Image
Aku yang narsis dengan leluhurku

Kembali mengingat nostalgia bertahun-tahun silam. Sewaktu masih aktif menjadi anggota Mahasiswa Pencinta Alam (MPA) di kampus. Merasa diri paling cinta sama alam karena aktivitas kita mendaki gunung, mengarungi lautan (memangnya Captain Haddock haha) dan menjelajah gua-gua. Ah, itu hanya khayalanku belaka. Yang dilakukan asli paling banter adalah mendaki gunung dan ke pantai, tidak pernah ke gua karena masih takut sama kelelawar🙂

Saya suka merenung sendiri, anggaplah merefleksikan selain untuk diri saya sendiri, juga kepada kita-kita ini yang katanya suka sekali berpetualang dan mencintai alam serta mengatakan pada diri kita sendiri bahwa kita Pencinta Alam.

Tentu saja saya mendukung kegiatan ini luar biasa, apalagi untuk anak muda, generasi muda ini patut digalakkan, hanya kadang mungkin kita harus kembali bertanya pada diri kita masing-masing benarkah kita pada saat mendaki gunung, mengeksplorasi hutan, gua, pantai dan lain-lainnya itu gunanya untuk mencintai alam kita? Atau kembali hanya karena untuk menunjukan kenarsisan kita pada orang lain betapa hebat dan gagahnya kita sebagai seorang “Pencinta Alam”, “Pelestari Hutan”, “Penyayang Binatang”?? dan kemudian kita akan pergi ke pelosok-pelosok alam yang kita cintai itu beramai-ramai dengan teman-teman kita, diatas haha hihi main gitar, buat api unggun….(mencintai alam?), buka tenda, foto bareng kian kemari, petik-petik tanaman untuk oleh-oleh…😀 Tak lupa setelah turun, kita pasti mengupload foto-foto kita yang gagah berani dan manis-manis ini di media sosial dan blog kita😀

Saya merasa saat ini aktivitas mencintai alam kita sudah tidak murni lagi, selain sudah banyak dijadikan obyek bisnis (hiks..sedih deh waktu ngeliat foto orang mendaki gunung udah kayak mau rekreasi ke pantai, penuh banget!) juga refleksi untuk kegiatan ini semakin memudar. Bukan ingin membandingkan sih, tapi yang saya tahu teman-teman saya pencinta alam yg dulu itu orangnya rata-rata introvert, tidak suka bergaul dan penyendiri (hahaha…mungkin temannya hanya mahluk-mahluk alam itu) dan mereka lebih banyak memang mengatakan cintanya pada alam dengan perbuatan, bukan dengan bicara.

Entahlah ya, untuk saya secara pribadi, sesuatu yang sudah bersifat massal dan bisa dilakukan oleh semua orang bukan lagi hal yang menantang dan ‘mahal’.

Untuk saya dunia mencintai alam itu dunia yang ‘mahal’, bukan karena biaya peralatan ataupun biaya bayar ikut rombongan rekreasi ke gunung A gunung B, tapi ‘mahal’ karena pengalaman dalam mendapatkan moment-moment berharga di puncak gunung, di dalam gua menikmati nyanyian kelelawar dan megahnya stalaktit dan stalakmit, di tepi pantai saat mentari baru muncul di ufuk timur. Mahal, karena disana, kita akan berbicara dengan Sang Maha, bersyukur mampu menikmati alam ciptaanNya ini dan berjanji denganNya bahwa kita akan benar-benar mencintai alamnya dengan sepenuh hati dan jiwa kita. Cinta yang murni, personal dan hanya untuk kita dan alam kita.

Cinta seorang Pencinta Alam pada alamnya adalah Cinta yang ‘MAHAL’.

23 Juni 2013 di Bumi Tadulako, di panasnya terik mentari katulistiwa😉