a documentary film


Donkey in Lahore, sebuah film dokumenter romantis buatan Australia. Menceritakan mengenai perjalanan cinta seorang pria Australia bernama Bryan dan seorang wanita Pakistan bernama Amber. Perjalanan cinta mereka yang panjang dan penuh liku-liku akibat perbedaan budaya, negara dan cara pandang membuat film ini sangat menarik dan menjadi ajang belajar melihat keberbedaan dari sudut pandang yang lebih plural dan majemuk. Cinta tidak mengenal batas agama, kultur dan perspektif.

Nombaca bersama teman-teman muda penggiat sineas Palu memutar film ini dan mendiskusikannya pada Jumat malam 1 Juni yang lalu (pas dengan hari lahirnya Pancasila, ada hubungannya? Hmm…kita lihat saja nanti)

Peserta diskusi pada saat pemutaran tersebut ada 13 orang, terdiri dari Opa Ahsan, nona Pinta, Papa (mang Ucup) Al, oma Hilda, cucu Ade, dan para barisan sineas muda kota Palu lainnya seperti Pay Toeng, Ical, Ama, Faat, lela, Yudi dan Dewi (maaf ya kalau ada yang terlewatkan disebut namanya, nanti kasih tau aja)

Menarik diskusi yang berlangsung setelah pemutaran film ini. Papa Al menceritakan pengalamannya pada saat menikah dulu karena juga mempunyai cerita yang hampir mirip. Menikah dengan pasangan yang mempunyai kultur yang berbeda, ada penolakan dari keluarga, harus mengurus berkas kesana-kemari, tapi karena cinta (cieilee) akhirnya semua yang sulit dapat teratasi bersama.

Film ini dibuat pada tahun 2000, dimana pada saat itu tragedy penyerangan 11 September (Nine Eleven) baru terjadi dan terlihat juga betapa kuatnya keluarga Amber meminta Bryan untuk masuk agama mereka supaya bisa melamar Amber.

Juga terlihat kesulitan-kesulitan pada saat mengurus administrasi untuk membuat visa bagi Amber untuk pindah ke Australia. Bryan yang ngotot untuk  bolak balik datang ke Pakistan untuk bertemu dengan calon istrinya dan mengurus surat-surat Visa dan juga kesal karena merasa dipermainkan oleh saudara-saudaranya Amber mengenai kepindahan Amber.

Menurut Ancha, dalam sejarahnya, kota Lahore terkenal dengan keromantisannya. Ada cerita mengenai seorang raja yang menikahi seorang penari menjadi istrinya, kemudian keduanya di kubur hidup-hidup karena cinta mereka.

Opa Ahsan melihat bahwa kebudayaan di Lahore sangat ketat dengan budaya keislamannya. Ia mencontohkan adanya pembelajaran cross culture yang kuat dalam film ini. Salah satunya pada saat Bryan (namanya berubah menjadi Amir) mengatakan di Afrika meskipun berbudaya Islam tapi perempuannya memakai baju dengan payudara yang kelihatan, sedang di India, para wanitanya memakai baju yang memperlihatkan pusarnya. Lain lagi dengan budaya di Arab dimana para wanitanya memakai baju yang sangat tertutup rapat. Dari adegan ini bisa diambil kesimpulan bahwa dalam perbedaan kultur, berbeda juga perspektifnya, sehingga agak absurd jika ada sekumpulan orang-orang yang menyeragamkan kultur yang ada di bangsa ini. (Dalem juga opa…hehe)

Dilihat juga ada ketidaksiapan si perempuan dalam menjalani masa pernikahan dan kepindahannya ke tempat yang kulturnya sangat berbeda, terlebih lagi karena pengaruh keluarganya yang tidak setuju untuk dia pindah dengan suaminya. Dan yang tidak dilakukan oleh Bryan atau Amir adalah meyakinkan dan memberikan dorongan antusiasme kepada pasangannya sehingga ia bisa siap lahir batin. Selain itu yang menarik juga adalah cara komunikasi antara pria dan wanita yang berbeda. Contohnya pada saat Bryan merasa diserang di email-email dari Amber, padahal Amber hanya menanyakan keadaan dan progress yang sedang berlangsung.

Obrolan-obrolan di tetangga, tanggapan tetangga dan orang-orang di lingkungan mereka sangat mempengaruhi keluarga Amber dan akhirnya Amber sendiri sampai-sampai dia menjadi sakit dan sering pingsan. Stigma sering dipicu juga oleh berita, gosip dan hal-hal politik di dalam dan luar lingkungan atau malah Negara kita..

Hal-hal di luar isi film sendiri bisa dilihat tentang bagaimana sponsor dari film ini sangat baik hati (mengingat lamanya pembuatan film ini), ini dimungkinkan karena hasil presentasi riset yang memukau atau sutradaranya mempunyai latar belakang yang baik. Hal lain yang bisa mempengaruhi donor mungkin adalah tema yang diangkat, ‘for the sake of peace education’ mungkin film iin dibuat untuk mengurangi stigma antar agama dan pandangan cross-culture yang ada.

Menurut Papa (Mang Ucup) Al, jika kita membuat riset film dengan isu yang menarik, maka dengan sendirinya funding pasti akan datang. Sebenarnya teman-teman sineas di Palu sudah bisa memulai membuat riset-riset film pendek. Dicontohkan seperti di film documenter Negeri di Bawah Kabut, tanpa melupakan masalah yang ada dalam kehidupan subjeknya sang sutradara dapat menyalurkan energy positif dalam film tersebut (pencapaian yang baik dengan angle yang sangat beda dari biasanya). Istilah dalam kepenulisan ada yang disebut ‘creative writing’ nah, dalam film mungkin dapat dicari alternatif-alternatif visual lainnya yang belum pernah dibuat di film lain.

Papa (mang Ucup) Al, juga masih penasaran bagaimana sutradara mengarahkan film ini, karena dalam film dokumenter sebenarnya tidak terlalu bermasalah dengan directing meskipun ada batas-batasnya.

Film ini dibuat selama lima tahun (bayangkan….?) 2 tahun sebelum memulai film ini si sutradara sudah mengenal Bryan terlebih dahulu.

Selain sisi teknis film, Ade Nu juga merasakan sekali film ini mengangkat emosi penonton melalui karakter Bryan (Amir), sehingga pada saat adegan Amber ingin kembali pulang ke Lahore, penonton seolah-olah menyalahkan dia dan merasa kasihan kepada Bryan. Sutradara berhasil membawa penonton merasakan penderitaan Bryan disini. Mengapa? Menurut Ancha karena sutradaranya jujur. Menurutnya sebuah film yang terjadi karena sutradara jujur dengan riset-riset untuk filmnya.

Menurut Iva Ifansyah dalam film Setengah Sendok Teh, dalam film ini dia merasa sangat tidak jujur, banyak intervensi. Adanya kamera di satu tempat dan disadari oleh subjek subjek itupun sudah menjadi intervensi karena adanya kamera bisa jadi memicu sesuatu.

Untuk gambar-gambar yang diambil, editing transisi posisinya cantik, porsinya kena pada saat mengambil keadaan Negara Australia yang kontras dengan Pakistan yang masih menjadi Negara berkembang. Juga untuk musiknya, di Australia menggunakan music Ghotic, sedangkan pada saat di Pakistan lebih ke musik etnis negaranya.

Donkey in Lahore, apa hubungannya Donkey dengan film ini? Ternyata, yang menjadi link dalam film ini adalah boneka yang dibuat oleh Bryan (Amir), yang tadinya adalah seorang puppeter atau pembawa cerita anak-anak dengan boneka. Ia membuat boneka lucu berwujud keledai dan rencananya ia akan membuat acara bonekanya sendiri di Lahore dengan judul Donkey in Lahore. Namun karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, akhirnya hal itu urung di wujudkan. Akhir dari boneka tersebut ia berikan ke museum boneka di Lahore. Kenapa boneka penting dalam film ini? Adalah karena Bryan dan Amber pertama kali bertemu dalam pementasan drama boneka Bryan.

Perbedaan film dokumenter Donkey in Lahore dengan film Negeri di Bawah Kabut dalam hal interview pada subjek-subjeknya. Di sini banyak sekali dialog-dialog yang terjadi dan pertanyaan-pertanyaan reflektif tentang perasaan (emosi) yang dirasa oleh subjek-subjeknya,  sedangkan di Negeri di bawah Kabut, tidak ada porsi wawancara sama sekali. Bahasa-bahasanya dilakukan lewat gambar-gambar saja.

Demikian sekelumit kegiatan pemutaran film Donkey in Lahore dan geregetnya para penonton dalam mendiskusikan film ini. Semoga ke depan Bioskop Jumat Malam-Nombaca bisa menjadi acuan pembelajaran tentang dunia film documenter, film pendek dan seputar pembuatan film yang menarik di kota tercinta kita.

Salam Nombaca

 

httpv://www.youtube.com/watch?v=4VWr5jAC1OU&feature=colike