the_girl_in_the_rain_by_best10photos
the girl in the rain

Ayo, cepetan dunk jalannya, udah mulai hujan nih… Begitu kata temanku cepat-cepat sambil membuka payungnya dan mengajakku lebih cepat berlari untuk menghindari hujan besar. Akupun dengan tenang, mengikuti langkah terbirit-birit di belakangnya, sambil aku katakan, “tapi aku suka hujan, aku suka berjalan di semilir hujan rintik-rintik yang menerpa wajahku” rajukku padanya. Dan dia hanya menggeleng-geleng kepala tertawa. Susah deh ngomong sama penyair, begitu katanya.

Tapi sebenarnya dan sejujur-jujurnya aku memang suka hujan. Aku suka hujan yang rintik-rintik. Hujan yang sedang-sedang, maupun hujan yang lebat sekali. Kalau diingat-ingat, banyak sekali pengalamanku yang indah, lucu dan menggembirakan dengan sang hujan. Dan baru kusadari saat ini, bahwa hujan sering sekali menemaniku dalam masa-masa sepi hidupku.

rain drops
rain drops

Dimasa kecil dulu, aku sering sekali terkagum-kagum melihat hujan deras yang mengalir membasahi tanah, membasahi genteng-genteng rumah tetanggaku, membasahi sawah dan membasahi orang-orang yang berlari-lari di jalan karena menghindarinya. Aku senang memperhatikan bulatan-bulatan hujan yang mencapai tanah. Dia akan membentuk formasi riak seperti bulatan-bulatan atau bunga-bunga yang indah dipandang, ah, menakjubkan untuk seorang anak berumur 5 tahun melihat pertunjukan hujan ini. Belum lagi irama hujan ini seperti orkes simfoni yang mampu membuaiku tertidur lelap dalam rengkuhan iramanya.

Seumuran anak SD, akupun semakin senang pada hujan, namun juga sedih. Aku sedih karena aku tidak bisa bermain-main hujan bersama teman-temanku sebaya karena orang tua melarang bermain hujan. Dari jendela rumah kami, aku hanya bisa melihat dengan penuh iri hati pada teman-temanku yang kadang dengan telanjang beria-ria berlari bermain hujan di lapangan sambil bermain bola ataupun bermain kejar-kejaran, dan aku? Aku terkurung dalam rumah tanpa bisa bermain karena tubuhku yang rentan sakit.

Pada saat SMA, tubuhku sudah mulai kebal dengan hujan (mamaku bilang, kamu kalau kehujanan pulang ke rumah dan cepat-cepat mandi serta kepala harus dicuci bersih-bersih, dijamin tidak sakit). Nah, berbekal petuah mama, aku jadi lebih sering hujan-hujanan dan tidak takut demam mendera. Aku sering sengaja pulang pada saat hujan lagi deras-derasnya atau berjalan pelan-pelan bersama teman-teman yang sering juga kesal padaku karena aku ‘bandel’ kalau diajak lari pada saat hujan tidak mau ikut.

Aku senang sekali berjalan dalam hujan rintik-rintik. Wajahku diterpa oleh gemericik hujan yang seperti jari-jari kecil memijit wajahku pyaaar….dan basah kulit wajahku olehnya. Oh senangnya. Menyenangkan sekali merasakan sensasi air yang dicurahkan pelan-pelan pada wajahmu, rasanya nyaman sekali.

my lovely rain
my lovely rain

Aku ingat, pada semester pertama perkuliahan, aku pernah bersama teman-teman perempuan di asrama dulu, masuk ke dalam gorong-gorong got yang baru dibangun di depan asrama kami dan kami bermain-main hujan ditempat itu dengan gembira. Mungkin orang-orang yang lewat melihat kami seperti orang gila, bisa berdiskusi dibawah derasnya hujan dan tertawa-tawa senang serta menari-nari dibawah hujan. Sayangnya, hanya sekali itu kami diijinkan bermain hujan dibawah gorong-gorong got baru, besoknya kami ditegur dan dilarang melakukan kegilaan seperti itu lagi. Tidak pantas katanya, apalagi sudah mahasiswa hahaha….

Lama berselang, mungkin dua tahun lalu. Aku punya pengalaman menarik dengan temanku di Yogya. Tahun Baru seharusnya dirayakan dengan makanan-makanan enak dan kehangatan di dalam rumah. Tapi aku dan dia terdampar di kota Yogya, pada tanggal 1 Januari di bawah hujan deras sepanjang jalan Malioboro.

Sepertinya saat itu hujan sangat senang menggoda dan bermain-main dengan kami. Aku dan temanku jalan pelan-pelan sejak hujan masih rintik-rintik untuk mencari taksi pulang ke rumah…eh tidak tahunya sulit sekali mendapatkan taksi jika sedang tahun baruan ya? Jadi dengan semakin derasnya hujan, semakin sulit juga mendapatkan taksi, aku sih senang dan bahagia saja berhujan-hujan ria disini, tapi temanku mana tahan…dia luar biasa stress dengan hujan lebat yang mendera ini. Akhirnya kita berlari-lari berteduh, dari pohon ke pohon, tetap juga tidak mempan karena pohonpun basah kuyup diguyur hujan lebat sore itu. Seperti film India ya, kalau melihat kita lari dari pohon ke pohon tapi bukan untuk menari dan menyanyi, tapi menghindari hujan deras. Tapi, si hujan rupanya ingin bermain-main, sehingga tetap saja semakin lama bukannya semakin reda, tapi semakin deras hujan dan basah kuyuplah kita berdua.

Untuk menambah penderitaan kita, ditengah-tengah hujan datanglah becak, kami kira si mas becak menjadi dewa penyelamat, namun ternyata si mas melihat kesempatan ini untuk menaikkan 300% fee-nya demi menyelamatkan kita berdua. Dan dengan kesal kami terpaksa juga naik becak termahal yang selama ini kami naiki. Setelah itu, kami kembali kesasar, apa daya terpaksa berteduh di emperan toko. Tidak berapa lama kemudian memang nasib sedang berjenaka dengan kami rupanya, datanglah orang gila (melihat pakaian dan tatapan matanya yang menusuk kalbu sih…) ikut berteduh dengan kami. Aku sebenarnya tidak takut, tapi temanku ketakutan setengah mati, akhirnya kami lari lagi…mencari tempat aman dari orang gila dan hujan…setelah sampai di emperan toko lain…eh temanku mencubit pinggangku dengan ketakutan dan bilang, Hil…itu orang gila lain, wah aku sebenarnya sudah kesal, lalu aku bilang,

“kamu gimana sih…tidak semua orang jadi gila sekarang ini, jangan terlalu paranoid dunk..”

“tapi dia memang orang gila”

“ah, itu hanya perasaanmu saja, kataku kesal

“tidak, saya kenal dia, saya kan pernah kuliah disini, orang gila itu memang terkenal disini…”

Hampir aku bilang padanya, jangan-jangan kamu ini dulu Ketua Persatuan Orang Gila kota Yogya ya? Kok kamu kenal banget dengan orang-orang gila yang ada disini? Tapi karena dia sudah menarik-narik tanganku, terpaksa kami berlari-lari lagi disepanjang jalan yang sampai sekarang aku tidak tahu namanya. Kedinginan, lapar dan kelelahan karena berlari-lari menjadikan kami pasrah terhadap nasib. Eh, tidak tahunya lewatlah taksi yang selama seharian ini kami impikan, lalu kamipun menyetopnya. Dengan senang tak terkira kami melihat taksi ini mau berhenti dengan anggunnya di depan kami dan menunggu kami menaikinya. Waaah…serasa berasa di surga di dalam taksi ini.

Namun, lama-lama kami merasa sangat kedinginan dalam taksi karena sudah basah kuyup, AC pol abis dipasang oleh supir taksinya. Lalu kami meminta pak supir untuk mengurangi suhu AC nya supaya tidak terlalu dingin. Apa nyana si supir taksi bilang…maaf mbak-mbak, ini ACnya sudah doll, jadi ngga bisa dikecilin. Kalau mau, ya dimatikan, tapi kan diluar hujan deras, entar basah taksinya, jadi tetap harus dinyalakan nih ACnya…dan kita berdua ternganga menatap si sopir taksi dengan takjubnya…Setelah itu kita berdua tertawa terbahak-bahak di dalam taksi dengan menggigil kedinginan. Menikmati hari itu, kami benar-benar tidak memahami candaan alam pada kita berdua, tapi kami menikmati tahun baru itu dengan cara berbeda. Bersama hujan, bersama angin, bersama orang gila…menggigil kedinginan di dalam taksi yang full AC, ah!

Pengalaman yang paling akhir bersama hujan, adalah beberapa bulan lalu pada saat aku berpetualang di tanah eksotis, Manggarai. Disana, pada saat aku mendaki bukit untuk melihat spiderweb-rice field, hujan mulai turun. Tukang ojekku sudah gelisah dan memintaku cepat-cepat turun supaya tidak didahului hujan. Sayangnya, keinginan itu rupanya tidak bisa dituruti alam. Dan, kitapun terjebak hujan, selain itu motor yang dibawanya pun ban nya kempes sehingga kita harus mencari bengkel tambal ban untuk mengganti ban. Kembali kami kesasar di kota kecil yang sebenarnya juga dia tidak terlalu kenal selain hanya untuk mengantar turis-turis bolak balik penginapan-rice field.

Akhirnya, saking sudah olengnya motor kita, terpaksa aku harus turun dan berjalan pelan-pelan di tengah rinai hujan yang semakin lama semakin deras. Sementara disana, di kejauhan…dia menatapku dengan ketakutan aku akan marah karena kehujanan. Padahal, diam-diam, aku sedang menikmati hujan dan angin kota ini, kota kecil di satu kabupaten yang tidak semua orang di dunia ini bisa datang kepadanya. Untuk melihat Lingko Cara itu (halah! Lebay kali ya? Hehehe). Setelah dia yakin aku tidak memarahinya, dia menawarkan aku untuk berteduh sampai hujan berhenti baru kembali ke kota Ruteng, tapi aku menolaknya dan memaksa kita harus pulang saat itu juga biarpun hujan masih lebat. Dia pun terheran-heran, namun aku menenangkannya dengan mengatakan bahwa aku pecinta hujan dan tidak keberatan sama sekali menembus derasnya hujan untuk kembali ke penginapanku.

big rain
big rain

Nah, saat-saat indah dan gembira, juga lucu sudah kurasakan bersama hujan. Ternyata, dia selalu setia menyertaiku pada saat-saat musim hujan (ya iyalah, masa di musim kemarau hehehe). Meskipun banyak orang benci padanya, terutama saat ini karena banyak banjir terjadi dimana-mana (padahal itu sebenarnya bukan salahnya hujan kan…) aku tetap menyayanginya. Tetap mencintai dan merindukannya, terutama pada saat ia mendekapku dalam rintik-rintik lembutnya, dan memainkan musik syahdu pengantar tidurku.

Dan malam ini, pada saat kularut menuliskan pengalamanku bersamanya, aku menyanjungnya dalam kata-kata:

Hujan,

kusayang dan kukenang engkau

Dalam setiap butiran butiran kecil, sedang dan deras

Dalam gumaman angin yang risau mendesau

Yang mengalir di setiap pori-pori wajahku

Yang mengelus lembut wajah dan tubuhku

Dan meninabobokanku dengan simfonimu

Dawai damai ada bersamamu,

Kusuka kamu

************************************************************************

Selamat tidur bersama hujan-mu.

 

I love falling asleep to the sound of rain
I love falling asleep to the sound of rain

 

 

Kota Flobamora Kupang, 13 January 2014

12:22 PM