Selalu dan selalu, saya kemudian menghela nafas. Membayangkan si cantik Engeline (Angeline) yang dipukul Ibu angkatnya setiap hari. Sejak bayi dia sudah dipisahkan dari orang tuanya karena sistem kesehatan kita yang tidak pro rakyat. Kemudian dilanjutkan dengan hidupnya yang masih belia harus selalu memberi makan ayam-ayam di pekarangan. Mending kalau ayamnya cuma 3-4 ekor, ini puluhan….bahkan katanya sampai 50an ayam… Belum lagi, dia sering dikurangi atau bahkan sama sekali tidak diberi makan jika tidak bekerja dengan baik. Dan akhirnya dia harus meninggal dengan tragis di tangan orang-orang yang harusnya mengasihi dan melindunginya.

Yah, saya katakan selalu…karena kita selalu melakukan hal yang sama, tidak peduli pada anak-anak kita. Dan setelah terjadi kasus besar seperti ini, baru kemudian ramai-ramai mencaci, marah dan semua sibuk bicara tentang kematian tragis si anak malang ini.

Saya berkenalan dengan isu kekerasan pada anak sejak tahun 2007. Pada saat itu, di Poso terjadi kasus sodomi terhadap 16 anak oleh seorang tukang roti. 16 anak tersebut umurnya dari 3 sampai 12 tahun. Ada anak laki-laki maupun perempuan. Pada masa itu, kasus ini lumayan besar untuk skala kabupaten seperti Poso dan menarik perhatian banyak kalangan dari media, pemerintah, LSM dan lain-lain. Dan mengurus kasus tersebut membutuhkan usaha dan emosi yang tidak main-main karena banyak pihak terlibat dan banyak pihak juga ingin memancing di air keruh. Saya ingat saya itu berat badan saya sampai turun karena mengurus kasus ini sampai ke pengadilan dan sampai adanya hukuman yang setimpal kepada si pelaku. Dulu belum ada P2TP2A tapi kerjasama antara elemen masyarakat seperti Kepolisian, Pengadilan, Puskesmas, Sekolah, Gereja dan Pemerintah Kecamatan serta LSM cukup terjalin baik untuk menangani kasus ini. Setelah terjadi kasus ini, kemudian kami memulai untuk penyadaran terhadap masyarakat melalui sosialisasi, pelatihan perlindngan anak dan pembentukan posko-posko perlindungan anak di 50an desa di daerah Poso yang melibatkan mitra seperti guru, tokoh agama, tokoh masyarakat, kepolisian dan pemerintah. Tidak lama kemudian kita membentuk Forum Perlindungan Anak di tingkat Kabupaten. Ah, saya tidak tahu saat ini perkembangan disana seperti apa. Semoga apa yang kami pernah tabur disana masih berjalan sampai saat ini.

Namun, setelah 8 tahun kejadian tersebut. Saya masih melihat kondisi kita masih sama dan tidak bergerak dalam penanganan kasus kekerasan terhadap anak. Masih banyak hal yang perlu diperbaiki disana sini termasuk peran masyarakat dalam mengawasi lingkungannya. Salah satu hal yang perlu ditingkatkan adalah kesadaran masyarakat jika melihat anak yang diperlakukan tidak sewajarnya oleh orang tua atau orang yang memelihara mereka. Seringkali kita merasa sungkan dan tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Kita merasa nanti salah jika kita menegur atau melaporkan kejadian tersebut. Padalah di dalam UUPA (Undang Undang Perlindungan Anak) no. 35 tahun 2014 (Revisi dari UUPA no. 23 thn 2002) di Pasal 72 ayat 3 (C) yang menyatakan: Peran Masyarakat dalam penyelenggaran Perlindungan Anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara: melaporkan kepada pihak berwenang jika terjadi pelanggaran Hak Anak; dan di Pasal 76B: Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan, melibatkan, menyuruh melibatkan Anak dalam situasi perlakuan salah dan penelantaran; Pasal 76C: Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan Kekerasan terhadap Anak.

Dalam kasus Engeline, masyarakat entah itu guru-guru di sekolah Engeline, tetangga-tetangga maupun pembantu-pembantu yang sebelumnya ada di rumahnya yang melihat perlakuan-perlakuan kasar dan keras pada anak namun tetap membiarkan kekerasan itu terjadi, bersalah juga. Diam berarti membiarkan, membiarkan berarti anak tidak ada yang menolong keluar dari masalahnya yang luar biasa besarnya. Sampai dia meninggal.

Jika saja masyarakat sadar, bahwa kejahatan pada anak bisa terjadi setiap saat, dimana saja dan kapan saja dan kita sebagai warga negara sadar dengan kewajiban kita untuk melindungi anak kita sendiri maupun anak-anak di lingkungan kita, seyogyanya hal ini akan meminimalisir kejahatan terhadap anak-anak yang dilakukan oleh orang-orang yang ingin merusak anak-anak kita.

Semoga tidak ada Arie Hanggara dan Engeline lain yang berjatuhan sebagai korban.

stop kekerasan