Sebenarnya judul tulisan ini adalah tema diskusi antara saya dengan seorang Kompasianer senior beberapa waktu yang lalu via japri. Bukan apa-apa, beliau sedikit curhat kenapa sekarang sudah malas juga menulis di Kompasiana.

Pertama, karena banyak tulisan disini yang katanya kualitasnya menurun drastis. Saya tanya kenapa menurun menurutmu, bang? Dia bilang sekarang banyak sekali tulisan yang mengambil isinya dari artikel-artikel di newsblog lain dan kemudian mengganti dan menambah sedikit kata-katanya kemudian di posting di Kompasiana. Herannya lagi tulisan-tulisan itu bisa masuk HL. Tapi ah what a heck, bukan? Dari dulu juga masalah ini selalu timbul tenggelam. Dari jaman ke jaman. Akan menjadi masalah kalau ada yang complain. Selama aman-aman saja, negeri Kompasiana sih menerima dengan terbuka sepertinya.

Kedua, karena beliau agak kesal. Apa pasal? Menurutnya saat ini banyak penulis-penulis bermental kejam di Kompasiana. Wah…saya pikir tadinya apakah yang dia maksud isi tulisan yang kejam, brutal dan galak atau apa? Saya jadi merasa termasuk di dalam salah satu penulis yang dibilang galak itu hehe (ngaku.com.aja).

Lho kok bisa? Kenapa sih? Oooh ternyata menurut dia, penulis yang kejam bukan karena isi tulisannya tapi penulis yang bila ada pembaca tulisannya menaruh perhatian pada tulisannya dan dengan keseriusan yang sama dengan sang penulis pada saat menulis tulisan tersebut, dan kemudian pembaca memberikan komentar. Tentunya penulis komentar itu ingin mendapatkan atau berharap mendapatkan komentar balik dari si penulis, sehingga tercipta diskusi yang sehat. Penulis yang kejam adalah penulis yang seringkali mengabaikan komentar serius seperti itu dan merespon ala kadarnya. Malah tak jarang komentar serius pun tak di respon sama sekali. Sepertinya dia pernah mengalaminya, eh saya juga pernah sih sepertinya.

Bukan hanya penulis, komentator juga manusia (kayak judul lagu ya?) yang perlu di hargai sesuai bobot komentarnya. Komentar serius dan komentar yang asal-asalan hadir sebaiknya mendapatkan respon yang berbeda. Sama dengan penulis yang menghendaki apresiasi yang berbeda sesuai dengan bobotnya masing-masing.

Yah, ternyata penulis dan komentator mempunyai rasa dan keegoisan yang sama ya? Hehehe

Ini menjadi refleksi saya juga dalam menuliskan postingan-postingan di dunia maya termasuk Kompasiana. Apakah saya hanya akan egois dengan membiarkan teman-teman dan sahabat-sahabat saya putus asa menunggu komentarnya dikomentari ulang? Ataukah saya dengan mata hati mau membalas komentar-komentar yang masuk dengan tanpa melihat apakah itu pro atau kontra ataupun hanya bersifat menyindir? Dengan proporsi yang berbeda antara yang serius mengomentari, ataupun juga just wanna say hi

Dunia tulis menulis saat ini begitu mengasyikan ya dinamikanya, terutama di dunia maya. Saya pikir, teori Roland Barthes yang mengatakan “Pengarang telah Mati” pada saat orang membaca tulisannya sudah tidak berlaku lagi. Karena saat ini penulis itu hidup dan bisa langsung berinteraksi dengan para pembacanya melalui diskusi-diskusi yang hidup dan dinamis. Penulis mampu langsung mempertanggung jawabkan dan apa maksud tulisannya itu langsung pada para pembacanya, ngga pake lama deh seperti jaman dulu. Terima kasih pada kecanggihan teknologi saat ini sehingga memungkinkan interaksi langsung itu terjadi. Tinggal niatnya aja sih

Selamat dini hari Kompasianers yang budiman, baik hati dan tidak sombong,…nah, sudah kah anda menjadi penulis dan komentator yang kejam saat ini?

Mari kita renungkan.

 

am I?

First published in here😉

@hammer city, 27 Maret 2012