sebelumnya dipublished disini

 

Disini senyum
Disana senyum
Menebar senyuman maut
dan kata-kata bermuka dua
Disini bermanis-manis
meliuk liuk kata menawan
Disana mencaci habis
Melukai penuh darah amis


tanpa basa basi
aku mengucap
selamat datang
aku tak perlu sedu sedan itu kata Chairil Anwar
aku tak perlu sedu sedan palsu itu kataku pula
jangan jadi suam-suam kuku
jadilah panas atau dingin
atau kalau perlu berduel-duel lah
disini semua pejantan asli
meskipun dia betina


esa hilang dua terbilang kata siliwangi
tiga hilang empat datang membilang
namun biar kau Yudas
aku tetap penuh kasih padamu
karena hidup ini penuh kontradiksi
itu biasa bukan dalam revolusi?

 
@hammercity 2012

 

 

Puisi ini lahir karena perdebatan yang panjang dan meruncing dari 2 kubu group penyair (merasa ni yeee jadi penyair hehe) di facebook. Satu kubu pendukung teori konvensi puisi, satu lagi tentu saja yang berlawanan, tidak ada konvensi sastra, apalagi puisi… Dalam pada itu, banyak anggota 2 group ini menjadi anggota keduanya. Jadi, lucu sekali, ada yang disini dan disana saling bingung, ada yang mendua hati, ada juga yang disini mendukung, disana pura-pura mendukung atau sebaliknya…hehehe..manusia-manusia, jadi inget apa ya? Homo homini lupus…meaning “man is a wolf to [his fellow] man.” First attested in PlautusAsinaria (495, “lupus est homo homini“), the phrase is sometimes translated as “man is man’s wolf”, which can be interpreted to mean that man preys upon man. It is widely referenced when discussing the horrors of which humans are capable (wikipedia).

Well, welcome to the jungle of poetry cyber era.