat demonstrasi di Medan, dimana banyak anak-anak tanggung dan mungkin yang masih SD ikut-ikutan demonstrasi dan juga ikut-ikut menyerang polisi dengan lemparan batu-batu. Duh , miris saya melihat kejadian itu.

duh masih ada yg ngedot pula😦

Malah ada pengurus lembaga anak di kota kami yang mengirimkan surat ke lembaga-lembaga anak lainnya untuk mengajak supaya anak-anak bisa ikut berpartisipasi dalam berdemo menentang kenaikan BBM. Alasannya adalah anak diberikan haknya untuk berpartisipasi mengeluarkan pendapat anak dalam hal politik yaitu kenaikan BBM yang akan berakibat pada mereka juga terutama dalam hal pendidikan. Oh please…yang bener aja nih. Saya sama sekali tidak melihat adanya korelasi antara partisipasi menyuarakan pendapatnya dalam hal kenaikan BBM dengan anak-anak yang diajak berdemonstrasi, apalagi anak balita dan SD. Mengerti apa mereka dengan isu politik di negara kita? Apakah kita berpikir anak-anak itu sudah punya pemikiran sematang orang dewasa? Jangan-jangan hanya karena supaya kuantitas massa kelihatan banyak jadi anak-anakpun terpaksa diajak juga berdemonstrasi? Atau mungkin untuk memperlihatkan betapa mengharukan dan menyedihkannya kehidupan masyarakat nantinya jika kenaikan BBM jadi dilaksanakan? Bullshit!

Saya sungguh-sungguh menentang orang-orang dewasa yang membawa-bawa anak-anak untuk berdemonstrasi. Mungkin hanya di Indonesia dan negara-negara yang sedang perang lainnya yang menggunakan anak seperti pasukan perang mereka (termasuk berdemonstrasi) . Tidak tahukah mereka, orang dewasa termasuk orang tua anak-anak itu, bahwa dengan anak-anak dibawa berdemonstrasi, selain membahayakan keselamatan jasmani mereka, juga psikis mereka.

Ya, bagaimana tidak, apalagi di Indonesia ini yang tahu sendiri model demonstrasi nya seperti apa? Anak-anak akan menyaksikan kekerasan tepat di depan mata mereka, saling melempar batu dan lain-lain, belum lagi kalau kena gas air mata atau bom atau senjata-senjata lainnya yang membahayakan hidup mereka. Tega apa ya orang-orang tua anak-anak ini yang melihat anak-anaknya membawa pamflet-pamflet dan atribut-atribut yang sama sekali tidak pas untuk anak seusia mereka. Belum kepanasannya, belum lagi keadaan psikis mereka nantinya yang pastinya akan membekas dalam hati mereka bahwa kekerasan itu rupanya mudah saja dilaksanakan dan jika kekerasan dibalas dengan kekerasan oh its okay. Generasi apa yang akan tumbuh jika sudah begini?

Banyak cara yang lebih baik dan elegan untuk memberikan kesempatan terhadap anak yang ingin menyalurkan aspirasi dan pendapatnya. Di dalam rumah kita misalnya, sudahkah kita memberikan ruang yang luas bagi anak-anak kita untuk memberikan pendapatnya bagi setiap keputusan keluarga yang diambil? Mendengarkan anak dengan sepenuh hati tentang kegiatan-kegiatan mereka hari ini, mendengarkan mereka bercerita dan mendengarkan ide dan keinginan mereka? Atau apakah di dalam kelas, di sekolah, guru-guru sudah mau mendengarkan keinginan anak, keluhan anak, pendapat anak akan mata pelajaran yang sedang dia pelajari? Masih banyak sekali kasus anak-anak di Indonesia terutama di sekolah-sekolah hanya menjadi obyek untuk mengajar dan jarang orang tua dan guru yang benar-benar punya wawasan demokrasi yang luas untuk benar-benar mau ‘mendengarkan’ suara anak. Ini malah mau dibawa berdemonstrasi. Demokrasi sesungguhnya diawali dari rumah kita sendiri, bukan begitu?

anak-anak yang diperalat, kemana ortu-nya?

Sesungguhnya dengan tujuan apapun, mengajak anak-anak untuk berdemonstrasi merupakan pelanggaran terhadap hak-hak anak terutama dalam hal perlindungan anak. Bukan tanggung jawab atau hak anak untuk ikut berdemonstrasi, orang dewasalah yang berpikir dan bertindak bagi mereka, memberikan yang terbaik bagi anak.Saya menentang demonstrasi dengan membawa-bawa anak sepenuh hati saya dan saya menganggap orang tua yang memberikan ijin anak-anaknya untuk diajak berdemonstrasi tidak punya hati nurani! Dengan alasan apapun!

Dan…yang dibutuhkan anak-anak kita adalah cinta dan kasih sayang, dari orang tua, teman, dan lingkungan dimana dia hidup.

Jadi, kalau mau demonstrasi lagi, jangan bawa anak-anak ya? Please….

 

Some of us believe in communism,
Some of us believe in capitalism,
Some of us believe in spiritualism,
Some of us believe in materialism
Some mothers believe in heavy dandy,
Some fathers believe in understanding.
Some of us believe in total freedom,
Some of us believe in laying the rules on.
But the children believe in friends,
For the children of the world,
Every boy and girl,
All they’ll know is what we teach ’em,
Most of us fail when we try to reach ’em
For the children believe in having friends
Donovan

 

@hammercity, 2 April 2012