child protection
child protection

Sering sekali kita mendengar berita di Koran, internet maupun televisi tentang kasus kekerasan, perlakuan salah, eksploitasi dan penelantaran pada anak. Kasus yang paling mencuat di tahun ini adalah kasus di JIS (Jakarta International School (kejahatan seksual anak TK), Emon (sodomi anak) dan Samuel (panti asuhan). Pada pertengahan bulan Juni 2014, Direktur Komnas Perlindungan Anak,  Arist Merdeka Sirait, dalam suatu workshop bertema Pelayanan Terpadu untuk Penanganan Kekerasan terhadap Anak di Kupang-NTT, memaparkan data kasus kekerasan yang dihimpun oleh Komnas Perlindungan Anak sampai bulan April 2014 di Indonesia sebagai berikut:

Tahun 2010     :  2.046  Kasus

42 %  :  Kejahatan Seksual

T ahun 2011    :  2.426  Kasus

58 %  :  Kejahatan Seksual

Tahun 2012     :  2.637  Kasus

62 %  :  Kejahatan Seksual

Tahun 2013     :  3.339  Kasus

52 % :  Kejahatan Seksual

Tahun 2014 (Jan-April)             : 600 kasus (876 korban)

137 Kasus :  Pelaku Anak

82 % korban  dari keluarga menengah bawah

10 dari Kejahatan Seksual, 6 diantaranya INCEST!

Dan dari lingkungan mana saja para predator terutama untuk kejahatan seksual yang memangsa anak itu berasal? Lingkungan rumah (Ayah/Bapa kandung/tiri, Abang/kakak, paman, Tukang kebun, Sopir Jemputan dan Kerabat Dekat Keluarga), lingkungan sekolah  (Guru Reguler, Guru Spiritual, Penjaga Sekolah, Keamanan Sekolah, penjaga sekolah, Tukang Kebun dan pengelola sekolah), lingkungan sosial (Tetangga, Pedagang Keliling, Teman sebaya) dan lingkungan panti (Pengelola panti, pengasuh, sesama anak asuhan Panti)

Yang paling banyak terjadi saat ini adalah kasus kejahatan seksual terhadap anak, yang sebarannya meluas dapat terjadi di desa dan di kota. Sebaran Kasus Kejahatan Seksual terhadap anak masif (terjadi di desa dan kota), Lingkungan terdekat anak, Rumah, Sekolah, dan Lingkungan Sosial Anak Seperti Panti Asuhan maupun Sekolah Berasrama, contohnya seperti yang disebutkan diatas, JIS, Emon dan Samuel. Kasus-kasus ini merupakan fenomena gunung es!

Saat ini, tidak ada lagi tempat aman bagi anak-anak kita. Dulu dianggap tempat paling aman untuk anak, yaitu keluarga, saat ini tidak lagi. Semua orang dan orang yang paling dekat dengan anak, dapat menjadi predator anak.

Tidak ada tempat yang aman bagi anak? Bukankah kebanyakan kasus-kasus terutama kekerasan/kejahatan seksual, orang-orang terdekatlah yang menjadi pelakunya. Bisa jadi dia ayah tiri, ayah kandung, paman, bibi, tetangga, guru, kepala sekolah, guru ngaji, pendeta, dan banyak lainnya. Siapa kemudian yang dapat melindungi anak-anak kita ini?

Mengapa hal ini bisa sampai terjadi di negara kita dan berlarut-larut pula? Ada beberapa sebab antara lain:

  • Penegakan hukum kejahatan seksual terhadap anak belum menunjukkan keberpihakan terhadap anak sebagai korban. Aparat penegak hukum masih mengunakan kaca mata kuda dalam menangani perkara kejahatan dan kekerasan seksual terhadap anak. Putusan Hakim dalam perkara kejahatan seksual masih belum mencerminkan rasa keadilan bagi korban.
  • Fakta menunjukkan bahwa masih banyak hakim memutuskan BEBAS bagi para pelaku kejahatan seksual terhadap yang dilakukan orang dewasa, contohnya seperti yang terjadi di Pengadilan Labuhan Batu, Pengadilan Negeri Medan dan Pengadilan Negeri Tapanuli Utara,dengan alasan tidak cukup bukti,  sementara UU RI. No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak mensyaratkan hukuman bagi pelaku kejahatan seksual minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun. Namun justru masih banyak hakim memutuskan perkara tidak maksimal dan tidak berkeadilan bagi korban.
  • Merajalelanya pengaruh tontonan pornogarfi dan porno-aksi yang mudah diakses masyarakat. Pornografi dan porno aksi telah menjadi adiksi  dan penyakit yang harus disembuhkan bagi pelanggannya.
  • Runtuhnya ketahanan keluarga atas nilai-nilai agama, sosial, etika moral serta degradasi nilai solidaritas antar sesama,
  • Pengaruh gaya hidup yang tidak diimbangi dengan kemampuan
  • Budaya Permisif
  • Sikap Feodal (di ujung Rotan ada Emas)

Kemudian, bagaimana kita dapat mengatasi permasalahan yang kompleks ini?

Sampai saat ini yang semestinya kita lakukan bersama adalah memperkuat lingkungan yang melindungi anak dengan cara membangun sistem perlindungan anak berbasis masyarakat dengan 4 komponen:

  1. Membangun kesadaran di lingkungan masyarakat, jika masyarakat (di desa maupun di kota) mengerti pentingnya perlindungan anak di lingkungan mereka, dan mampu memahami persoalan perlindungan anak dan berdapaya untuk melakukan tindakan untuk mencegah dan menangani.
  2. Membangun mekanisme pelaporan, rujukan dan penanganan di tingkat masyarakat terbawah (tingkat RT/RW, dusun) sehingga anak dan keluarga mengetahui bagaimana mendapatkan pertolongan pada saat anak mengalami kekerasan/kejahatan.
  3. Mendukung keluarga-keluarga rentan, melihat data yang dipaparkan diatas, banyak kasus kekerasan terhadap anak (82%) dari kalangan menengah kebawah. Yang artinya kita perlu memberikan intervensi dini khususnya bagi keluarga dan anak-anak rentan ini sehingga mereka berdaya dan mampu melindungi anak-anak mereka.
  4. Membangun keterampilan hidup anak, dalam hal ini memberdayakan anak –anak dan remaja dalam hal meningkatkan pengetahuan dan kemampuan untuk dapat melindungi diri mereka dan kemudian mereka dapat juga melindungi teman-temannya.

Jika kita mampu membangun dan memperkuat lingkungan kita untuk melindungi anak-anak kita, kita dapat meminimalisir kekerasan, perlakuan salah, eksploitasi serta penelantaran terhadap anak di sekitar kita. Strategi dan proses membangun sistem perlindungan anak berbasis masyarakat seperti yang dipaparkan diatas tidak dapat dilakukan sendiri atau satu pihak saja, melainkan harus melibatkan seluruh elemen masyarakat, menjadi satu komitmen bersama, komitmen bangsa untuk menyelematkan anak-anak kita.

Lingkungan layak anak, dimulai dari rumah kita sendiri. Mari kita menentang kejahatan terhadap anak Indonesia. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Dari Bumi Nusa Cendana, Kupang

menjelang petang

diposting pertama kali disini

love our children
love our children