Image

Lucunya negeri ini, bukan saja dalam hal politik, ekonomi,agama dan hal-hal lainnya kita sering berseteru dan bermusuhan, dalam hal SASTRA pun kita tidak tinggal diam untuk ikut-ikutan berpolemik.

Menentukan Hari Sastra (entah juga kenapa harus ada hari Sastra? nanti mungkin lama-lama ada hari Tari, hari Film dan hari-hari lainnya menggantikan hari Senin, Selasa dan seterusnya (hahaha..)

Polemik muncul pada saat Taufik Ismail dkk memaklumatkan hari Sastra Indonesia pada tgl 3 Juli mengacu kepada tanggal lahir sastrawan Abdul Moeis dari Bukit Tinggi pada tgl 24 Maret 2013. Sayangnya, yang tahu tentang Abdul Moeis dan karya-karyanya mungkin hanya orang-orang Sumatra dan Minang khususnya. Tanyakan saja pada orang-orang sekeliling anda yang berumur 40 tahun ke bawah, kenalkah mereka pada Abdoel Moeis dan karya-karyanya?-intermezo…

Kemudian tidak lama berselang perlawanan menentang Hari Sastra Indonesia tanggal 3 Juli datang dari Solo, sastrawan yang tergabung di Sastrawan Independen Boemipoetra menolak HSI berdasarkan tanggal lahir Abdoel Moeis dan mendeklarasikan Hari Sastra Indonesia pada tanggaln 6 Februari berdasarkan tanggal lahir sastrawan besar Indonesia lainnya Pramoedya Ananta Toer. Tentu saja menurut saya pribadi, Pram lebih dikenal dari Abdoel Moeis, karya-karyanya sendiri sangat fenomenal dan anti kolonialisme.

Lalu hari mana yang kita akan pilih sebagai Hari Sastra Indonesia?

Seandainya saja para sastrawan dan semua yang menyukai Sastra di negeri ini mau merenung sejenak dan merefleksikan apa itu Sastra, pasti kita akan mengaminkan apa yang dikatakan oleh pemenang Nobel Sastra Dunia tahun 2000 lalu Gao Xin Jian pada saat ia memenangkan Nobel Sastra tersebut:

….“Yang disebut penulis tak lain hanya seseorang yang berucap atau menulis dan apakah akan didengar atau dibaca adalah urusan orang lain untuk memilih. Penulis bukanlah pahlawan yang bertindak saat diminta oleh orang-orang, ia juga tidak patut dipuja layaknya bintang, dan pastilah ia bukan seorang penjahat atau musuh orang-orang. Ia kadang menjadi korban bersama dengan tulisannya, secara sederhananya, oleh sebab kebutuhan-kebutuhan orang lain. Ketika penguasa harus menciptakan beberapa musuh untuk mengalihkan perhatian, penulis menjadi korban dan lebih parahnya, penulis yang tertipu akan berpikir bahwa pengorbanannya adalah penghormatan agung.”…

.……sastra itu hanya dapat menjadi suara individu dan selalu seperti itu. Tatkala sastra diusung sebagai himne suatu bangsa, bendera suatu ras, musik suatu partai politik atau suara suatu kelas atau kelompok, sastra berubah menjadi alat propaganda yang perkasa. Bagaimanapun, sastra seperti itu kehilangan jiwa sastrawinya, berhenti sebagai sastra dan menjadi pengganti kuasa dan laba…..

Menurut saya, pantas saja sastra kita tidak maju-maju dan terjebak dalam kondisi stagnan seperti ini karena sastra kita selalu dibawa dan dimasukkan kedalam kepentingan-kepentingan kelompok kelompok ini. Sampai kapan kita harus menunggu para tetua-tetua ini sadar bahwa sastra itu adalah SUARA INDIVIDU…bukan suara ideologi, bukan suara kelompok, apalagi kelompok yang mencari untung dari adanya Hari Sastra itu.

Untuk saya sendiri, saya tidak akan mengakui adanya Hari Sastra dari kelompok manapun, dan jika Abdul Moeis dan Pram masih hidup di jaman ini, mereka pasti marah besar, karena mereka tidak akan pernah setuju hari lahir mereka menjadi korban polemik Hari Sastra yang tidak jelas juntrungannya itu.

Salam Kebebasan Sastra!